EXO Academy (Part 2) , The Hatred of Water Controller- Suho

Gambar

Cast : All member EXO, but this one is a prologue for Suho part

Hening  mengisi ruangan berukuran sangat besar itu, ditambah dengan rak-rak buku berwarna coklat kayu yang tertata sangat rapi. Mungkin buku-buku yang ada disana sudah dikoleksi dari sejak jaman dahulu kala karena  rak tempat menyimpannya sangat banyak. Bau khas buku-buku yang sudah lama tidak terjamah pun tercium dengan jelas di dekat tempat ia duduk sekarang. Sudah beberapa jam ia berkutat dengan buku kimia setebal novel Harry Potter itu, tapi sepertinya ia tidak bosan sama sekali walaupun beberapa kali keningnya mengernyit karena kebingungan.

Pulpennya menari-nari diatas catatan harian yang selalu ia bawa kemana-mana. Rumus-rumus kimia rumit sudah memenuhi catatan itu. Ia membalik lagi halamannya, lalu mulai menuliskan rumus lagi sambil memperhatikan buku tebal didepannya. Jika dilihat dari wajah dan penampilan, sepertinya orang ini sangat bersahaja. Penampilannya sederhana, tapi terkesan elegan. Wajahnya? Tampan.

“Suho!” seru seseorang dari belakang, mengagetkannya yang sedang berkonsentrasi penuh. Spontan kepalanya berpaling kepada orang yang memanggilnya.

“Hmm?” tanyanya memalingkan wajah dari orang itu, ia kembali pada buku di depannya.

“Belajar lagi?”

Suho mengangguk, tanpa melihat pada orang itu.

Ia pun duduk disamping Suho, memperhatikan buku catatan yang sedang ditulisi oleh pemuda itu.

“Ada apa, Luhan?” Suho membuka pembicaraan lagi.

“Aku heran, kenapa kau selalu belajar padahal otakmu itu sudah encer. Bukankah semester lalu nilaimu A semua?”

Suho tidak langsung menjawab, ia masih sibuk dengan rumus-rumus didepannya.  Beberapa saat kemudian, ia menutup buku itu dan meregangkan tubuhnya yang dari tadi terasa sangat lelah.

“Sekarang aku sudah berhenti, kan?” jawabnya tersenyum.

Luhan menghela nafas panjang. “ Bahkan kau lebih muda setahun dariku, tapi tingkat kita sama. Bukankah itu cukup untuk membuktikan kalau kau itu jenius? Lalu untuk apa kau bekerja keras seperti ini. Tanpa belajar pun kau pasti bisa jadi yang terbaik lagi semester ini..” Luhan memandang sekeliling ruangan, berharap suaranya tidak menganggu pengunjung perpustakaan yang lain.

“Tapi kau lebih baik Luhan, pertukaran pelajar antara China dengan Korea menurutku jauh lebih membanggakan..”

“Hmmm, tetap saja nilaiku tidak lebih baik darimu, kan?”

“Itu hanya karena masalah bahasa yang digunakan. Kau pasti sulit mengerti bahasa korea, hanya itu kendalanya..”

“Sudahlah, aku tidak ingin mendengar pembelaanmu. Sampai lupa waktu seperti ini, bukankah itu sama saja dengan menyiksa diri sendiri?”

Suho diam sejenak sambil memandang nanar pada sahabatnya itu.

“Aku hanya tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari ayah…” ucapnya lirih, seketika raut wajahnya berubah sedih. Sepertinya ada suatu hal yang menjadi alasan kuat baginya untuk terus belajar, walaupun itu artinya sama saja dengan menyakiti diri sendiri.

Luhan lagi-lagi menghela nafas panjang. Ini sudah kesekian kalinya ia memberikan nasehat pada Suho, tapi tetap saja tidak digubris. Apapun kata-kata yang ia lontarkan, tidak melekat sedikitpun di kepala anak itu.

******

Mobil mewah berwarna silver mengkilat itu berhenti ditepi jalan. Seseorang keluar sambil membungkuk,

“Terima kasih sudah mengantarku..” kata Luhan tersenyum pada Suho yang berada di dalam mobil.

“Jangan formal begitu, aku jadi merasa aneh tau..” jawab Suho memonyongkan bibirnya. Ia sangat tahu, Luhan adalah orang yang jahil dan sering mengerjainya, sehingga ia jarang sekali mendengar Luhan berkata seformal itu padanya.

“ Haha, yasudah. Hati-hati dijalan. Kalau ada yang menganggumu, aku pasti akan datang menyelamatkanmu . Saat itu, kau harus memanggilku hyung!”

Suho tersenyum geli. “Walaupun kau menyogokku dengan apapun, aku tidak akan pernah memanggilmu hyung..” Suho segera menutup pintu, meninggalkan Luhan yang belum menyelesaikan kalimatnya.

“Cih, dasar!” umpat Luhan sambil menendang pasir didepannya. “Kapan anak itu mau mendengarkan perkataanku..”

Lalu ia pun masuk ke dalam rumah kontrakkannya.

Sementara itu, Suho yang duduk di belakang sopirnya tertidur dengan pulas. Ia merasa sangat lelah, setelah belajar seharian diruang perpustakaan untuk menghadapi ujian semester ini.

“Tuan muda, kita sudah sampai..” kata sopir itu setelah memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah yang  sangat besar . Halaman itu ditanami berbagai macam pohon kecil dan bunga-bunga segar di sepanjang jalannya. Tampak begitu sejuk dan asri.

Suho terbangun setelah dipanggil beberapa kali oleh sopirnya. Ia memandang ke luar mobil, lalu melihat rumahnya sudah di depan mata. Ia pun mengambil tas di samping tempat duduk, lalu keluar.

Ia berjalan menuju rumah megah yang berdiri kokoh di pusat kota itu. Rumah ini bisa dikatakan rumah paling mewah di daerah tempat tinggalnya. Alamat rumah ini pun berada di kompleks orang-orang kelebihan uang (?) Warna catnya yang putih ditambah corak-corak emas ditepi tiangnya membuat rumah ini seakan seperti istana zaman dahulu kala. Bisa ditebak, Suho adalah anak orang kaya.

Ia berjalan perlahan menuju rumah itu. Ia melangkah, sangat lambat. Ada suatu beban yang ia rasakan setiap kali ia masuk ke rumahnya. Ia memandang sekeliling, tidak ada mobil ayahnya.

Ia masuk setelah beberapa orang pembantu rumah membuka pintu. Ia membungkuk tanda terima kasih. Walaupun ia adalah tuan muda, tetap saja ia menghormati orang yang lebih tua darinya. Manner-nya patut diacungi jempol. Kaya raya sekalipun, tidak membuatnya sombong.

Baru beberapa langkah, seseorang turun dari tangga sambil memandangnya sinis.

“Darimana saja kau?” tanya orang paruh baya itu.

Suho terkesiap. Ia yakin sekali tadi mobil ayahnya tidak ada di depan, lalu kenapa tiba-tiba dia ada di rumah sekarang.

“A-aku belajar, yah..” ia menjawab dengan gagap. Keringat dingin sudah mulai muncul dipelipisnya. Setiap kali berhadapan dengan ayahnya, selalu saja seperti ini.

Sang ayah menatap lekat-lekat pada anaknya.

“Tadi siang aku ke kampusmu, tapi mereka bilang kau tidak ada…”  kata-kata penuh curiga dan penekanan dari ayahnya itu membuat nyali Suho makin ciut. Ia tidak berani memandang ayahnya, hanya menunduk.

“Aku belajar di perpustakaan, yah..”

Ayahnya diam sejenak, lalu berkata seperti mengancam.

“Nilaimu semester ini harus lebih baik lagi. Sudah cukup kau mengecewakanku dengan nilai semester lalu.”

Seperti ada pukulan keras di hatinya saat itu, sangat sakit ia rasakan. Berkali-kali ayahnya berkata kalau ia kecewa dengan hasil prestasi Suho, padahal selama ini ia sudah bekerja sangat keras. Lupa waktu makan dan istirahat bukan lagi hal yang jarang untuknya demi membanggakan ayahnya. Ia sudah melupakan semua hiburan untuk dirinya, keluar rumah sekadar untuk menyegarkan pikiran pun tidak pernah ia lakukan bersama teman-temannya.  Bahkan nilainya semester lalu adalah nilai terbaik di universitas itu. Hanya saja..

“Cobalah seperti kakakmu. Dia selalu mendapatkan nilai sempurna. Seharusnya kau bisa sepertinya…”

Sekali lagi, Suho hanya bisa menunduk mendengar perkataan ayahnya. Ia mengepalkan tinjunya erat-erat, berusaha menahan emosi yang sudah diambang batas. Ia menggemertakkan giginya, menggigit bibirnya sekuat mungkin supaya pertahanannya tidak runtuh. Ayahnya berlalu dari hadapannya tanpa memandang anak itu sedikitpun. Muka dinginnya benar-benar menakutkan.

“Ayah, bukankah kakak sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kenapa masih saja membandingkannya denganku?” suara Suho bergetar seperti menahan tangis, membuat langkah ayahnya terhenti. Namun sang ayah tidak menoleh sama sekali.

“Jaga mulutmu, anak muda.” ucapnya pedas. Suara tegas penuh tekanan itu menyiratkan kemarahan.

“Maaf yah..”

******

Malam ini ia kembali melanjutkan acara belajarnya. Padahal tadi sudah seharian ia berkutat dengan rumus-rumus rumit dan sekarang ia melakukannya lagi. Sepotong roti dan segelas susu sudah ada didekat meja belajarnya yang barusan dibawakan oleh bibi pembantu. Bibi itu bahkan lebih dekat dengannya dibanding ayahnya sendiri, setelah kematian sang ibu saat ia lahir. Hal itu diperburuk lagi oleh kematian sang kakak beberapa tahun yang lalu karena kanker otak. Ayahnya semakin menjauh, lebih memilih menyibukkan diri di perusahaannya.

Pembicaraan tadi sore adalah pembicaraan yang cukup panjang antara dia dengan ayahnya. Mereka tidak pernah makan bersama, karena ayahnya selalu berangkat sangat pagi dan pulang larut malam. Setiap kali ada kesempatan berbicara, Suho merasa ada dinding pembatas yang sangat kuat antara dia dan ayahnya sehingga ia lebih memilih diam dikamar. Ia benar-benar merasa sendiri di rumah besar itu.

Beberapa kali ia mencoba berkonsentrasi, tapi kata-kata ayahnya tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Baru kali ini dia mengeluarkan pendapat, namun langsung dibantah oleh ayahnya. Ia hanya tidak ingin dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Sang kakak yang semasa hidupnya selalu membuat ayahnya bangga. Selalu mendapat nilai sempurna dari awal ia masuk sekolah sampai universitas, ikut berbagai macam olimpiade ke luar negeri, dipuji dan disukai oleh banyak orang. Tentu saja ayahnya bangga punya anak emas seperti itu. Lalu bagaimana dengannya? Ia selalu dinomor duakan. Apapun yang dimintanya, tidak lebih bagus dibanding yang dipunya kakaknya.

Pernah suatu ketika Suho mendapatkan juara pertama lomba debat se-SMA, hal itu didapatkannya dengan susah payah karena ia harus belajar ekstra keras, berbeda dengan kakaknya yang memang jenius dari awal. Ini ia lakukan hanya untuk menarik perhatian sang ayah yang selalu mengacuhkannya. Tapi apa yang didapatkannya? Sang ayah hanya berkata, ‘Kakakmu saja bisa jauh lebih baik dari ini. Berusahalah lebih keras.’

Rasa pedih itu kembali muncul. Kenapa ayahnya tidak pernah menghargai semua usaha yang sudah ia lakukan. Kenapa selalu saja kakaknya yang dibangga-banggakan. Ia memang jenius, baik, dan juga sopan, tapi bukan berarti Suho tidak punya kelebihan dibanding kakaknya. Bagaimapun ia lebih pintar berbicara di depan umum, ia lebih lihai menjebak para lawannya saat lomba debat. Namun ayahnya tidak pernah mengakui hal itu…

Setelah kakaknya meninggal, sang ayah seakan kehilangan semua hal yang bisa dibanggakannya. Dia mulai menuntut Suho untuk berusaha lebih keras, agar bisa menyamai kakaknya. Ia mulai dikekang, dikontrol dari kejauhan oleh ayah. Fasilitas memang sudah diberikan sepenuhnya pada Suho, namun ia tidak boleh melakukan kegiatan selain belajar. Ayahnya ingin ia seperti kakaknya…

Suho mengacak-acak rambutnya sampai berantakan. Semua pikiran yang menganggu membuat kepalanya pusing. Dilihatnya jam dinding, sudah menunjukkan pukul 21.20,  baru beberapa halaman buku yang dipelajarinya. Ia menghela nafas panjang.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ada pesan masuk. Ia pun membukanya,

From : Luhan

‘Oi bocah, malam ini kau sibuk tidak? Mumpung besok libur, ayo jalan-jalan.’

Luhan sudah sering mengajaknya keluar seperti itu, tapi selalu ditolaknya. Namun kali ini ia berpikir, apa salahnya mencoba menghibur diri sekali saja, toh ayahnya sudah pergi lagi ke tempat kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia sudah siap dengan jaket dan sarung tangan. Ia keluar kamar dan memanggil bibi pembantu,

“Bibi, aku keluar sebentar dengan teman..” katanya sambil memasang sepatu.

Bibi itu tercengang, tidak biasanya sang tuan muda keluar malam-malam begini.

“Kalau ayah tuan muda tau bagaimana?” ucapnya gagap, khawatir Suho akan dimarahi lagi oleh ayah berhati dingin itu.

Suho menggeleng, “Tidak akan bi. Ayah mungkin tidak akan pulang malam ini..” lalu ia pun beranjak keluar rumah. Ia memilih berjalan kaki, tidak mau melibatkan orang-orang dirumah.

Ia mengirim pesan balasan pada Luhan,

“ Kita ketemu di mall Shensuu.”

Beberapa saat kemudian Luhan membalas lagi

“wohoooo, ada angin apa sehingga kau mau menerima ajakanku? Yasudah, aku siap-siap dulu.”

Suho berdesis kesal, “Dasar, ternyata dia belum siap-siap.” Suho menutup ponselnya dan memasukkan ke dalam kantong bajunya. Ia pun berjalan perlahan menyusuri jalanan yang dingin itu.

Baru beberapa meter ia berjalan, ia merasa ada kejanggalan. Jalanan dipenuhi salju, padahal musim dingin sudah terlewati sebulan yang lalu. Keanehan ini membuat Suho berhenti sebentar. Ia memperhatikan sekeliling, tidak ada orang satu pun disana. Lampu-lampu jalanan tertutup salju, bahkan terlihat jejak-jejak es di tiangnya. Suasana di jalanan itu semakin dingin, membuat Suho mengatupkan tangannya ke dalam saku jaket.

Ia terus berjalan, berharap ada orang yang menyadari keanehan itu. Satu kilometer, belum ada orang yang terlihat.

‘apa yang terjadi sebenarnya?’ gumamnya dalam hati.

Pemuda itu melanjutkan perjalanannya dengan berbagai pikiran aneh. Belum cukup masalah dengan ayahnya, masalah keanehan cuaca ini juga membuat kepalanya berpikir lebih keras. Bagaimana mungkin ada salju di bulan maret? Mungkin ini karena pengaruh global warming yang sangat parah, sehingga cuaca menjadi tidak menentu. Itu pikiran pertama yang muncul dalam benaknya, sebagai jawaban sementara untuk semua pertanyaan itu.

Sesampainya di depan mall Senshuu, ia melihat garis-garis kuning melingkari mall itu. Jelas saja, itu garis polisi. Ia memandang ke sekeliling mall, bentuknya sudah tidak karuan karena ada banyak bercak hitam seperti terbakar di dinding mall mewah itu. Banyak polisi yang sedang beroperasi di dalam mall itu, ia bisa melihat lewat dinding yang terbuat dari kaca disana. Beberapa polisi memeriksa setiap sudut yang ada di mall itu.

‘Apa lagi ini?’ gumamnya. Ia sama sekali tidak tahu berita tentang mall senshuu. Ketika seorang pejalan kaki melintas, Suho langsung mencegatnya.

“Maaf, apa anda tahu ada apa dengan mall ini?” tanyanya sangat sopan.

Orang yang ditanya menghentikan langkahnya, ia memperhatikan Suho lalu menjawab, “Hmmm, mall ini terbakar beberapa hari yang lalu..”

“Terbakar?” ia terkejut. Bagaimana mungkin mall sebesar ini bisa terbakar separah itu.

Orang itu mengangguk, “ Iya, tapi penyebabnya belum diketahui..”

Suho mengernyitkan keningnya kebingungan. “Oh begitu, terima kasih..” katanya sambil membungkuk, disertai anggukan pejalan kaki itu. Dia pun berlalu dari hadapan Suho.

Pemuda itu kembali melihat ke arah mall. Ia bahkan tidak tahu kejadian disekitar, padahal mall senshuu tidak terlalu jauh dari rumahnya. Beberapa saat kemudian, seseorang menepuk pundak Suho sambil berteriak.

“Hei, sudah lama?” tanya Luhan, lalu memalingkan wajah memperhatikan mall di depannya.

Suho menggeleng, “Baru saja.”

“Aku baru tahu mall ini terbakar beberapa hari yang lalu, aku yakin kau juga baru tau kan?” Luhan tersenyum mengejek.

“Ya, padahal mall ini hanya beberapa kilometer dari rumah…”

“Kata orang disamping kamarku, untungnya tidak ada korban jiwa. Pemadam kebakaran otomatis di ruangan langsung aktif begitu mendeteksi ada api. Walaupun barang-barang disana habis karena hangus terbakar….”

“Penyebabnya?”

“Belum tau. Beberapa waktu setelah kebakaran, seorang saksi mata mengatakan api itu berasal dari seseorang. Polisi sudah menangkap dan memeriksanya, bahkan sudah menyisir semua tempat yang diduga sebagai tempat membuang bukti, tapi nihil. Tidak ada satupun bukti yang ditemukan. Akhirnya orang itu dilepaskan karena dianggap tidak bersalah..”

“Hmmm, karena itu polisi masih berada disini untuk mencari tahu penyebab kebakaran?”

Luhan mengangguk, “ Iya. Pemilik mall pasti mengalami kerugian yang sangat besar. Bagaimana pun ia pasti ingin tau penyebab kebakaran. Setidaknya untuk menghilangkan penasarannya. Hahaha..”

“Luhan, kau tahu? Pemilik mall ini adalah ayahku..” Suho berkata datar tanpa menoleh sedikitpun pada orang disampingnya.

“Apa?! Ayahmu? T-tapi bagaimana..”

“Dia tidak akan membicarakan apapun denganku selain mengancam dan menekanku untuk belajar.”

“Maaf, aku tadi hanya bercanda..” Luhan menyesal sudah mengejek pemilik mall yang tidak lain adalah ayah temannya sendiri. Tentu saja ia tidak tahu, karena Suho memang tidak pernah menceritakan proyek apa saja yang dimiliki oleh ayahnya, dia bukan orang sombong yang suka pamer.

Suho tidak segera menjawab. Ia menghela nafas, kembali mengatupkan tangannya ke saku jaket karena cuaca semakin dingin.

“ Ini pelajaran untuknya..”

“Hah?” Luhan menganga tidak percaya.

“ Aku sangat membencinya, Luhan. Bahkan ini belum cukup untuk membalas semua yang sudah ia perbuat terhadapku..” suara Suho tiba-tiba berubah, penuh dengan emosi.

Luhan terdiam mendengar Suho berkata sekasar itu. Selama ia mengenal Suho, ia tidak pernah mendengar Suho berbicara yang jelek-jelek tentang orang lain. Walaupun dia sering dibully teman kampusnya karena nilainya yang selalu berada paling atas.

“Sedang apa kau disini?” tiba-tiba suara yang sangat dikenal oleh Suho mengejutkannya dari belakang. Suho terkesiap. Spontan ia menoleh ke belakang.

“Ayah?!” katanya gagap.

Sang ayah yang entah sejak kapan berada dibelakangnya tiba-tiba saja memotong pembicaraan mereka. Suho yakin ayahnya tadi mendengar semua yang ia katakan.

“Keluyuran dengan temanmu ini?” ayah Suho melirik Luhan dengan pandangan penuh curiga, lalu berganti memandang Suho dengan sinis. “Membuang-buang waktu seperti ini. Bukankah aku bilang kau harus lebih baik lagi di ujian semester nanti?”

“Aku hanya ingin menghibur diri sebentar ayah..”

“Apakah dulu kakakmu pernah keluyuran malam-malam seperti ini? Mahasiswa macam apa kalian, menghabiskan waktu dengan bermain. ” suara ayah Suho mulai meninggi. Tersirat kemarahan di wajahnya saat itu. Ia makin menakutkan.

Sekali lagi, Suho merasakan pedih di ulu hatinya. Ia mengepalkan tinjunya yang sekarang berada di dalam jaket sambil terus menunduk. Luhan yang merasa bersalah karena mengajak Suho keluar langsung meminta maaf,

“Maaf paman, tadi saya yang mengajak Suho keluar. Sekali lagi saya minta maaf..” Luhan segera membungkuk. Ia tidak tahan melihat Suho dimarahi karena ajakannya tadi.

“ Tidak usah minta maaf, Luhan. Kau justru lebih mengerti keinginanku dibanding ayahku sendiri..” gumam Suho dengan suara bergetar. Emosinya sudah meluap-luap. Ia tidak bisa menahannya lagi.

Ayah Suho membelalakkan matanya tidak percaya, ia tidak menyangka Suho akan seberani itu melawannya.

“Sejak kapan kau belajar berbicara kurang ajar seperti itu?” ayahnya mulai geram, suasana terasa makin panas saat itu.

“Sejak ayah selalu membanding-bandingkanku dengan kakak. Ayah tidak pernah menghargai apapun usaha yang aku lakukan. Kapan aku pernah membantah perkataan ayah? Tidak pernah. Aku selalu menuruti perintahmu, aku berhenti mengejar kesenanganku sendiri demi menjadi kebanggaanmu. Tapi apa? Bahkan sekarang ayah menyuruhku menyamai kakak. Tentu saja tidak akan bisa, karena aku bukan dia ! Ayah harus menerimanya, dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu!” emosi Suho meledak-ledak tidak karuan. Suaranya sudah serak menahan tangis. Baru kali ini ia meninggikan suara saat berbicara dengan orang lain. Luhan pun terkejut mendengar perkataan temannya yang  terkenal lembut itu.

Brukkk

Sebuah pukulan mendarat di pipi Suho. Pemuda itu langsung sempoyongan, kepalanya serasa bergetar, pipinya ngilu setelah menerima pukulan yang cukup kuat itu. Luhan yang ada disampingnya menangkap tubuh Suho yang hampir jatuh. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.

“Cih!” Suho tertawa sinis sambil meludah, ia mencoba berdiri dengan susah payah. Keseimbangannya masih belum stabil hingga ia terpeleset lagi. Untung Luhan dengan sigap memegangi lengannya.

Ayah Suho menatap nanar pada anaknya. Tangan yang digunakannya untuk memukul Suho tadi diusapnya perlahan.

“Aku benci padamu. SANGAT MEMBENCIMU!” pekik Suho seketika. Ia tertawa tidak karuan seperti orang kehilangan akal. Para polisi yang ada disana pun melihat kejadian itu, mereka tercengang.

Syuuuuttt………..

Entah datang dari mana, suara gemuruh bergema tiba-tiba. Semakin lama semakin mendekat. Spontan semua orang disana heran, berusaha mencari asal suara gemuruh itu. Suho tidak mengindahkan, pikirannya masih kacau setelah bertengkar dengan ayahnya. Sementara itu, Luhan mengedarkan pandangannya sekeliling, khawatir terjadi sesuatu.

Ayah Suho diam tak berkutik. Ada sepercik rasa menyesal yang menyelubungi hatinya saat itu. Diperhatikannya tangan bekas ia memukul anaknya itu. Tangan itu sudah memecahkan pembuluh darah di sudut bibir Suho.

“Aku hanya ingin diakui.. hanya itu ayah…” Suara Suho makin tidak jelas, pertahanannya seketika runtuh. Air hangat mulai jatuh dari matanya. Hatinya panas sekali, rasanya ingin meledak saat itu juga.

Bersamaan dengan itu, secepat kilat pusaran air sudah menyelubungi mereka. Air itu membentuk lingkaran, membuat Suho dan dua orang lainnya terjebak di tengah pusaran air. Air itu berputar seperti angin topan, sangat cepat. Semua benda yang dilalui air itu dibawa olehnya, membuatnya berputar-putar mengikuti arah pusaran. Tempat air itu berputar menjadi basah kuyup, batang-batang pohon yang tumbuh disekitarnya bergerak-gerak tidak karuan. Gaya tarik pusaran itu besar sekali. Bahkan Suho, Luhan, dan ayahnya terhuyung-huyung menahan kaki mereka agar tidak terbawa arus air itu.

“Ada apa ini?” Luhan berteriak kaget saat pusaran itu mengelilingi mereka. Matanya membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia masih memegang tangan Suho, menopangnya agar tidak jatuh. Ayah Suho mengedarkan pandangannya, memperhatikan fenomena aneh di depannya.

Beberapa detik kemudian..

Bruuukk….

Suho jatuh, ia tak sadarkan diri…

********

Entah sudah berapa lama ia tertidur, yang jelas dikamarnya sudah menunjukkan pukul 2.00 am. Ia melihat sekeliling, secangkir susu dan roti yang dibuatkan bibi pembantu saat ia belajar tadi masih disana. Ia duduk.

“Aargghh..” keluhnya, langsung menyentuh pipi yang terasa ngilu. Ia baru ingat, pipinya dipukul sang ayah beberapa waktu lalu. Badannya terasa sangat lelah, ia tiba-tiba kehilangan tenaga. Sekali lagi dia ingat sesuatu, pusaran air misterius itu.

Suho berjalan keluar kamar, berusaha mencari tahu apa yang sudah terjadi setelah ia jatuh pingsan. Didepan pintu ia dicegat oleh bibi pembantu yang akan masuk ke kamarnya membawa susu hangat yang baru.

“Tuan muda sudah bangun?” tanyanya girang, ia tersenyum lembut.

Suho membalas senyuman itu, lalu mengangguk. “Oh iya, bibi tadi melihat temanku tidak?”

“Yang mukanya seperti perempuan itu tuan?” bibi pembantu memutar matanya ke atas seperti sedang mengingat sesuatu.

Suho tersenyum geli. “Iya bi. Namanya Luhan. Dia dimana?”

“Sudah pulang tuan. Setelah mengantarkan tuan ke kamar, dia pamit..”

“Yasudah, aku mau ke bawah dulu bi..”

Suho berlalu dari hadapan bibi pembantu itu, ia berencana mencari tahu apa yang terjadi sebelum dia pingsan.

Saat ia sudah berada di lantai bawah, ia melihat ayahnya sedang berbincang-bincang dengan seseorang berseragam polisi berbadan yang tegap. Kepalanya masih pusing, sehingga agak sulit baginya melihat dengan jelas wajah polisi itu.

Suho mendekati mereka, disambut oleh pandangan curiga si polisi, sedangkan ayahnya hanya menunduk seperti memikirkan sesuatu.

“Suho?” tanya polisi itu meyakinkan dirinya sendiri kalau orang didepannya adalah Suho.

“I-iya. Saya Suho..” pemuda itu mengangguk membenarkan.

“Aku harus berbicara denganmu. Ini sangat penting..” katanya serius. Raut wajahnya seperti orang penasaran. Namun masih datar. “Kau ingat kejadian di depan mall tadi?”

Suho terdiam sejenak, lalu menjawab. “Pusaran air itu pak?”

Sang polisi mengangguk.

“Sepertinya kau harus masuk akademi khusus, nak..” katanya tiba-tiba. Ia melipat tangan di dada, memandang ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka selain ayahnya.

“M-maksudnya? Aku tidak mengerti..” Suho mengernyitkan keningnya, matanya menyipit tanda tidak mengerti.

“Pusaran air itu terjadi karena ulahmu. Kau tau itu?”

“Ulahku? Mana mungkin. Jangan bercanda, pak..” Suho tersenyum tidak percaya. Bagaimanapun, ini diluar akal sehatnya. Ia merasa tidak melakukan apa-apa, lagipula itu mustahil dilakukan oleh manusia. “Mungkin saja itu karena cuaca yang tidak menentu akibat global warming atau apapun lah itu, yang jelas aku merasa tidak melakukan apapun..”

Suasana tiba-tiba menjadi hening. Sang polisi dan ayah Suho memandangnya lekat-lekat, membuat Suho jadi bingung dan salah tingkah.

“Hei, ada apa dengan kalian? Sadarlah. Tidak mungkin aku bisa melakukan hal itu, bukan?” Suho tetap membantah, ia sangat yakin karena ia memang tidak melakukan apapun, menurutnya.

“Banyak hal di dunia yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat, nak. Beberapa hal terjadi diluar logika, termasuk kejadian di depan mall tadi. Saat aku melihatnya, aku langsung menyadari kalau kau adalah salah satu dari orang-orang spesial itu, karena kau bisa mengendalikan air yang ada disekitarmu. Oleh karena itu, sebaiknya kau belajar di akademi khusus yang aku katakan tadi..”sang polisi menjelaskan dengan serius, dan kalimatnya penuh dengan penekanan agar Suho yakin dengan kata-katanya.

Ayah Suho hanya diam, tidak memberikan komentar apa-apa. Ia hanya menunduk.

“Cukup. Aku tidak mau lagi mendengarnya. Aku lelah..” Suho beranjak meninggalkan mereka berdua sambil memengangi kepalanya. Menurutnya, polisi itu sudah keterlaluan karena memberikan lelucon yang tidak masuk akal padanya disaat seperti ini.

Sebuah dinding kaca tiba-tiba saja sudah berada di depan Suho, membuat langkahnya terhenti.  Ia terkejut bukan main lalu menyentuh kaca itu, sambil terheran-heran.

“Itu buktinya kalau tidak semua hal bisa dicerna dengan logika..” sang polisi mengepalkan tangannya, membuat kaca yang tadi berada didepan Suho hilang seketika. Kali ini Suho lebih terkejut lagi. Ia berbalik, memandang heran pada polisi itu.

“Sekarang kau percaya dengan perkataanku kan?”  ucap polisi itu tersenyum penuh kemenangan.

“Tapi kenapa aku harus masuk akademi itu?”

Sang polisi menghela nafas panjang, “ Untuk membantu pengendalian dan pengembangan kekuatanmu. Aku adalah salah satu pengajar di akademi itu, mungkin kau akan bertemu denganku lagi disana sebagai pelatih.”

“Apakah itu harus?”

“Tentu saja. Jika kekuatanmu tidak dikendalikan dengan baik, bisa saja kau mencelakai orang lain, seperti kejadian tadi. Kau membuat benda-benda disekitarmu melayang dalam pusaran itu. Bayangkan saja jika yang masuk ke pusaran itu adalah manusia? Mereka bisa mati tenggelam..”

Suho terdiam lagi. Ia berpikir keras. Walaupun kata-kata polisi itu benar, tapi ia masih belum bisa menerima penjelasan itu. Ia bingung.

“Tapi kenapa baru sekarang? Aku sungguh tidak mengerti..”

“Kekuatan itu baru bisa bangkit jika segel di dalam tubuhmu sudah terbuka. Salah satu pembukanya adalah kebencian…”

******

EXO Academy Part 1, The Fire of Phoenix -Chanyeol

medium_YNRR9j

 

Cast : All member EXO, but this one is a prologue for Chanyeol part. 

Suara sirine mobil berbunyi bersamaan dengan lampunya yang berwarna merah keorange-nan. Semua orang dijalanan lantas memalingkan wajah mereka ke arah mobil polisi itu karena suara berisik yang dihasilkannya. Hujan deras yang sudah mengguyur kota sejak beberapa jam yang lalu seakan tidak bisa menghentikan gerakan para polisi untuk mengejar seseorang yang sudah mengakibatkan kekacauan di salah satu mall terbesar disana.

Jalanan tergenang air disana sini, payung-payung yang menutupi penglihatan para petugas keamanan masyarakat itu seperti jamur-jamur ditengah hujan. Seseorang berbadan tegap keluar dari salah satu mobil setelah memarkirnya di sebelah gedung yang sudah lama tidak dihuni. Diikuti oleh mobil-mobil lain yang berhenti setelah melihat komandan mereka menggerakkan tangan tanda berhenti. Sang komandan seakan tidak mempedulikan hujan yang membasahi tubuhnya, ia terus berjalan pelan, memandangi sekeliling.

Langkahnya yang pelan namun pasti menandakan polisi ini sudah berpengalaman mengintai musuh. Matanya yang tajam menyiratkan seseorang yang benar-benar cerdik dalam menjalankan misi yang diembannya.  Ia membuka pintu gudang perlahan, mengambil ancang-ancang khas seorang polisi saat akan membuka pintu, disamping kiri kanannya sudah bersiap dua orang polisi dengan pistol berwarna silver kehitaman di tangan mereka. Sang komandan menggerakkan tangan, membuat tanda untuk bersiap saat ia membuka pintu dan diikuti oleh anggukan anak buahnya.  Ia membuka pintu dengan kasar, sehingga pintu berderit keras. Sementara itu polisi yang lain menunggu di depan, bersiap siaga menunggu target mereka jika berhasil kabur dari tiga polisi yang maju tadi.

Mereka bertiga masuk, memperhatikan gudang itu sekeliling. Suasana mencekam mulai terasa karena tercium bau apek akibat kelembaban ruangan yang berlebihan. Jelas saja terasa lembab, karena jarang dibuka. Apalagi musim hujan seperti sekarang, tidak heran jika dinding-dinding gudang sudah dipenuhi oleh lumut hijau dan kecoklatan. Mereka terus berjalan menyusuri ruangan itu, berharap menemukan orang yang mereka cari. Baru beberapa langkah, mereka mendengar suara seperti plastik yang diinjak. Bulu kuduk sang komandan bergidik, namun ia tetap berusaha memberanikan diri memasuki ruangan itu lebih jauh. Bukan hanya sekali ia pernah merasakan suasana seperti ini, karena itu dia tidak gentar. Dia bahkan pernah melakukan misi berbahaya yang jauh lebih hebat dari ini.

“Lebih baik kau menyerahkan diri, nak!” teriaknya berusaha menakuti-nakuti lawannya. Ia berharap orang yang dikejarnya sekarang segera menyerahkan diri, karena ia tidak suka bertindak kasar.

Tiba-tiba terdengar suara orang berlari dari kejauhan, mengagetkan para polisi itu. Lantas saja mereka berlari menuju arah sumber suara. Pistol yang dari tadi diarahkannya ke depan diletakkannya ke dalam sarang di pinggangnya, tindakan ini lebih mempermudah pengejaran, pikir sang komandan.

Mereka terus berlari menyurusi gudang gelap itu, dan akhirnya menemukan sesosok tubuh yang terduduk sambil meringis kesakitan. Ia memegangi kakinya, terlihat cairan kental berwarna merah mengalir ke lantai gudang tempat ia duduk. Walaupun posisinya membelakangi polisi, tapi tetap saja dia menyadari kedatangan mereka sehingga ia pun berusaha berdiri agar tidak tertangkap oleh mereka.

“Berhenti!” teriak sang komandan lagi, suara beratnya bergema di ruangan itu. Dua anak buahnya sudah mengarahkan pistol ke target mereka. Mereka mendekatinya.

“Pergi !” bentaknya, sambil memengangi kaki yang terluka. Ia masih berusaha berdiri, namun usahanya sia-sia dan kembali terjatuh.

“Lebih baik kau menyerahkan diri, agar aku tidak perlu menyakitimu.” Ujar sang komandan sambil memberikan tanda pada anak buahnya untuk menurunkan pistol di tangan mereka.

“ Cih, tidak akan pernah.” celetuknya mengejek .

“Aku sudah memperingatkanmu bocah, serahkan diri atau aku benar-benar akan bertindak kasar.” Sang komandan mulai geram. Ia sudah habis kesabaran.

Dia diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Suasana gelap dan bunyi hujan makin menggidikkan bulu kuduk. Tiba-tiba, secepat kilat ia berdiri lalu berlari sambil sempoyongan. Dengan segala kekuatan yang ia punya, ditahannya rasa sakit di kaki yang sudah entah berapa banyak mengeluarkan darah itu.

“Aku tidak peduli!” pekiknya sambil terus berlari. Rasa panas dihatinya tidak sebanding dengan rasa sakit dikakinya sekarang. Pandangannya mulai kabur karena kelebihan air hangat yang merembes di matanya. Ia berusaha menahan agar air itu tidak jatuh, bagaimanapun ia adalah seorang laki-laki. Bukan kodratnya untuk menangis, pikirnya.

Bagaimanapun cepatnya ia berlari, pasti tidak akan menang melawan para polisi karena cidera di kakinya itu. Sang komandan yang benar-benar habis kesabaran menangkap anak laki-laki itu dengan mudah. Ia mencengkram krah baju anak itu dari belakang, lalu menariknya dengan kasar sehingga si korban jatuh sempoyongan. Ia masih berusaha melepaskan diri dengan sisa-sisa kekuatannya namun sia-sia saja. Kekuatannya sudah habis.

“Lepaskan!” teriaknya lagi, sangat keras dan penuh amarah. Dia menggerak-gerakkan badannya dengan kasar agar cengkraman polisi itu lepas. Sang komandan dan anak buahnya meringkus badan anak itu sehingga ia tidak bisa bergerak. Ruang geraknya terbatasi.

“Aku bilang lepaskan.!” lagi-lagi ia melawan. Satu lawan tiga, tentu saja tidak seimbang.

“Diam atau aku patahkan tanganmu!” seru sang komandan dengan bengisnya. Suaranya yang berat mulai terdengar menakutkan.

“ Lepaskan! Lepaskan aku..” si anak laki-laki belum menyerah. Sifat keras kepalanya ini membuat ketiga polisi benar-benar kehabisan akal.

“ Tidak akan, karena kau akan meringkuk dalam penjara.” salah satu anak buah polisi itu bergumam. Ia tersenyum sinis, mengejek anak itu karena merasa ia telah menang.

“ AKU BILANG LEPASKAN, BODOH!”

Siluet api tiba-tiba datang entah dari mana, menjalar membakar seragam polisi yang mencengkram kaki si bocah itu. Ia sangat terkejut dan berteriak tidak karuan. Si bocah dan 2 orang lagi kaget, bahkan mereka pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Panas.. panass!” pekiknya panik. Ia melepaskan cengkaraman itu sambil berlari kesana kemari. Dua orang polisi lainnya berusaha menolong, walaupun mereka berdua juga panik setengah mati. Sang komandan mendorong tubuh polisi yang terbakar itu ke dinding, ia yakin dinding itu sangat lembab karena ditumbuhi lumut-lumut yang masih segar. Benar saja, api itu langsung padam. Si polisi meringis kesakitan. Lengan bajunya sudah habis terbakar. Tampak berkas-berkas hitam di lengan kanannya, kulitnya gosong terbakar api misterius itu. Ia dibantu oleh polisi dengan membopongnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya sang komandan memastikan. Mukanya yang tadi panik, sudah kembali tenang.

Polisi itu mengangguk, “ Syukurlah, apinya tidak melahap seluruh badanku.” Ucapnya sambil tersenyum kecut. Ia masih memengangi lengannya yang terbakar.

Sesaat mereka melupakan si anak laki-laki tadi, tapi sang komandan langsung sadar. Ia mengedarkan pandangan, dan melihat anak laki-laki berseragam SMA itu tergeletak tak sadarkan diri…

*******

Seharusnya malam ini ia sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua, tapi setelah mendapat telfon dari kantor polisi sepulang bekerja tadi, ia segera memasang jaket dan berlari lagi keluar rumah. Tidak dipedulikannya hujan yang dari tadi belum reda, lebih cepat ia sampai itu lebih baik, pikirnya.

Ia berlari ke arah pemberhentian bus, sambil mengusap mukanya yang dibasahi air hujan. Jelas sekali wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang amat sangat. Sesekali gadis itu melihat ke jam tangannya, dan kadang melihat ponselnya. Ia tidak berhenti melirik ke kanan, berharap ada bus yang datang.

Benar saja, beberapa menit kemudian bus berwarna hijau ukuran sedang datang dan berhenti di halte itu. Dia pun masuk. Selama 20 menit perjalanan, ia tak henti menggigil menggemertakkan giginya. Bukan karena dingin, tapi karena saking cemasnya.

Sampai didepan kantor polisi, ia pun masuk. Suasana ruangan sangat berisik karena teriakan para polisi yang sedang bertanya pada penjahat-penjahat jalanan. Bahkan beberapa polisi menghantam meja karena geram pertanyaan mereka tidak di jawab oleh penjahat-penjahat itu. Ia bergidik ngeri melihat kasarnya para polisi pada tahanan mereka. Ia terus berjalan mengedarkan pandangan mencari orang yang dia cari.

Sesaat pandangannya menangkap sosok manusia yang ia kenal, bahkan sangat dekat dengannya. Orang itu sedang duduk didepan meja polisi sambil menunduk. Seragamnya sangat kotor, rambutnya acak-acakan tidak karuan. Keadaannya sangat tidak rapi saat itu. Celananya dilumuri darah dan ada bekas robekan di betisnya.

“Chanyeol!” gumamnya pelan, lalu mendekat ke arah orang yang dipanggil.

Orang yang disebut Chanyeol itu memalingkan wajahnya.

“ Kakak..” ucapnya girang. Ia berdiri.

Orang yang duduk di depan Chanyeol segera berkata,

“ Apakah anda keluarga bocah ini?” tanyanya datar. Orang ini adalah komandan yang sudah menangkap Chanyeol tadi.

Sang kakak mengangguk. “ Saya Yura, kakak Chanyeol..” katanya sambil menyalami si komandan. “Sebenarnya apa yang terjadi, pak?”

Komandan itu menghela nafas panjang sebelum menjelaskan. “ Adik anda sudah merusak hampir seluruh bagian dari Mall Senshuu.” Ia berhenti sebentar, melirik ke arah Chanyeol yang tidak memandangnya sama sekali. Chanyeol seperti orang yang tidak peduli dengan sekeliling, ia malah asik bermain dengan luka di kakinya (?)

“Apa? Tapi bagaimana bisa?” Yura terkejut bukan main, matanya membulat.  Mall Shensuu adalah mall paling besar di kota itu, jika hampir seluruh bagiannya rusak, tidak bisa ia bayangkan betapa besarnya kerugian yang telah disebabkan oleh adiknya.

“ Dia membakar mall itu nona. Kami sudah mencoba membujuknya agar menyerahkan diri, tapi dia menolak. Bahkan dia berusaha mencelakai salah seorang polisi dengan membakarnya.” jelas komandan itu dengan tenang, tapi ada penekanan disetiap kata-kata yang ia lontarkan.

Yura terdiam sejenak. Ia masih tidak percaya dengan kejadian ini. Bagaimana mungkin Chanyeol melakukan hal sejahat itu? Ia sangat mengenal adiknya.

“ Bohong! Aku tidak pernah membakar mall itu, dan kau pasti tau anak buahmu terbakar dengan sendirinya. Bukankah kalian semua sedang sibuk memegangi kaki dan tanganku, huh?” rutuk Chanyeol kesal. Ia sudah menjelaskan berkali-kali pada polisi itu kalau dia tidak bersalah, namun tidak didengarkan sama sekali olehnya.

Sang komandan mengernyitkan keningnya dan memandang penasaran pada Chanyeol. Sepertinya ia merasa baru menyadari sesuatu. Ia menopang dagunya pada tangan yang besar itu, lalu mengusapnya pelan.

“ Tapi bagaimana bisa mall itu terbakar dengan sendirinya? Semua kabel listrik sudah dipastikan tidak ada yang rusak. Tabung-tabung gas pun masih utuh, tidak ada yang meledak. Jika kebakaran terjadi karena seseorang yang bermain-main dengan api, itu bisa dicurigai sebagai penyebabnya.”

“Baiklah, jika memang seseorang melakukannya, itu mungkin saja. Tapi kenapa aku?” Chanyeol mulai meninggikan nada suaranya. Ia sudah muak ditanyai seperti itu dari tadi, baru saja setelah ia bangun dari pingsan akibat tenaganya yang hilang tiba-tiba.

Sang komandan tersenyum sinis, “ Tentu saja, karena beberapa saksi mata mengatakan api itu berasal darimu, nak!”

“ Benar-benar tidak masuk akal. Bukankah kau juga sudah memeriksa pakaianku? Kau menemukan sesuatu yang bisa jadi bukti?” lelaki itu balas tersenyum sinis, mukanya menyiratkan tanda kemenangan. Ia sangat yakin, karena dia memang tidak melakukan hal yang dituduhkan kepadanya.

“Bisa saja kau membuangnya saat membakar tempat itu atau saat kau melarikan diri. Aku sudah mengerahkan beberapa anak buahku untuk mencari bukti yang bisa membuatmu dipenjara beberapa tahun. Persiapkan dirimu.” Ucapnya datar. Ia berdiri dari tempat duduk, tidak ingin lagi memperpanjang percakapan dengan anak keras kepala ini.

Yura yang dari tadi diam, hanya bisa memandang sang komandan pergi meninggalkan mereka. Ia shock, sangat shock sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“Tenang saja kak, mereka tidak akan menemukan apa-apa karena aku memang tidak melakukannya.” suara Chanyeol bergetar. Ia berusaha menenangkan kakaknya, walaupun ia sendiri ragu-ragu. Tapi seingatnya, kebakaran yang terjadi di mall itu memang bukan kesalahannya. Ia benar-benar tidak melakukan apapun.

“Apakah ada korban jiwa?” tanya Yura tiba-tiba. Suaranya serak seperti menahan tangis.

Chanyeol terkesiap mendengar suara kakaknya, ia tau pertahanan kakaknya sudah mulai runtuh. Ia menggeleng, “ Untung saja tidak ada korban jiwa. Saat api mulai besar, air pemadam kebakaran otomatis di ruangan itu aktif dengan sendirinya.”

Yura menghela nafas panjang. “ Syukurlah..” ucapnya lirih.

Tanpa berkata, sang kakak mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah syal putih kesayangannya. Ia mendekati Chanyeol, lalu berjongkok. Disentuhnya kaki adiknya yang terluka. Ia merobek celana itu agar luka di kaki Chanyeol bisa terlihat dengan jelas. Tampak luka berbentuk bulat, kira-kira satu centimeter dengan darah yang sudah membeku disekelilingnya. Dibersihkannya luka itu dengan tissue yang ada di tasnya, lalu mengikatnya dengan syal putih tadi. Chanyeol meringis kesakitan saat kakaknya mengencangkan ikatan syal itu di kakinya.

Bagaimanapun sang kakak menyembunyikan rasa sedihnya, tapi Chanyeol tau kakaknya sudah mulai menangis. Ada rasa sakit yang menjalar dihatinya saat melihat Yura meneteskan air mata seperti itu. Yura adalah kakak yang selalu sabar menghadapinya, selalu mengerti keadaannya, dan selalu berusaha bekerja keras untuk kehidupan mereka berdua.

“Kakimu kenapa?” tanya Yura berusaha mengalihkan pandangannya agar air matanya tidak terlihat oleh Chanyeol.

“ Tertusuk tumpukan besi. Disana gelap sekali, aku tidak bisa melihat apa-apa sampai aku terjatuh di atas tumpukan besi itu.” Chanyeol berusaha pura-pura tidak tahu kalau kakaknya menangis.

Yura diam saja. Ia tidak merespon.

Akhirnya mereka terdiam beberapa saat. Suasana berisik di ruang tahanan itu masih saja terdengar. Bahkan makin banyak caci maki para polisi pada tahanan mereka.

“Maafkan aku, kak..” ucap Chanyeol lirih. Ia merasa sangat menyesal. Baru kali ini Yura menangis karena dirinya. Ia menggemertakkan giginya, menahan rasa sedih yang datang tiba-tiba.

Yura menggeleng, lalu menghapus air matanya dengan lengan jaketnya.

“Kenapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu. Aku sangat tau itu. Hanya saja….” kata-kata Yura terhenti, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata yang dari tadi tidak mau berhenti.

“Hanya saja?”

Yura kembali menghela nafas, berharap air matanya tidak keluar lagi. Ia memalingkan wajahnya,tidak mau memandang pada adiknya.

“ Aku kira ada sesuatu yang terjadi padamu. Aku sangat khawatir.”

Chanyeol terhenyak. Lagi-lagi ada rasa sakit di ulu hatinya yang menyerang. Awalnya ia berpikir Yura pasti akan memarahinya seperti komandan itu, tapi ternyata dugaannya salah besar. Kakaknya justru sangat mengkhawatirkan keadaannya.

“Maaf sudah membuatmu khawatir, kak.”

Hanya itu kata-kata yang bisa diucapkan oleh Chanyeol pada kakaknya.

********

Sudah 2 jam mereka di kantor polisi. Belum ada tanda-tanda sang komandan akan datang kembali. Walaupun Chanyeol tidak akan diperbolehkan pulang malam ini, setidaknya ada konfirmasi dari para polisi itu kalau tidak ada bukti yang bisa memberatkannya. Dipenjara selama bertahun-tahun untuk kesalahan yang tidak pernah ia perbuat merupakan hukuman yang sangat tidak masuk akal. Mungkin memang selama ini ia jahil di sekolah, selalu mendapatkan hukuman dari setiap guru yang mengajarnya. Tapi hukuman ini sudah keterlaluan, bahkan ia tidak terlibat sedikitpun dalam kasus aneh ini.

Sudah cukup ia membebani kakaknya dengan segala tingkahnya di sekolah. Ia tidak mau lagi membuat kakaknya malu. Setiap kali kakaknya datang setelah mendapat surat panggilan dari kepala sekolah, semua guru-guru akan menyindirnya dengan kasar.

‘Murid macam apa itu, bisa-bisanya dia memukuli anak pejabat tanpa rasa takut sedikitpun’

Itu adalah ucapan seorang guru Etika, ketika Chanyeol memukuli seorang murid laki-laki bertitel anak pejabat yang sudah menganiaya teman sekelasnya.

‘Bisa-bisanya dia menghancurkan kaca jendela kepala sekolah hanya karena seekor burung. Dasar anak tidak tahu malu’

Kata-kata ini berasal dari guru Keseniannya, ketika ia melihat seekor burung terjepit di ventilasi ruangan kepala sekolah. Burung kecil itu sepertinya terjebak di dalam ruangan, lalu berusaha keluar lewat ventilasi tapi malah terjepit disana. Ruangan itu terkunci rapat sehingga tidak bisa dimasuki. Akhirnya Chanyeol melempar jendela kepala sekolah dengan batu supaya dia bisa masuk ke dalam ruangan itu.

‘Apakah dia tidak punya orang tua? Anak itu seperti monster. Ini sudah kesekian kalinya dia membuat keributan di sekolah..’

Itu adalah kata-kata yang paling menyakitkan yang pernah ia dengar, beberapa bulan sebelum kejadian kebakaran mall ini. Guru yang paling dihormatinya, guru bidang olahraga sudah mengkhianati kepercayaannya. Saat itu ia sedang tidur di atap gedung sekolah dan tidak sengaja mendengarkan percakapan guru olahraga itu dengan seorang murid perempuan.

Sang guru mengancam akan mengadukan murid itu kepada kepala sekolah kalau ia tidak mau menuruti semua keinginannya. Guru itu menarik si gadis dengan kasar, bahkan menamparnya. Chanyeol yang melihat kejadian itu spontan memukul si guru sampai sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah. Dia tidak terima atas perlakuan Chanyeol dan mengadukannya pada kepala sekolah sebagai tindak penganiayaan. Walaupun Chanyeol sudah menjelaskan bahwa ia membela gadis itu, tapi tidak ada guru yang percaya padanya. Lagi-lagi kakaknya harus dipanggil ke sekolah.

Sejak saat itu dia tidak mau mempercayai orang lain lagi, selain kakaknya. Bagaimana dengan teman? Dari kecil ia tidak punya teman, bahkan sampai sekarang. Ia sudah terbiasa menyendiri, sejak orang tuanya meninggal 13 tahun lalu akibat kebakaran di rumah mereka. Pribadinya yang dulu sangat ceria dan ramah, berubah drastis sejak kematian orang tua mereka.  Seperti ada trauma tersendiri yang ia rasakan, tapi entah apa itu yang berhasil membuatnya jadi orang pendiam dan murung. Ia menarik diri dari orang lain, tidak mau bergaul dengan orang-orang seumurannya. Sampai suatu ketika ia berusaha membuka diri pada guru olahraga itu, karena ia pikir guru itu sangat mengerti akan dirinya. Namun ternyata anggapannya salah besar, guru itu sama saja dengan yang lainnya, menganggap ia monster dan bahkan sampai membahas orang tuanya.

Ia kapok dan tidak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Menghindari diri dari hubungan emosional dengan orang lain adalah cara paling ampuh agar tidak merasakan sakit hati. Tidak bisa dipungkiri, ia kesepian. Namun kakaknya seakan tidak pernah bosan, bahkan berusaha tebal muka saat memenuhi panggilan kepala sekolah. Setiap kali dia datang, dia selalu tersenyum ramah pada anggota sekolah itu lalu membungkuk meminta maaf atas kelakuan adiknya. Dia membungkuk dan berkata sangat tulus.

“Saya minta maaf atas kelakuan Chanyeol, saya akan memberikan pelajaran  padanya saat di rumah nanti. Sekali lagi saya minta maaf.” Ucapnya, masih tersenyum walaupun ia juga mendengar kata-kata pedas dari guru-guru di ruangan itu. Chanyeol yang berdiri disamping kakaknya hanya bisa menunduk, sambil menggenggam tangannya erat-erat agar emosinya tidak meledak lagi.

Apakah kakaknya memarahi Chanyeol sesampai dirumah? Tidak sama sekali. Kata-kata yang diucapkan selalu sama,

“ Kali ini siapa lagi yang kau tolong?” tanyanya sambil tersenyum lembut.

Kata-kata itu yang selalu terlontar dari mulut kakaknya. Ia sepertinya tahu apa yang diperbuat adiknya adalah untuk membantu orang lain.

Karena itulah, Chanyeol tidak mau lagi membuat kakaknya menahan malu karenanya. Ia berharap segera keluar dari ruang tahanan itu, agar kakaknya bisa tenang dan berhenti menangis.

Tiba-tiba komandan yang menangkap Chanyeol tadi masuk ke ruangan dengan raut muka bingung. Ia memandang Chanyeol nanar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Yura yang saat itu juga memandangnya penuh harap.

“Bisa berbicara diruangan saya sebentar?” ucap komandan itu serius. Ada hawa menengangkan yang terasa saat komandan itu berbalik dan berjalan menuju ruangannya. Chanyeol dan Yura mengikuti sang polisi ke dalam ruangannya, lalu duduk setelah dipersilahkan oleh pemilik ruangan.

Komandan itu mengenggam tangannya di atas meja, lalu menarik nafas dalam-dalam.

“Setelah beberapa jam pencarian oleh anggota polisi, tidak ada bukti yang ditemukan. Kami sudah menyisir tempat disekitar lokasi kejadian, dan juga gudang tempat anak ini ditangkap tapi tidak ada bukti sama sekali.” Polisi itu diam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya,

“ Pihak Mall tidak akan bisa menuntutmu atas kejadian ini, jadi kau bisa keluar malam ini juga, tapi..” kalimat sang polisi terhenti. Ia lagi-lagi ragu untuk melanjutkan, tapi bagaimana pun hal penting seperti ini harus disampaikannya.

Dua bersaudara itu menunggu sang komandan melanjutkan perkataannya, tapi tidak juga diteruskan olehnya.

“Tapi apa, pak?” tanya Yura penasaran. Ia berharap tidak ada lagi kasus lain yang memberatkan adik kesayangannya itu.

“Chanyeol harus ikut akademi khusus yang dikepalai langsung oleh Jenderal kami..”

Spontan keduanya kaget mendengar pernyataan polisi yang diluar dugaan itu. Akademi khusus? Apa maksud komandan ini.

“Apa maksudmu?” Chanyeol segera meminta penjelasan, ia tidak mengerti sama sekali.

“Kau ingat saat kejadian di gudang tadi? Api tiba-tiba muncul dan membakar lengan seorang polisi. Kau tau itu datang dari mana? Itu darimu.”

Chanyeol mengernyitkan keningnya tidak mengerti.

“A-apa maksudmu? Aku sudah bilang, bukan aku yang melakukannya.”

“Dengarkan dulu penjelasanku, nak.” potong sang komandan. “Akademi yang aku maksud bukan akademi biasa. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk sekolah ini. Salah satunya adalah orang sepertimu.” Lelaki bertubuh tegap itu lagi-lagi berhenti. Ia menatap Chanyeol dengan pandangan ragu, sambil berusaha memilih kata-kata yang tepat agar mereka berdua percaya dengan apa yang ia katakan.

“ Akademi itu adalah sekolah tertutup dan rahasia. Hanya sebagian kecil orang yang tau akademi ini. Disana adalah tempat mengendalikan dan mengembangkan kekuatan khusus yang dimiliki oleh manusia terpilih. Salah satunya, manusia api sepertimu.”

“Ma-manusia api?” suara Yura tergagap. Lagi-lagi ia dan Chanyeol terkejut bukan main. Kali ini lebih kaget dibanding sebelumnya. Mata mereka membulat, menyiratkan rasa tidak percaya yang amat sangat.

“Omong kosong macam apa ini?” Chanyeol menimpali. Ia benar-benar tidak percaya dengan perkataan si komandan.

“Hmm, aku tau kau akan bereaksi seperti ini. Mungkin aku harus memberimu bukti yang lebih signifikan. Kau ingat, apa yang kau lakukan sebelum terjadi kebakaran di mall itu?”

Chanyeol segera memutar otak, mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu sesaat sebelum terbakarnya mall tempat ia membeli hadiah ulang tahun untuk kakaknya.

“Saat itu aku keluar dari toko kue, dan seorang menabrakku. Ternyata dia adalah guru olahragaku disekolah, dia bersama dengan seorang murid perempuan. Setelah dia melihat ke arahku, ia dengan sengaja menginjak kue itu lalu menendangnya. Tiba-tiba….” perkataan Chanyeol terhenti seketika, sepertinya ia mengingat sesuatu.

“ Mall itu terbakar dengan sendirinya, begitu bukan?” sambung sang komandan dengan yakin dan diikuti oleh anggukan Chanyeol.

“Bukankah kau merasa tubuhmu sangat lelah saat itu?”

“ Hmm..” Chanyeol mengangguk lagi. Memang benar kata polisi itu. Saat api mulai berkobar, tubuhnya serasa kehilangan tenaga padahal ia tidak melakukan apa-apa. Sama seperti saat di gudang, ia seketika pingsan setelah api muncul di lengan polisi yang meringkusnya.

“ Itu karena kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu. Karena itulah, kau harus masuk akademi untuk belajar mengendalikannya.”

“ Aku tidak mau..” Chanyeol segera menolak. Walaupun penjelasan sang komandan sesuai dengan apa yang ia alami, tapi itu belum cukup untuk meyakinkan. Ini terlalu cepat, belum bisa dicerna oleh otaknya.

“Jangan egois, anak muda. Ini bukan tentang dirimu saja, tapi juga orang disekitarmu . Bayangkan apa yang akan terjadi jika tiba-tiba kau kehilangan kendali lagi seperti itu? Bukan hanya nyawamu saja yang terancam, tapi nyawa orang-orang disekelilingmu juga.” Suara komandan itu masih datar, tapi penuh dengan penekanan.

Chanyeol terdiam. Beribu macam pikiran melayang-layang dikepalanya saat ini. Ia ragu, keputusan apa yang harus ia ambil..

“Kalau memang aku punya kekuatan seperti itu, kenapa baru sekarang terlihat?” Chanyeol masih berusaha melontarkan pertanyaan pada sang komandan.

“Karena kekuatan itu bangkit setelah si pemilik berhasil membuka segel di dalam tubuhnya. Salah satu pembukanya adalah kemarahan…”

 ***********