Spoiler for Naruto the Movie : The Last (hot news!!)

wpid-img_top

I get excited for this upcoming Naruto the movie: the Last! It’s will be aired in Japan on 6th December, and maybe it will be too in Indonesia in the next January, 2015.

I got this from Instagram, so here are some spoilers for the movie :

About the story:

“The story’s timeline will start from the end of November and will end at the beginning of March, meaning the timeline will be 2-3 months long. The Winter Festival is actually something like the japanese valentine. On the first week of December, the females give presents to the males they like/love,  while on the last week of February the males give presents to the females they like/love.

The story make up in the next :

1. Naruto has a small introduction about the story (his birth, team seven, sasuke’s left, etc)

2. Hanabi is kidnapped, and the rescue team goes to save her.

3. Toneri meets with Naruto and the gang and steals Naruto’s Sage mode and Sasuke saves everyone.

4. Naruto and Hinata get sepparated from the others and find themselves on an isolated island. While Kiba, Shino, Tenten, and Lee go to search them, Sasuke stays in the village to protect it until Naruto comes back (much too Sakura’s enjoyment). From this part the “romance” marathon comes.

5. After Naruto and Hinata come back to the village, some days passes and on the week of the males, Naruto wants to give a gift to Hinata. However, it is revealed that Toneri assaulted her and Toneri quickly defeats Naruto then tortures him in front of Hinata until Hinata drinks something that Toneri gave her. After that, Toneri leaves with Hinata, only the red scarf leaving behind that Hinata knitted for Naruto.

6. Naruto got depressed but thanks to a hooded man, his heart revives and decide to save Hinata. The others (including the pairs, the kages, and other minor characters) following him.

7. In Toneri’s lair, Toneri prepares a wedding and reveals that his plan to create a “new kaguya”, also reveals that not only the Otsutsuki clan, but Hyuuga clan also came from another dimension and that Kaguya is the child of an Otsutsuki and Hyuuga. Toneri wants to create a new Kaguya with Hinata.

8. There will be some “ellite warrior” of Toneri, a male of Uchiha, a male Hyuuga, a male Aburame, and a female Akimichi. Also, there is a scared man who is later will be revealed the man who talked Sasuke’s father, Uchiha Fugaku into the Uchiha rebellion plan (the reason they were massacared down). The two final battle will be “Naruto + Hinata vs Toneri” and “Sasuke +Sakura vs Sacred Man (his name is Kyoumu and from Nara clan). Karin, who secretly followed Sasuke and Sakua, saves Sakura by sacrificing herself and ask Sakura to protect Sasuke forever. Sasuke and Sakura kill Kyoumu, then going to help Naruto and Hinata againts Toneri. In the end, they defeat Toneri and use a technique to negate the destruction of the moon.

9. After the battle, Naruto and Hinata suddenly disappears. They are at waterfall-lake kind place where Naruto confesses to Hinata.

10. On the credits staff roll, there are some romantic moment (datings, weddings, child births, etc)

About the paring :

1. Naruto reveals that when they were children, he believed that Hinata just wanted to make fun of him (the trailer scene). But reveals that over time, he started to take an interest in her and realised that Hinata liked/loved him, and he was very happy about it. He wanted to talk about it with Hinata,  but he had “inner demon” which holded him back. Not sure, but ‘things’ were related to his mother (Kushina) and something “substitution”.

2. After Hinata and Naruto are on the island, they spend times together for 2-3 months. Hinata teacher Naruto dancing and cooking while Naruto teaches Hinata the Rasengan and ‘dattebayo’. Naruto starts  developing stronger feeling as time passes.

3. Karui and Chouji meet at the festival, and Karui has inferiority in her cooking skill, but Chouji tells her that he believes her cooking skill are great. Karui has an interesting in him.

4. Ino has problems with the males and one of them try to rape her but Sai saver her. She kisses Sai on the cheek and Sai starts having “strange, warm feeling” for Ino.

5.  Sasuke gives a necklace to Sakura and Sakura give the same to Sasuke, too.

6. Naruto, after Toneri took Hinata away, has a mental breakdown and heartbroken, until a hooded man revives his heart by teaching him about love.

7. Naruto confesses to Hinata in the of the movie.

About the characters:

1. Character’s death : Orochimaru, Jugo, Kitsuchi, Samui, Atsui, Karin

2. Karin sacrifices herself to save Sakura. Sakura will take Karin glasses as a momento.

3. Suigetsu become the leader of Seven Swordmen of Mist.

4. Naruto reveals his main reason to not answering for Hinata’s confession : his mother, and because he believed that if he will become a couple with Hinata, it would only make Hinata feeling tht she would be just a “substitution”. But the hooded man convince him that there’s nothing like ‘subtitution’ in love.

5. Sasuke reveals the truth to Sakura about the massacare and the reason why he treated her ‘badly’ before because he wanted to protect her from himself.

7. Kyoumu is a missing nin from Konoha and a Nara clan member, who’s face was scared by Uchiha Shisui (Itachi’s mentor).

8. Kiba meets with Tamaki while searching for Naruto and Hinata with the others.

Iklan

When Music is The Reason We’re United (Chapter 4)

musicnotes

Note : Setelah beberapa lama ga update fic yang ini, saya rasa meng-updatenya dengan dua chapter sekaligus mungkin bisa membayarnya. Hoho. Happy reading ^^

Cast : BTS and EXO member

Minggu, jam 9.00

“Yeollie, cepat habiskan makananmu. Ckck, anak ini..” seorang perempuan yang tengah sibuk membersihkan peralatan makan di dapur menggerutu, sesekali menoleh pada meja makan, tempat anaknya sedang sibuk bermain handphone.

Chanyeol tidak menjawab, ia terlalu fokus terhadap benda kecil yang ada ditangannya saat itu. Sang ibu mendekatinya, lalu mengambil benda itu dengan paksa dari genggaman anaknya.

“Kau mau ibu membuang benda ini?” wajah galak sang ibu sudah tertera dengan jelas di hadapan Chanyeol, membuatnya bergidik ngeri.

“I-Iya bu. Aku akan makan, tapi kembalikan handphone-ku..” rengeknya, seperti anak kecil. Wajahnya memelas, minta dikasihani. Oh, manja sekali anak ini.

“Tidak, sebelum kau menghabiskan makananmu. Cepat.” Perintah ibunya dengan tegas. Sepertinya jurus andalan Chanyeol tidak berhasil kali ini, ibunya tidak termakan sedikitpun dengan rayuan wajah ‘minta dikasihani’-nya.

Chanyeol mengangkat sendoknya dengan tangan kanan, dan mencari-cari garpu dengan tangan kiri. Ia mulai menyantap sarapan yang disiapkan oleh ibunya tadi sambil cemberut.

Ibu Chanyeol memperhatikan anaknya makan sambil melipat tangan di dada. Sudah seringkali ia melakukan hal itu, hanya gara-gara Chanyeol yang susah disuruh makan karena terlalu tertarik dengan handphonenya.

Tiba-tiba handphone itu berdering, dengan spontan sang ibu mengangkatnya.

“Halo?” jawabnya. Chanyeol awalnya ingin merebut handphone itu dari tangan ibunya, sayang sekali ia terlalu takut.

“Chanyeol? Kenapa suaramu seperti suara perempuan?” seru seseorang dari seberang. Ia terdengar sangat terkejut.

“Aah, aku ibunya Chanyeol.” Jawab ibunya dengan sangat ramah.

Ohh, maaf bibi.” Kata orang tersebut. “Apa Chanyeol ada, bi?”

Ibu Chanyeol melirik pada anaknya dengan sinis, lalu kembali menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Chanyeol sedang di kamar mandi. Kalau kau ada pesan, biar aku yang menyampaikan.”

“Ibu jahat!” kata Chanyeol dalam hati. Ia makin cemberut melihat tingkah ibunya yang iseng. Jelas-jelas ia sedang berada dihadapan ibunya sekarang.

“Ohh baiklah. Tolong sampaikan pada Chanyeol, berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Ini keadaan darurat, tolong ya bi.”

“Baiklah, akan aku sampaikan.”

Si Ibu menutup telpon sambil memandang penuh selidik pada putranya. Chanyeol merasa hawa di dapur mulai berubah, siap-siap saja ditanyai yang macam-macam oleh sang ibu.

“Temanmu bilang berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Keadaan sedang darurat.  Apa maksudnya?”

Chanyeol mengernyitkan keningnya, menandakan ia juga tidak tahu menahu tentang pesan temannya itu.

“A-aku juga tidak tau, bu.”

“Jangan bohong, Park Chanyeol!” nada suara dari ibunya memang tidak meninggi, tapi penuh dengan penekanan. Astaga, ibu Chanyeol benar-benar menakutkan saat penasaran seperti ini.

“Aku tidak bohong, bu. Percayalah. Yang berbicara dengan temanku tadi kan ibu? Aku saja tidak tahu siapa yang menelpon barusan.”

Kegalakan di wajah sang ibu mulai mengendur. Ia baru sadar, tadi dia tidak melihat pada layar handphone untuk mengetahui siapa yang memanggil anaknya. Dengan cepat, dia membuka benda kecil itu lalu melihat history call.

“Kyungsoo..” gumam ibunya pelan, saat mendapati siapa yang menelpon Chanyeol.

“Kyungsoo? Tumben dia menelpon.” Chanyeol ikut-ikutan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.  Beberapa saat, ia menopang dagu dengan tangannya, lalu matanya membesar seketika. Sepertinya ia sadar akan sesuatu.

“Bu, maaf aku tidak menghabiskan makanannya kali ini. Aku harus cepat—“

Langkahnya terhenti saat ia berjalan melewati ibunya. Bahunya ditangkap dengan lembut oleh tangan wanita itu.

“Kali ini jangan bertindak ceroboh, Chanyeol.” Seru ibunya, lalu tanpa disangka-sangka ia memberikan handphone itu pada Chanyeol. “Hubungi ibu jika ada apa-apa. Mengerti?”

Chanyeol tersenyum tipis, sambil menerima benda itu dari ibunya.

“Tentu saja, bu. Aku pergi.” Ucapnya, melesat dari rumah sederhana itu dengan cepat.

.

.

.

Minggu, satu jam sebelum jam 09.00

Jalanan ramai karena akhir pekan, termasuk taman yang biasa dijadikan tempat berkumpul klub musik Boudan. Terlihat beberapa keluarga dan muda-mudi hilik mudik melewati taman itu. Apalagi sedang musim semi, tentu saja banyak orang yang berpikir untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang yang disayangi.

Taehyung dan Jungkook melewati taman itu sambil membawa beberapa kotak nasi. Mereka berjalan berdampingan, sambil memperhatikan keadaan sekeliling.

“Sial! Pagi-pagi begini disuruh membeli makanan. Menganggu tidurku saja.” Dari tadi Taehyung tidak berhenti mengumpat. Ia kesal sudah dibangunkan secara paksa oleh Yoongi melalui panggilan telponnya sampai 12 kali.

Jungkook diam saja. Ia malah memperhatikan orang-orang yang ada di taman sambil celingak-celinguk.

“Hei, kau dengar tidak?” Taehyung makin kesal karena diabaikan.

“Hn..” hanya itu balasan yang diterima oleh Taehyung. Oh, anak ini benar-benar seperti iblis! Pasti itu yang terlintas dipikiran Taehyung.

Taehyung memajukan bibirnya, “Kapan kau akan berubah, Jungkookie? Selalu saja mengabaikanku.”

Seketika Jungkook melirik Taehyung, lalu tersenyum tipis.

“Maaf hyung. Perhatianku terlalu fokus pada mereka.” Jungkook menunjuk menggunakan tangannya pada sebuah keluarga yang sedang duduk di bawah pohon Sakura. Seorang ayah, ibu, dan dua anak laki-laki yang yang berbeda besarnya. Mungkin mereka adalah kakak adik. Mereka terlihat sedang bermain sesuatu, sambil sesekali sang adik memukul kepala kakaknya. Ayah dan ibu mereka tertawa setiap kali sang kakak mengaduh kesakitan. Keluarga itu terlihat bahagia.

Taehyung ikut memperhatikan mereka, tapi ia segera menarik bahu Jungkook dengan spontan.

“Ayo cepat, jangan sampai Yoongi hyung mengamuk lagi.” Serunya. Jungkook yang tidak mengerti dengan tindakan Taehyung hanya menurut saja. Sekilas Jungkook bisa melihat raut wajah Taehyung yang berubah panik.

Tentu saja. Apa yang dilihat Taehyung berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Jungkook. Ia melihat orang yang beberapa hari lalu mencari masalah dengannya berdiri tidak jauh dari pohon Sakura, tempat keluarga tadi bernaung.

Mereka terus berjalan, makin lama makin cepat. Taehyung mengalihkan pegangannya dari bahu Jungkook ke lengan pemuda itu. Ia menarik lengan anak itu dengan kuat, menyebabkan suatu protes keluar dari mulut Jungkook.

“Hyung, kau kenapa?” Ia menarik lengannya dari genggaman Taehyung, lalu berhenti tiba-tiba.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Kita harus pergi.” Sekarang Taehyung benar-benar panik. Kali ini, ia tidak bisa lagi menutupi rasa cemasnya. Spontan ia menarik tangan Jungkook lagi dengan kuat, lalu berlari secepat yang ia bisa.

“Hyuung—“ Jungkook berteriak, sambil melepaskan cengkraman Taehyung dengan paksa. Raut wajahnya terlihat heran sekaligus marah. Ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Taehyung yang tiba-tiba saja seperti orang ketakutan.

Dengan cepat Taehyung menarik Jungkook ke belakang pagar yang ada disekitar mereka. Pagar kayu itu cukup besar, ditumbuhi tanaman menjalar yang rimbun sehingga bisa dipastikan mereka tidak akan kelihatan dari belakang. Taehyung melirik ke kanan dan kekiri, memastikan tidak ada orang selain mereka yang ada disana.

“Dengar baik-baik.” Taehyung berbicara dengan pelan, hampir tidak terdengar, “.. apapun yang terjadi nanti, kau harus lari. Pergi ke tempat Jin hyung, katakan padanya untuk datang kesini. Tapi jangan sampai Yoongi hyung dan Namjoon hyung tau. Kau mengerti?”

Jungkook makin tidak mengerti. Ia tidak mau menuruti begitu saja kata-kata Taehyung kali ini.

“Apa maksudmu, hyung? Apa yang terjadi sebenarnya?”

Taehyung lagi-lagi melirik ke belakang, masih aman.

“Aku melihat Jongdae dan teman-temannya tadi di taman. Mereka pasti membuntuti kita. Aku rasa kita berdua tidak akan bisa lari dari mereka.” Ia menghentikan kalimatnya, lalu menarik nafas dalam-dalam akibat gugup yang sekarang sedang melandanya “..Karena itu, salah satu diantara kita harus memanggil Jin hyung untuk membujuk mereka.  Aku akan mengalihkan perhatian mereka.  Sekarang, pergilah menjemput Jin hyung. Kau mengerti?”

“T-tapi hyung—“

“Cepat lakukan saja apa yang aku katakan, Jeon Jungkook!” Taehyung mendorong Jungkook dengan kasar, membuat Jungkook hampir terjatuh karenanya.

“Untuk kali ini saja, lakukanlah apa yang aku suruh. Aku mohon.”

.

Minggu, jam 09.30

.

BUK!

Kursi usang yang sudah lama terletak di gudang itu patah seketika saat punggung seseorang menimpanya dengan keras. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya yang pecah, ditambah dengan luka memar di pipinya. Pukulan-pukulan yang diterimanya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hampir tidak sadarkan diri. Lima orang itu masih belum puas melampiaskan emosi mereka padanya. Berkorban itu memang menyakitkan bukan? Tapi setidaknya ia tidak perlu menyesal nantinya jika membiarkan orang yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri terkena imbasnya juga.  Toh anak itu tidak ada hubungannya dengan masalah mereka, dia hanya anak baru yang masuk ke klub musik tanpa tahu apa-apa tentang masa lalu mereka.

“Yaak, Kim Taehyung! Masih belum menyerah?” teriakan Jongdae bergema diseluruh ruangan gelap itu. Bau khas kayu yang sudah lapuk menebar dimana-mana.

Bahkan untuk membalas perkataan Jongdae pun ia tidak bisa, mulutnya sakit saat digerakkan. Pipinya sudah bengkak akibat pukulan bertubi-tubi dari lima orang itu.

Jongdae mendekati Taehyung, menarik rambutnya dengan kasar sambil mendekatkan mukanya pada wajah pemuda dihadapannya.

“Ini akibatnya jika berani berurusan dengan kami.”

Lagi-lagi ia menampar pipi Taehyung, penglihatannya jadi berkunang-kunang. Digenggamnya tangan Jongdae yang sedang mencengkram rambutnya itu perlahan,

“Pukul saja sepuasmu, hyung.” Taehyung tersenyum mengejek, “Aku tidak akan terpancing..”

BRUK!

Cengkraman tangan Jongdae memang sudah lepas dari rambut Taehyung, tapi sasarannya kali ini berpindah ke perutnya. Jongdae berhasil memukul tempat organ pencernaannya itu sampai terasa ngilu.

Ia terbatuk-batuk. Air liurnya terasa asin saat itu, seakan isi perutnya mendesak ingin keluar.

“DIAM!” teriak Jongdae marah. Mukanya sudah merah padam karena emosi.

“Kau hanya iri dengan kami, bukan?”

“Cih!” Jongdae meludah, lalu ia tertawa sinis. “Iri katamu? Untuk apa aku iri pada klub musik seperti kalian? Kalian itu payah, tidak bisa apa-apa. Kemampuan kalian jauh dibawah kami. Seharusnya kau sadar, Taehyung!”

“Ya, kami memang payah. Kemampuan kami masih jauh dibandingkan dengan klub musik Tonan. Tapi satu hal yang perlu kau tau, hyung..” Taehyung kali ini melirik Jongdae dengan tajam, pandangannya saat itu penuh keyakinan dan menantang.  “…Kami selalu bertindak jujur dan sportif!” Taehyung mengangkat kepalanya, ia berdiri perlahan. Senyum sinis masih menghiasi bibirnya kala itu.

“Pemikiran yang bagus, Taehyung-ah!” teriakan seseorang dari luar gudang mengalihkan pandangan mereka semua. Pintu gudang yang tertutup tiba-tiba terbuka perlahan. Cahaya mulai masuk, menyinari ruang gelap itu secara keseluruhan.

Seorang pemuda dan kedua temannya sedang berdiri di depan pintu, ia tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih.

“Chanyeol-hyung?” gumam Taehyung terkejut. ‘Sial, datang lagi temannya.’ umpat Taehyung dalam hati. Ia yakin, Chanyeol hanya akan memperburuk keadaan.

Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo masuk ke dalam gudang. Pintu masih terbuka dengan lebar, tapi sepertinya tidak ada yang berniat untuk menutupnya lagi. Mereka berjalan melewati Jongdae dan suruhannya, lalu membantu Taehyung yang sudah babak belur untuk berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo, ia melilitkan tangan Taehyung ke bahunya sendiri.

Taehyung terpana. Kyungsoo yang dari dulu tidak pernah peduli dengan mereka, sekarang bertindak sok pahlawan? Ia masih ingat saat Jongdae dan kawan-kawannya memukuli klub Boudan, Kyungsoo hanya melihat mereka dari kejauhan. Ia tidak melakukan apapun, bahkan tidak berusaha untuk menghentikan apa yang terjadi saat itu.

“Mana mungkin dia tidak apa-apa, Kyungsoo-ah. Mukanya sudah hancur dipukuli Jongdae.” Chanyeol berbalik, melemparkan pandangan menusuk pada orang yang tadi menganiaya Taehyung.

Jongdae berdesis, “Pikirkan kau sedang berada dipihak siapa, Chanyeol! Kau tau persis, mereka adalah lawan kita. Kenapa kau membantunya?” Suaranya meninggi lagi, tidak berbeda dengan cara bicaranya pada Taehyung barusan.

Raut wajah Chanyeol berubah. Tergurat emosi yang ditahan, namun ia masih sanggup mengendalikannya.

“Mereka memang lawan kita, Jongdae. Tapi kau juga tau persis, mereka lawan kita dibidang musik, bukan fisik!”

Ekspresi wajah Jongdae kali ini sulit ditebak. Ia terdiam seketika.

“Kami sudah membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau, Jongdae-ah. Tapi yang ini sudah keterlaluan.” Kali ini Baekhyun yang berbicara. Nada suaranya datar, tapi jelas sekali penekanan yang dilakukannya di kata ‘keterlaluan’ itu.

“Jadi sekarang kalian menyalahkanku, begitu? Cih! Jangan sok suci, Chanyeol. Kau juga ikut berkelahi waktu itu bukan?”

Deg! Pukulan keras bagai menghantam hatinya saat itu. Chanyeol terhenyuk. Kata-kata Jongdae tepat sasaran, ia kalah telak.

Mereka semua terdiam. Bahkan Baekhyun yang biasanya pintar berbicara pun tidak bisa membalas kata-kata Jongdae barusan.

“Kenapa kalian diam? Baru sadar kalau kalian sama saja denganku, hah? JAWAB!” Sebuah kursi jadi korban lagi, patah tak berbentuk setelah kena tendangan kuat dari Jongdae. Ia mengambil kaki kursi yang patah itu.

Ia melewati Chanyeol, lalu berhenti tepat dihadapan Taehyung dan Kyungsoo. Tangannya melambai, sebentar lagi muka Taehyung akan kena sasaran kemarahan Jongdae lagi.

PLAK!

Tepat! Pukulan keras akibat emosi yang meluap dari Jongdae pas mengenai sasaran. Bahunya bertemu dengan kaki kursi itu, meninggalkan bekas yang cukup kentara karena kotoran kayu itu menempel di bajunya.

“Chanyeol!” Kyungsoo dan Baekhyun berteriak secara bersamaan.

Benar. Chanyeol sekarang berdiri memunggungi Taehyung dan Kyungsoo, bahunya jadi korban. Ia merasakan sakit yang amat sangat mulai menjalar di sekitar bahunya.

“Hyung?” Taehyung sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Apakah ini pengaruh pukulan Jongdae yang membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik?

Chanyeol melindunginya?

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!” Kyungsoo sekali lagi berteriak. Kali ini penuh dengan kekesalan.

Chanyeol tersenyum miris.

“Jika dengan begini, aku bisa memperbaiki kesalahan yang dulu, aku rela dipukul berapa kalipun.” Ia menoleh pada Taehyung yang sedang menatapnya heran. Ia tersenyum lagi, lalu mengalihkan pandangan pada Jongdae.

Baekhyun mengigit bibirnya, menahan emosi. Apa-apaan sahabatnya ini? Berlagak sok keren seperti itu. Ia tau persis, Chanyeol adalah orang yang baik. Terlalu baik malah. Mungkin Chanyeol akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang tidak pernah ia perbuat dua tahun yang lalu. Tapi kenapa harus melakukannya sampai sejauh itu? Bukan Chanyeol yang seharusnya menanggung hal ini, tapi ‘orang itu’!

PLAK!

Sekali lagi, pukulan itu sekarang mengenai bahu Chanyeol yang sebelahnya. Sudah terlambat, Jongdae mengamuk bak harimau liar. Ia sudah muak dengan tingkah Chanyeol yang berlagak jagoan. Ia mengayunkan kayu itu kesana kemari. Chanyeol meringis kesakitan sambil memegangi bahunya. Namun sepertinya Jongdae tidak akan puas, ia pasti akan melakukannya lagi. Mereka semua panik.

Chanyeol mendorong tubuh Jongdae ke arah dinding. Mereka berdua terpental, Jongdae tertimpa tubuh Chanyeol yang jauh lebih besar darinya.

“Kalian pergi dari sini!” teriaknya masih berusaha menahan Jongdae.

Empat orang teman Jongdae yang lain sepertinya tidak ingin ikut campur lebih jauh, mereka hanya disuruh untuk membuntuti Taehyung. Mereka segera keluar, tanpa mempedulikan Jongdae yang kesakitan karena tubuh Chanyeol.

“Kau bawa dia keluar. Aku akan membantu Chanyeol.” Baekhyun memberikan perintah pada Kyungsoo, dan dituruti oleh pemuda itu. Sementara dia berlari ke arah Chanyeol dan Jongdae yang sedang bergulat.

Baekhyun merebut kayu yang ada di tangan Jongdae dengan paksa. Saat itu gerakan Jongdae berhasil dikunci oleh Chanyeol menggunakan kaki dan tangannya. Meskipun sedang terluka,  Chanyeol tetap lebih unggul dibidang fisik dibanding Jongdae.

“Jangan pernah mendekati mereka lagi, mengerti?!” suara berat Chanyeol bergema di ruangan itu. Jongdae yang tertelungkup dengan tangan terkunci oleh tangan Chanyeol ke belakang punggungnya hanya bergumam tidak jelas.

“Jika kau melakukannya lagi, kubunuh kau!”

BRUK! Tubuh Chanyeol jatuh mencapai tanah.

Pandangannya perlahan-lahan mengabur. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang tidak karuan. Semuanya menjadi gelap.

.

.

.

“Taehyung-ah!” Yoongi sudah meledak, ia sudah kehilangan kendali emosinya saat berlari mendekati Taehyung yang duduk sendiri di di tengah lapangan sekolah Tonan. Melihat wajah babak belur sahabatnya itu, Yoongi mendadak berteriak.

“Apa yang ada di otak tumpulmu itu, Kim Taehyung? Kau mau cari mati hah?!” amarah Yoongi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia benar-benar marah saat mengetahui Taehyung dibuntuti oleh Jongdae, dan bertindak ceroboh dengan mengorbankan dirinya sendiri. Ketika itu Jin, Hoseok, Jimin, Namjoon, dan Jungkook tertinggal dibelakang Yoongi karena pemuda itu sudah berlari duluan mendekati Taehyung.

Jin mengejar Yoongi, ia menepuk pundak pemuda itu pelan.

“Sudahlah Yoongi, kendalikan emosimu.” ucapnya lembut. Ia memperhatikan Taehyung, kondisinya sangat memprihatinkan.

“Bagaimana tidak emosi, hyung! Anak bodoh ini sudah berani bertindak ceroboh. Kalau terjadi apa-apa terhadapnya, bagaimana?” Suara Yoongi masih bernada tinggi, ia terlanjur dibakar oleh amarah meledak-ledak.

Namjoon memandang sekilas pada Taehyung, kemudian mulai menyusuri sekolah. Ia berlari-lari kecil disekitar daerah itu. Entah apa yang ia cari.

Sementara itu Jungkook, Hoseok dan Jimin ikut mendekati Taehyung, jelas sekali tergurat rasa khawatir di wajah mereka masing-masing.

Jin duduk disamping Taehyung yang tidak berani mengucapkan apa-apa. Ia terlalu takut menghadapi kemarahan Yoongi. Ia diam saja.

“Kau baik-baik saja, Taehyung-ah?” Jin memandangi wajah Taehyung. Mulai dari sisi kanan, sampai sisi kiri.

Taehyung mengangguk.

“Katakan, apa Jongdae yang melakukan hal ini padamu?” nada suara Yoongi memang sudah tidak setinggi tadi, tapi masih tersirat amarah dari cara bicaranya. Ia sudah tau siapa pelakunya, hanya saja ia ingin memastikan lagi dari mulut Taehyung.

“Yoongi, tenanglah. Bukan saatnya mempermasalahkan hal itu. Lebih baik sekarang kita bawa Taehyung ke tempat yang lebih aman. Aku khawatir kedatangan kita kesini malah memicu permasalahan yang lebih besar. Kau sadar kan, ini wilayah sekolah Tonan.”

“Benar, hyung. Dari tadi mereka memandangi kita, aku rasa sebentar lagi kita akan diusir dari sini.” Jimin menyetujui saran Jin. Walaupun hari minggu, sekolah masih saja ramai oleh murid-murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Semua sekolah sepertinya begitu, bahkan di Boudan Shounen sekalipun.

“Aku tidak peduli. Kali ini Jongdae benar-benar minta dihajar. Persetan dengan hukuman itu. Perbuatannya sudah keterlaluan!” Yoongi dengan cepat berlari dari hadapan mereka, ia tidak mengindahkan lagi saran dari Jin yang terkenal bijaksana.

Jin berdiri seketika, ia menendang tanah bekas ia duduki tadi. Sepertinya perbuatan Yoongi ini telah memicu emosinya pula.

“Sial! Anak itu benar-benar susah diatur.” Jin mengumpat kesal. Baru kali ini ia termakan emosinya sendiri.

“Jungkook dan Jimin, kalian jaga Taehyung disini. Aku dan Hoseok akan menyusul Yoongi. Dan kau Namjoon—“ kata-kata Jin terhenti saat ia sadar Namjoon sudah tidak ada disekitar mereka.

“Kemana Namjoon?” ia melanjutkan kalimatnya. Ia memandang ke sekitar, melirik ke sana dan kemari, namun orang yang dicari tidak ditemukan juga.

“Hyung, sepertinya kita harus cepat-cepat bertindak sebelum mereka berdua mengacaukan keaadaan..” Hoseok yang pintar membaca situasi, segera memberi saran.

“Mereka berdua membuatku geram!” Jin menggemertakkan giginya, tinjunya dikepal kuat-kuat, berusaha menghilangkan rasa marah yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Ia segera berlari ke jalan yang dilalui Yoongi tadi, diikuti oleh Hoseok.

Sementara itu, Jungkook dan Jimin berjaga-jaga di samping Taehyung. Belum ada yang berani membuka suara.

“Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan, Jungkookie?” perlahan Taehyung membuka mulutnya. Rasa sakit kembali menjalar di sekitar pipi saat ia menggerakkannya untuk bersuara.

Jungkook menunduk, tidak berani memandang Taehyung. “Aku sudah melakukan apa yang kau suruh hyung. Aku sudah lari, bukan?” gumamnya pelan.

“Bukan yang itu maksudku, anak bodoh! Aku menyuruhmu memanggil Jin hyung SAJA. Lalu kenapa mereka juga ada disini?”

“Apa boleh buat hyung. Jin hyung sedang bersama mereka saat aku datang.”

“Karena itu pakai otakmu, anak muda. Kau bisa mengakalinya, bukan? Lihat apa yang terjadi sekarang. Kita semua pasti tamat.” Taehyung melepaskan nafasnya dengan berat. Mukanya frustasi.

“Maaf, hyung..” terlihat rasa sesal tergambar di wajah Jungkook saat ini. Ia tahu, semua orang sangat mencemaskan Taehyung, karena itu keadaanya menjadi sangat panas. Bahkan Jin yang sulit terpancing sekalipun, telah termakan emosi pula. Mereka semua sedang kehilangan kendali.

“Sudah, jangan memarahi Jungkook. Ini semua bukan salahnya, Taehyung. Ia sudah berusaha menyembunyikan dari kami, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat itu. Akulah yang memberi tahu pada yang lain.” Jimin menghentikan adu mulut itu, ia tidak mau suasana menjadi semakin keruh.

Taehyung memandang sekilas pada Jimin, lalu menunduk. Ia sudah tidak ada tenaga untuk bertengkar.

“Aku hanya tidak habis pikir, kenapa orang itu melindungiku.” Taehyung bergumam, hampir tidak terdengar.

“Orang itu?” Jungkook yang duduk lebih dekat dengan Taehyung sepertinya mendengar gumaman itu dengan jelas.

Taehyung mengangguk.

“Kakakmu, Jungkookie. Park Chanyeol.”

‘PARK?’

Jungkook terkesiap tidak percaya. Dua kenyataan yang diterimanya saat ini. Dua kenyataan yang bisa memberikan respon bertentangan terhadapnya..

Bagaimana mungkin, orang yang paling dibencinya rela melindungi Taehyung yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri? Sebodoh itukah Chanyeol mengorbankan diri untuk lawannya sendiri?

Kemudian, yang lebih mengejutkannya adalah nama keluarga yang digunakannya.

Park? Sejak kapan Chanyeol merubah nama depannya jadi nama depan yang sama seperti ibunya? Apakah Chanyeol benar-benar ingin menghapus semua yang berhubungan dengan dirinya dan ayah mereka?

Rasa dendam dan benci sepertinya lebih kuat menguasai perasaan anak itu sekarang, menelan semua pengorbanan yang telah dilakukan Chanyeol terhadap Taehyung…