The Final Chapter Is The First Love, (a naruto fanfiction)

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

Note : Cerita ini hanya fiktif belaka, terinspirasi dari trailer Naruto the movie, The Last. Bukan canon. Happy reading ^^

.

.

Mereka berdua berjalan beriringan, tapi hanyut lagi dalam diam. Apa sebenarnya yang ada dipikiran dua insan berlawanan jenis itu? Dari tadi mereka tidak mengatakan apapun, hanya menyusuri jalan dengan tekun dan tenang. Oh, dunia berputar terlalu lama jika mereka tidak mengatakan apa-apa!

.

.

Dua tahun setelah perang shinobi keempat, disebutlah masa itu sebagai “Blank Period”. Keamanan dunia shinobi bisa dibilang telah terwujud, berbagai negara yang dahulunya selalu bersiteru, sekarang malah menjadi rekan yang solid. Perang shinobi ke empat berdampak sangat baik untuk mereka.

Hari itu, Tsunade secara resmi memberikan tahtanya sebagai hokage ke lima kepada orang yang dirasa sangat pantas untuk menerimanya, Hatake Kakashi. Selain otaknya yang jenius, Kakashi dirasakan mampu untuk memimpin dan melindungi Konohagakure. Guy juga sebenarnya adalah salah satu kandidat yang kuat untuk menjadi Hokage, tapi Tsunade merasa Kakashi adalah orang yang lebih tepat. Mungkin ada beberapa alasan yang membuat Tsunade memilih Kakashi dibanding Guy.

Sorak sorai meriah dari para penduduk Konoha menggemparkan hari penting itu. Mereka sangat bersemangat menyambut Hokage mereka yang baru. Tidak lupa pula, semua anak didik Kakashi datang untuk memberikan selamat pada Sensei mereka. Begitu pula dengan Tim 8, 9, dan 10. Mereka semua berkumpul di acara pengangkatan Kakashi.

“Sensei, selamat telah menjadi Hokage.” ucap Sakura pada Kakashi dengan riang. Ia tidak henti tersenyum saat itu. Disampingnya berdiri Naruto dan Sasuke.

“Ck! Lihat saja nanti, aku yang akan menggantikanmu menjadi Hokage ke tujuh, sensei.” Naruto menggerutu, ia terlihat kesal saat itu.

Sasuke menimpali, “Masih butuh seratus tahun untukmu agar bisa jadi Hokage, Dobe.”

“Diam kau teme! Mau berkelahi lagi hah?!”

“Sudah, sudah. Sampai kapan kalian mau berkelahi terus?” Sakura menggerutu, keningnya mengernyit seperti orang yang dilanda pusing berlebihan, lalu mengalihkan pandangan pada Kakashi, “Sensei, setelah kau menjadi Hokage, tentu saja aku yang akan mengurus mereka berdua. Ah, akan sangat merepotkan jika harus selalu melihat mereka bertengkar seperti ini.”

Kakashi hanya tertawa melihat tingkah anak didiknya itu.  Naruto dan Sasuke tetap saja suka bertengkar, seakan melupakan kejadian dua tahun yang lalu. Naruto kehilangan tangan kanannya, sedangkan Sasuke kehilangan tangan kirinya akibat perkelahian maha besar diantara mereka. Dua ninja paling kuat di dunia shinobi bertempur mati-matian untuk membuktikan seberapa kuat ikatan yang ada di antara mereka berdua. Kehilangan satu tangan sepertinya tidak menjadi masalah, jika pada akhirnya mereka kembali berbaikan. Pada akhirnya,  perjuangan Naruto untuk membawa Sasuke kembali ke Konoha tidaklah sia-sia.

Selain tim 7, beberapa tim seangkatan mereka juga ikut memberikan selamat pada Kakashi. Mereka semua berkumpul disana, kecuali Shikamaru dan Kiba yang sedang menjalankan misi di Sunagakure bersama Temari.

Acara pengangkatan itu selesai saat matahari sudah mulai berjalan ke ufuk barat. Warna orange kekuningan sudah membentuk siluet yang benar-benar indah sore itu. Langit sangat bersih, sore yang tenang ditambah dengan angin sejuk sepoi-sepoi.

“Teman-teman, aku ada urusan sebentar. Kalian duluan, nanti aku menyusul.” Tiba-tiba Naruto menghentikan langkahnya ketika akan pulang bersama Sasuke dan Sakura.

“Urusan apa, Naruto?” tanya Sakura.

Naruto menggeleng, “Bukan urusan yang besar. Aku pergi ya.” Katanya lalu melompat secepat kilat melewati rumah-rumah penduduk yang baru dibangun karena hancur akibat perang. Sasuke hanya melihatnya tanpa ekspresi, lalu berjalan lagi.

“Aku penasaran, Naruto ada urusan seperti apa.” Sakura berbicara lambat, seakan omongan itu untuk dirinya sendiri. Tapi Sasuke dapat mendengarnya.

Sasuke yang pelit ekspresi itu menjawab dengan tenang, “Mungkin ke makam orang tuanya.”

Sakura membesarkan matanya, “Maksudmu ke makam Yondaime?”

“Hn..” jawab pemuda dingin itu pendek.

“Kenapa kau begitu yakin?” Sakura mendelik penasaran pada pemuda di sampingnya.

Sasuke terdiam sesaat, lalu membuka suara, “Akhir-akhir ini aku sering melihatnya mengunjungi bukit di ujung sana. Kata Kakashi, yondaime dimakamkan di sekitar situ.”

“Begitu ya? Kalau dipikir-pikir, ayah Naruto adalah orang yang  sangat keren. Berbeda sekali dengan anaknya.” Kata Sakura, “ Kau lihat sendiri kan? Naruto sangat bodoh, berisik, pembuat onar, dan selalu mengangguku. Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa menjadi anak Yondaime.”

Sasuke mengangkat bahunya, “Mungkin Yondaime sedang tidak beruntung waktu itu.”

Beberapa kata pendek dari Sasuke cukup membuat  Sakura tertegun. Agak lama ia menjawab, dan seketika gadis itu tertawa kencang. Ia tertawa sampai air matanya keluar, menurutnya jawaban Sasuke benar-benar lucu. Sasuke mau tidak mau ikut tersenyum, tapi bukan karena perkataannya barusan. Sasuke hanya tidak kuat melihat Sakura yang tertawa dengan lepas. Selama ini, gadis itu selalu terlihat menutupi kepribadian sebenarnya jika sedang berada dihadapannya. Jarang sekali ia melihat Sakura seperti itu, Sakura yang menjadi dirinya sendiri.

“M-maaf Sasuke-kun…” Sakura segera menghentikan tawanya saat sadar kalau ia sekarang hanya berdua dengan Sasuke. Ia seketika merasa malu. Wajahnya memerah saking panasnya.

Sasuke memperhatikan Sakura dengan pandangan yang sulit ditebak. Lama ia menatap Sakura, lalu kembali memalingkan wajahnya dari gadis itu.

“Ayo, sudah sore.” Katanya, lalu berjalan duluan. Sakura pun mengikutinya dari belakang.

“Bodoh, apa yang aku  pikirkan!” kata Sasuke dalam hati. Ia tidak mengerti, kenapa wajahnya ikutan memanas saat memandang Sakura tadi.

Sakura. Sakura. Sakura. Dari dulu ia tahu, Sakura selalu menyukainya. Gadis berambut pink itu jelas-jelas memiliki perasaan padanya. Sejak pertama kali masuk Akademi, setiap perempuan yang pernah ditemuinya pasti akan mengejarnya. Termasuk Sakura, gadis yang ada disampingnya saat ini. Ia telah merasa biasa jika ada perempuan yang mendekatinya, menyatakan cinta padanya, lalu menangis tersedu-sedu karena telah ditolaknya dengan kejam. Lalu bagaimana dengan Sakura? Sakura tidak pernah menyatakan perasaan padanya, tapi ia tahu Sakura menyukainya. Bahkan sebelum Naruto bercerita padanya setahun yang lalu tentang perasaan Sakura padanya. Ia telah merasakan perasaan Sakura jauh sebelum itu.

Mereka terus berjalan beriringan. Sakura pun ikut tenggelam dalam pikirannya, setelah mengutuki dirinya sendiri karena berlaku memalukan dihadapan Sasuke. Padahal ia sudah bersusah payah untuk menjadi perempuan anggun di depan orang yang disukainya.

Tiba-tiba Sasuke berhenti,

“Oi, aku meminta sesuatu.”  Katanya tanpa menoleh pada Sakura.

Deg!

Jantung Sakura berdetak kencang. Matanya kembali membesar, memperhatikan punggung pemuda yang ada di hadapannya.

“Meminta sesuatu?” tanya Sakura lagi, berusaha meyakinkan apa yang sudah dikatakan Sasuke. Agak lama Sasuke membalas pertanyaan Sakura, ia hanya butuh sedikit waktu lagi untuk mengucapkan ini. Ia merasa agak gugup waktu itu, entah kenapa.

“Bisakah kau bersikap seperti itu setiap kali ada aku?” katanya pelan, namun jelas sekali ia bergetar.

Sakura mengernyitkan keningnya tidak mengerti. “M-Maksudmu Sasuke-kun?”

Sasuke terdiam sesaat, lalu kembali berjalan.

“Aku lebih suka dirimu yang tertawa lepas seperti tadi.”

-_______-

Terpaan angin sore meluruhkan titik-titik keringat yang sedari tadi membasahi wajah dan lehernya. Nafasnya masih belum teratur karena gerakan cepat yang tadi ia lakukan untuk menghindari para sahabat yang ingin tau urusannya. Bukan ingin menjadi orang yang tertutup. Itu bukan dirinya. Ia hanya ingin melakukan ‘urusan’ ini seorang diri, berusaha mencurahkan segala isi hati yang selama ini ia pendam dengan paksa.

Batu nisan putih dihadapannya terlihat berkilat, tergoret dengan tulisan timbul yang diberi nama “Uzumaki Kushina”. Ia menatap pada nisan itu agak lama, membiarkan nafasnya teratur, seraya menunggu relaksasi di kaki-kakinya yang tadi berlari dengan cepat.

“Ibu..” ucapnya pelan. Matanya terlihat sangat sendu. “Apa kau baik-baik saja disana?”

Naruto membungkuk, mengusap nisan itu dengan lembut seolah-olah benda mati itu adalah ibunya. Ia tersenyum pahit.

“Kau tau, bu? Kakashi sensei akhirnya menjadi Hokage. Padahal dia tidak pernah berniat untuk menjadi pemimpin desa, tapi gelar itu malah didapatnya dengan mudah. Yah, dia memang ninja paling berbakat di Konoha ini. Pastinya gelar Hokage sangat tepat untuknya. Ya kan?”

Naruto masih mengusap nisan itu dengan penuh perasaan. Ia melampiaskan semua perasaannya saat itu di makam sang ibu. Ditatapnya nisan itu, lalu kemudian menutup matanya perlahan. Ia merasakan rindu yang amat sangat pada wanita yang sempat ia temui ketika segel Kyuubi hampir lepas untuk kedua kalinya. Perempuan berambut merah, cantik tapi menakutkan. Itulah ibunya, Kushina Uzumaki.

“Sasuke memutuskan untuk pergi menjelajahi dunia, Bu. Padahal si teme itu akan lebih berguna jika berada di Konoha. Dia ninja jenius yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan desa. Tapi apa boleh buat? Sahabatku itu memang keras kepala. Sepertinya aku akan berpisah lagi dengannya.”

Sekarang ia berdiri, jubahnya kembali diterpa oleh angin sore yang mulai dingin. Ia memandang ke kejauhan, terlihat banyak pohon besar dan bunga-bunga bermekaran di sekeliling bukit itu. Ia dapat menggambarkan bahwa pemandangan disana sangat indah.

SREKKK SREKK—-

Naruto segera waspada. Suara seperti rumput yang diinjak terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Instingnya sebagai ninja dan kemampuannya untuk bersatu dengan alam membuat telinganya menjadi sangat peka terhadap sesuatu yang tidak biasa.

SREKKK SREKK SREKK—

Kali ini suaranya jauh lebih lama dibanding yang tadi. Naruto segera mengambil tindakan, ia berjalan memutar dengan pelan sehingga langkahnya tak terdengar saat ia bersembunyi dibalik pohon yang paling besar disana.

Sesaat ia melihat siapa yang keluar dari balik rerumputan tinggi diseberang makam ibunya, matanya membesar tidak percaya. Dia? Apa yang dia lakukan disini? Pertanyaan itu memutar-mutar di kepalanya.

Orang itu berjalan mendekat ke makam Kushina, lalu berjongkok sambil meletakkan buket bunga yang ia bawa. Ia berjongkok agak lama, memandang nisan didepannya, lalu menutup mata seperti sedang berdoa. Beberapa saat kemudian, ia berbalik. Betapa terkejutnya ia, ketika tertangkap basah oleh orang yang justru tidak ia inginkan untuk tahu.

“N-naruto-kun?” pekiknya gagap, mukanya memerah dan malu.

Naruto menatapnya heran, “Apa yang kau lakukan, Hinata?”

Hinata tidak segera menjawab, hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia merasa malu karena telah lancang mengunjungi makam istri Hokage ke empat tanpa sepengetahuan anak mereka. Bukankah ia bukan siapa-siapa mereka?

Naruto menunggu jawaban Hinata dengan tenang. Tapi pertanyaannya tetap tidak dijawab, sepertinya sudah menguap oleh sinar matahari sore kala itu.

“Hinata—“

“Maafkan aku, Naruto-kun.” Hinata tiba-tiba membungkuk sedalam yang ia mampu,  berusaha menampakkan betapa ia menyesal dengan perbuatannya itu.

“Maaf?” sekarang Naruto makin heran. Apa maksud gadis dihadapannya ini sebenarnya? Tiba-tiba datang memberi bunga untuk ibunya, lalu meminta maaf padanya tanpa alasan yang jelas.

“M-maaf karena aku telah lancang mengunjungi makam ibumu. Aku hanya ingin berdoa untuknya, untuk semua orang yang sudah meninggal karena mempertaruhkan nyawa mereka demi desa Konoha.”

Naruto akhirnya mengerti maksud Hinata. Jika dia bilang ‘untuk semua orang’, berarti Hinata tidak hanya mengunjungi makam ibunya, tapi mungkin makam Neji dan Asuma juga, serta ninja lain yang sudah meninggal.

Naruto menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendekati nisan ibunya lagi.

“Terima kasih sudah memberikan bunga pada ibu, Hinata. Aku rasa ibu akan suka. Aku sendiri belum pernah membawa sesuatu tiap datang ke makamnya.”

“Kau tidak marah, Naruto-kun?” Hinata mendongak sedikit untuk melihat reaksi Naruto yang sedang memunggunginya itu.

“Kenapa harus marah?  Pasti ibu senang menerima bunga-bunga ini..”

Hinata merasa sedikit lega, rasa was-was akan dimarahi Naruto akhirnya hilang begitu saja setelah perkataan pemuda itu barusan. Ia menatap punggung Naruto, tapi tidak sanggup untuk memulai pembicaraan lagi.

“Hei Hinata..” Naruto berbalik, ia memandang Hinata lekat-lekat. “Apa kau juga mengunjungi makam Neji?”

Hinata mengangguk pelan. “Hari ini aku membawakan bunga untuk Neji nii-san dan ibumu. Mungkin besok aku akan mengunjungi makam ibu juga..”

Seulas senyum terpatri di bibir Naruto. “Seharusnya kau mengunjungi makam ibumu dulu, baru setelah itu kunjungi makam ibuku. Kau aneh sekali..”

Wajah Hinata kembali memerah, mukanya panas seketika. Lagi-lagi ia menunduk.

“Apa aku boleh ikut ke makam ibumu besok?”

Terang saja Hinata kaget mendengar perkataan Naruto. Sejak kapan Naruto menjadi peduli padanya? Bukan. Mungkin Hinata hanya salah tafsir. Naruto pasti juga berpikiran sama dengannya saat itu, bahwa mengunjungi makam para pahlawan Konoha adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk mengenang mereka. Tapi ibunya bukan pahlawan Konoha, ia hanya seorang ibu yang mengasuh dua anaknya dengan baik dan menuruti kata-kata suaminya dengan taat. Ibunya bukan seorang ninja.

“Naruto-kun?” Seakan-akan tidak percaya dengan perkataan Naruto, Hinata mengulangi lagi memanggil orang yang ada dihadapannya. Ia takut salah dengar.

“Tidak boleh, ya?”

“B-bukan begitu maksudku. Tapi apa kau benar-benar ingin ke makam ibu?”

Naruto mengangguk. “Tentu saja. Mungkin aku akan membawakan beberapa bunga juga untuknya.”

Pemuda itu menatap Hinata lekat-lekat, penuh keyakinan dan tanpa ragu. Tersirat tekat yang besar dan prinsip seteguh baja di mata biru sapphire pemuda itu. Hinata benar-benar tidak tahan berlama-lama berhadapan dengan Naruto. Ini membuatnya panas dan tersiksa.

“B-baiklah kalau begitu.” Jawabnya terbata-bata.

Mereka menikmati desiran angin yang lewat melalui celah-celah pohon yang tumbuh lebat. Sejuk, tenang, teduh, dan nyaman. Angin sore memang selalu menyenangkan.

“Naruto-kun, apa kau sering mengunjungi makam ibumu?” tanya Hinata, mencoba memecah keheningan yang lagi-lagi terjadi di antara dua anak manusia itu.

Naruto tidak menoleh pada lawan bicaranya, matanya masih terpaku pada nisan sang ibu.

“Hanya akhir-akhir ini saja. Tiba-tiba aku merasa kesepian,  Kakashi-sensei terlalu sibuk mengurus persiapannya menjadi Hokage. Sasuke tidak bisa diharapkan, dia lebih senang berdiam diri di rumahnya, sedangkan Sakura-chan sudah terlalu direpotkan oleh pasien di rumah sakit Konoha.”

Hinata menggigit bibir bawahnya. Ia tidak di anggap? Oh tentu saja. Sudah dua tahun sejak perang itu, tapi Naruto tidak menunjukkan tanda apa-apa padanya. Penyataannya waktu itu mungkin sudah dilupakan oleh pemuda yang dari dulu dikaguminya. Lalu siapa dia menurut Naruto? Dua tahun ini mereka berdua begitu kaku, begitu biasa. Naruto masih dengan sikapnya yang ‘tidak peka’. Memang, bukan kewajiban pemuda itu untuk menjawab pernyataan cintanya yang dulu sempat ia ungkapkan ketika Invasi Pain. Ia juga berhak melupakannya. Hanya saja, Hinata merasa teriris-iris setiap kali mereka bertatap muka.

“Lalu Naruto-kun mencurahkan isi hati pada ibumu?” gugup yang keluar dari suara Hinata. Ia tidak berniat bertanya, tapi cukup berhasil mengalihkan pikirannya dari perasaan ‘tidak dianggap’.

“Apa kau juga melakukan hal yang sama, Hinata? Tebakanmu sepertinya tepat..” jawab Naruto pelan. Entah kenapa suaranya jadi sendu, jauh berbeda dengan sifat aslinya.

Hinata merasakan sedikit kesedihan di balik suara pemuda berambut kuning itu. Ia terhenyuk.

“Tentu saja. Walaupun sudah tidak berada di dunia ini lagi, aku rasa bercerita pada ibu kita sendiri adalah obat paling ampuh untuk menghilangkan rasa sedih. Aku sering melakukannya dulu.”

‘Dulu’? Berarti Hinata sekarang sudah tidak sering melakukannya, begitu? Mungkin saja benar, karena semua keadaan berbalik sekarang. Sang ayah yang dulu sangat merendahkannya, sekarang menjadi perhatian. Walaupun perhatian itu diberikannya secara tidak langsung dan implisit, tapi Hinata cukup peka merasakan semua kepedulian yang diberikan oleh ayahnya. Lalu adik perempuannya yang dulu terasa sangat jauh, sekarang adalah orang yang paling simpati terhadapnya. Hidupnya sudah cukup bahagia, ia tidak akan bersedih lagi.

Mereka berdua terdiam kembali. Suasananya menjadi sangat kaku. Hinata memang dari dulu adalah gadis yang tidak banyak bicara, ia jarang mengungkapkan apa yang ada dipikirannya, tapi bagaimana dengan Naruto? Pemuda itu sangat lain hari ini. Apa itu karena pengaruh lingkungan mereka saat ini? Karena mereka sedang berdiri dihadapan makam seorang istri Hokage sehingga semuanya harus khidmat.

“Sudah hampir malam, kau tidak mau pulang Hinata?” Sang pemuda mengagetkan gadis di sampingnya.

Hinata menoleh, lalu mengangguk.

“I-iya, kalau begitu sampai jumpa Naruto-kun.” Katanya lagi-lagi tergagap. Berhadapan dengan pemuda yang satu ini membuatnya menggunakan energi lebih banyak dari biasanya. Semua kata-kata yang ingin keluar seakan-akan terhenti di tenggorokannya.

Gadis itu membalikkan tubuhnya, berjalan menjauh dari makam Ibu Naruto. Ia tidak mendengar ada jawaban dari pemuda itu. Sekedar balasan dari kata-katanya tadi pun tidak dapat terdeteksi oleh telinganya. Ah kenapa Naruto jadi dingin seperti ini!

Ia terus berjalan menyusuri bukit itu, berniat untuk langsung pulang ke rumah. Acara pengangkatan Hokage cukup membuatnya lelah, karena ia ikut mempersiapkan segala sesuatunya dengan kunoichi lain seperti Sakura, Ino, dan Tenten. Lembayung senja sudah menghilang, diganti oleh sinar bulan sabit yang tidak terlalu terang. Malam itu cukup cerah karena awan sepertinya enggan mendekat pada langit Konoha. Sambil berjalan, tangannya terus memijit bahu yang terasa berat akibat kelelahan. Sesekali ia memandang ke langit, menatap bintang yang berkelap kelip menyapanya dengan ramah. Sungging senyum pun muncul dari balik bibirnya yang tipis.

Sreeet-

Sesuatu sepertinya mendekat, desir angin dari belakang membuat rambutnya beterbangan. Gerakan super cepat dari seseorang yang tidak ia ketahui membuatnya kaget. Seketika, orang tersebut sudah berdiri di hadapannya dengan terengah-engah.

“N-naruto-kun?” pita suaranya tercekat lagi saat mendapati siapa yang menyusulnya dengan gerakan secepat kilat. Pemuda itu makin lama makin mirip dengan ayahnya.

Naruto memegang lututnya, nafasnya belum teratur saat itu. Ia tampak kelelahan mengejar Hinata. “B-biar aku antar.” Ucapnya, setelah berhasil melancarkan saluran pernafasannya.

“Eh?”

“Anggap saja sebagai balasan karena sudah memberikan bunga untuk ibuku.”

“B-baiklah kalau begitu.”

Mereka berdua berjalan beriringan, tapi hanyut lagi dalam diam. Apa sebenarnya yang ada dipikiran dua insan berlawanan jenis itu? Dari tadi mereka tidak mengatakan apapun, hanya menyusuri jalan dengan tekun dan tenang. Oh, dunia berputar terlalu lama jika mereka tidak mengatakan apa-apa!

Semilir angin lagi-lagi menyapa mereka, menyusuri jalan setapak di bukit itu dengan lincah. Ia juga telah bosan menanti kedua anak manusia itu untuk membuka suara. Ia adalah saksi bisu tak berwujud yang telah setia menyaksikan kedua insan dari klan Uzumaki dan Hyuuga itu bergantian mengunjungi makam Kushina. Jika hari ini sang pemuda yang datang, maka besok pasti si gadis yang muncul. Jika mereka datang pada hari yang sama, maka satunya datang pada pagi hari, dan yang lainnya sore. Mereka tidak pernah dipertemukan oleh takdir di bukit ini. Namun kali ini berbeda, tiba-tiba saja sang Pencipta takdir mempertemukan mereka dengan cara yang sederhana. Memang tidak bermakna bagi kita, tapi tidak untuk mereka. Mengetahui kalau satu sama lain sering datang ke bukit ini, mengalirkan suatu rasa hangat ke relung-relung jantung mereka.

“Naruto-kun..” sang gadis akhirnya berinisiatif membuka suara .

“Ya?” Naruto melirik gadis itu lewat tepi matanya, tapi tidak menolehkan kepalanya sedikitpun.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Naruto mengangguk pelan. “Tentu saja, Hinata.”

Agak lama Hinata baru berbicara lagi. “Apakah Naruto-kun ada masalah lain yang sedang dipikirkan?”

Deg!

Naruto tercekat.

Gadis disampingnya ini sepertinya punya kemampuan Byakugan yang tidak biasa. Apakah ini jurus baru yang dikembangkannya? Menebak pikiran orang lain dengan tepat. Padahal ia sudah berusaha memberikan alasan pada gadis itu jika ia merasa kesepian akibat teman-temannya yang sibuk. Tunggu, umur mereka sekarang sudah berapa? Sembilan belas tahun, bukan? Tentu saja Hinata tidak akan percaya dengan alasannya itu. Mereka bukan anak-anak lagi. Orang dewasa seperti mereka tidak akan merasa kesepian hanya karena temannya sibuk.

“Apakah terlihat begitu, Hinata?”

Sunggingan senyum kembali menghiasi gadis itu.

“Naruto-kun biasanya adalah orang yang ceria dan bersemangat, aneh jika tiba-tiba saja kau menjadi pendiam seperti ini hanya karena kesepian. Apalagi kesepian karena teman-temanmu sibuk. Bukankah seharusnya kau bisa mencari kegiatan lain untuk menghapus kebosananmu?”

Hinata berani bersumpah, ini baru kali kedua dia berbicara panjang lebar dengan Naruto sejak perang dunia shinobi yang ke empat. Pertama adalah ketika Naruto hampir tenggelam oleh kegelapan akibat kematian Neji di hadapannya. Hinata saat itu menamparnya, lalu menceramahinya agar berusaha lebih kuat lagi. Dan yang kedua adalah barusan, setelah beberapa tahun ini mereka jarang berbicara.

Naruto akhirnya menyerah untuk menyembunyikan alasan sebenarnya dari Hinata. Gadis disampingnya ini lihai menebak pikirannya. Ia rasa tidak ada gunanya lagi untuk menutup-nutupinya.

“Kau benar, Hinata.” Katanya, sekarang benar-benar menoleh pada lawan bicara yang ada di sampingnya saat ini.

“ada beberapa hal yang menganggu pikiranku saat ini.” Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hitam yang sedang dikenakannya. Hawa bukit mulai terasa dingin.

Hinata menanti kata-kata Naruto dengan sabar.

“Pertama, tentang Sasuke. Kau tau, Sasuke teme itu akan pergi lagi dari Konoha. Ia memberikan alasan yang rumit, berkata tentang penebusan dosa atau apalah, aku tidak mengerti. Kakashi sensei mengatakan kalau Sasuke sudah dibebaskan dari semua hukuman, karena dia telah membantu mematahkan Jurus Infinite Tsukuyomi, tapi tetap saja kepala batunya itu tidak bisa dijejalkan dengan rayuan apapun.”

Sedikit emosi yang terlintas di wajah Naruto dapat terlihat oleh Hinata. Ia tahu, bahkan sangat mengerti perasaan Naruto saat itu. Sasuke yang sudah susah payah diperjuangkannya, sekarang mungkin akan meninggalkannya lagi. Sasuke, seorang sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara.

“Aku rasa Sasuke-kun punya alasan yang kuat untuk meninggalkan Konoha. Sasuke-kun berkata tentang penebusan dosa, bukan? Berarti dia ingin memperbaiki semua kesalahan yang sudah diperbuatnya selama ini. Walau bagaimanapun, dia adalah orang yang baik. Pasti ia sangat menyesali semua perbuatannya hingga ia ingin berbuat sesuatu untuk menebusnya.”

“Tapi kenapa harus meninggalkan Konoha lagi? Dia bisa menebus kesalahannya dengan membantu Konoha, bukan? Bahkan sampai sekarang pun aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya.” Kekesalan terlihat jelas dari wajah sang pemuda, nada suaranya agak meninggi tapi segera ia turunkan lagi setelah sadar bahwa Hinata bukanlah tempat pelampiasan emosinya.

“Tidak semudah itu, Naruto-kun. Mungkin kita dan orang-orang desa sudah memaafkan Sasuke-kun, bahkan sangat berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkan orang-orang desa dari Infinite Tsukuyomi. Tapi apakah dengan begitu, Sasuke-kun bisa memaafkan dirinya sendiri? Terkadang memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit, Naruto-kun.”

Sekali lagi, mata sapphire biru Naruto membesar saat memandang Hinata. Kata-kata yang dilontarkan gadis itu memang benar, tapi juga membawa rasa sakit pada jantungnya. Membawa Sasuke kembali ke desa sudah cukup membuatnya lelah, dan sekarang sahabatnya itu ingin pergi lagi karena suatu alasan yang menurutnya sangat sensitif. Memaafkan diri sendiri? Benar. Pasti Sasuke ingin mencari cara agar ia bisa memaafkan dirinya sendiri . Jika saja ia bisa melakukan sesuatu untuk Sasuke, ia pasti akan melakukannya saat itu juga.

“ Ya, aku mengerti Hinata.” Suara pemuda itu kembali memelan. Ia seperti kehilangan semangat, tanpa gairah. Kata-kata Hinata membuatnya berpikir kembali, apakah ia sudah cukup mengerti tentang Sasuke? Ia belum mempertimbangkan dari sudut pandang perasaan sahabatnya itu, ia seakan lupa bahwa Sasuke yang dingin dan pendiam itu sebenarnya juga manusia biasa. Sasuke sebenarnya adalah pemuda yang sangat rapuh. Kebencian yang dulu muncul pada dirinya itu karena ia terlalu baik. Ia tidak bisa kehilangan orang-orang yang disayanginya, ia tidak sekuat Naruto untuk menahan semua derita yang ia alami, sehingga rasa itu merubah dirinya menjadi orang yang penuh dendam. Sungguh, Sasuke sangat rapuh dengan kata-kata yang bernama “ikatan”. Lalu kebaikan hatinya itu sekarang akan menuntunnya lagi untuk menemukan jawaban, bagaimana cara menebus dosa yang sudah ia perbuat. Jika memang itu keinginan Sasuke, kenapa harus dilarang? Masih banyak kemungkinan ia akan kembali ke Konoha, bukan? Setidaknya, Sasuke sudah terlepas dari belenggu kebencian dan dendam yang merongrongnya bertahun-tahun yang lalu.

“Biarkan Sasuke-kun menemukan jawabannya sendiri, Naruto-kun. Aku yakin dia tidak akan meninggalkan lama-lama, karena kalian—“

“Karena kami adalah teman.” Ucapan Hinata dipotong dengan cepat oleh Naruto, seulas senyum terpatri pada wajah sang pemuda. Muka putra Hokage ke empat itu kembali cerah, senyumnya melebar seketika. Ada sedikit rasa lega yang menyusup di ruang hatinya saat itu. Ya, sekarang matanya terbuka lebar. Seharusnya ia bisa mengerti perasaan Sasuke saat itu. Mungkin ini adalah cara terbaik bagi Sasuke untuk berpikir dan menata kembali hidupnya yang baru. Ia hanya perlu waktu.

Hinata pun tersenyum simpul. Melihat Naruto menjadi semangat seperti itu, ia merasa aliran energi asing juga merambat ke pembuluh darahnya.

“Lalu yang kedua..” Naruto menghentikan kata-katanya, ia menarik nafas lebih banyak saat itu. Seakan-akan hal itu akan memberikan energi lebih padanya untuk mengatakan sesuatu setelah ini. Lagi-lagi Hinata disuruh bersabar, menantikan Naruto melanjutkan kalimatnya.

“A-Akhir-akhir ini kau sering terlihat bersama Kiba. Ohh—tentu saja karena kalian satu tim. T-tapi bukan itu maksudku. Hanya saja.. kalian terlihat terlalu akrab.” Kali ini gagap Hinata berpindah pada Naruto. Ia terbata-bata, rasanya sulit sekali berbicara pada gadis itu sekarang. Padahal ia adalah orang yang blak-blakan, sejak kapan ia jadi orang penggugup seperti ini.

‘Sering terlihat bersama Kiba?’ Bukankah terdapat maksud tersembunyi dari kata-kata itu? Tapi Hinata belum menyadarinya. Ia justru lebih terkejut saat melihat Naruto tiba-tiba jadi gagap.  Tapi satu hal yang membuat gadis itu penasaran, kenapa Naruto menjadi peduli terhadapnya yang akrab dengan Kiba. Toh dari dulu dia memang dekat dengan pemuda dari klan Inuzuka itu.

“Oh, itu karena Kiba-kun sedang membantu latihan. Beberapa hari lagi akan ada acara sakral keluarga di rumah. Aku diminta ayah untuk mempelajari jurus baru klan Hyuuga, tapi sepertinya kemampuan kontrol chakraku belum sebagus Neji nii-san. Karena itulah dia membantuku berlatih—“ tiba-tiba Hinata berhenti, ia baru menyadari sesuatu saat menjelaskan hal itu pada Naruto. Kedekatannya dengan Kiba menganggu pikiran sang putra Yondaime Hokage? Tidak mungkin! Tentu hal itu tidak masuk akal, pikir sang gadis.

Hinata yang berhenti tiba-tiba membuat Naruto tersadar pula, bukankah ia terlalu frontal? Ia merasakan jantungnya berdegup cukup kencang, memompa darahnya ke ubun-ubun dengan cepat, membuat kepalanya memanas seketika. Gawat, dia harus segera memperbaiki keadaan.

“Aaa.. begitu? A-aku kira kau sedang bertengkar dengan Shino, jadi aku–yah-, agak khawatir. Kau lebih sering terlihat dengan Kiba, dan jarang sekali bersama Shino. K-kau tau sendiri kalau Shino itu aneh, dia cepat tersinggung. J-jadi, aku sedikit mencemaskannya.”

Cepat-cepat pemuda itu mengeluarkan tangan dari saku jaketnya, melambai-lambaikannya pada Hinata, pertanda ia sedang mencoba meyakinkan gadis itu bahwa alasannya memang benar.

“Tidak, Naruto-kun.” Jawab gadis itu tenang. “Kami tidak bertengkar. Shino-kun sekarang lebih sering menghabiskan waktu berlatih bersama ayahnya. Dia juga sedang mengembangkan jurus baru.”

“Ohh, begitu. Baiklah.” Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia salah tingkah. Ia hanya cengengesan mendengar jawaban Hinata. Untuk sementara waktu, ia berhasil keluar dari zona bahaya.

Percakapan mereka terhenti saat kedua insan itu tiba di rumah keluarga Hyuuga. Pengawal Hinata sudah menunggu di depan gerbang, ia spontan membungkuk pada mereka.

“Hinata-sama,” katanya, lalu mengalihkan pandangan pada pemuda di samping Putri Hyuuga itu. “Naruto..” lalu ia membungkuk sekali lagi.

Sang putri tersenyum tipis. Dulu, Kou selalu melarangnya untuk mendekat pada Naruto, karena ia merasa Naruto berbahaya. Kyuubi yang tersegel di dalam tubuh Naruto membuat Kou menjadi sangat protektif terhadap tuannya. Sekarang? Kou sudah berubah. Dia bahkan sangat menghormati Naruto saat ini.

Naruto membalasnya dengan lambaian tangan.

“Yo!” serunya, dengan ciri khasnya yang ceria. Ia lantas menoleh pada Hinata. “Kalau begitu, aku pulang dulu Hinata. Besok sore aku juga akan mengunjungi makam ibumu. Jaa—“ Ia berlari secepat kilat, dalam hitungan detik debu-debu yang beterbangan karena gerakan cepat Naruto sudah hilang ditelan gelap.

Hinata berjalan beriringan dengan Kou ke dalam rumah tradisional itu. Mereka melewati sebuah kolam ikan koi yang diatasnya terdapat bunga teratai putih. Cahaya remang dari lampu di dalam ruangan terlihat menyinari pekarangan kediaman Hyuuga yang sederhana, tapi anggun.

“Apa kau mengunjungi makam Neji lagi, Hinata-sama?” Kou bertanya penuh selidik.

Hinata mengangguk, “Iya, Kou. Aku menceritakan beberapa hal padanya. Aku rasa Neji nii-san bisa mengerti dengan keadaanku saat ini.” Wajah gadis itu berubah muram. Mata amethyst-nya menyipit, sambil menundukkan kepala.

“Ya, walaupun dia sangat keras, tapi Neji adalah orang yang paling dekat denganmu, bukan? Aku rasa dia juga akan merasakan hal yang sama.”

“Merasakan hal yang sama?”

“Dia pasti juga akan tertekan mengetahui Hinata-sama dipaksa menguasai jurus paling sulit di klan Hyuuga itu. Dia benar-benar peduli padamu.”

Jawaban singkat dari Kou cukup manjur untuk membuat Hinata tersipu.

Hinata terkekeh kecil, “Neji nii-san terlalu baik. Dia selalu mengkhawatirkanku. Tapi sekarang aku harus mandiri, Kou. Aku harus menjadi kuat seperti Nii-san.” Langkahnya terhenti saat membuka pintu kamarnya. Ia berdiri sebentar dan menghadap pada Kou. “Lagipula, aku tidak merasa terpaksa. Ayah menyuruhku mempelajarinya agar aku bisa mengimbangi Neji-niisan. Tanggung jawabku menjadi lebih besar setelah Nii-san tidak ada. Karena itulah, aku harus lebih kuat lagi.”

Kou tersenyum simpul. Melihat sang tuan putri tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah, membuatnya sedikit bangga. Bagaimanapun, dialah yang paling tau bagaimana perkembangan Hinata sejak kecil dahulu.

“Hinata..” tiba-tiba suara yang sangat familiar memanggil Hinata dari samping. Ia berjalan mendekati gadis itu. Langkahnya pelan, tapi sangat tegas. Jelas sekali terlihat kegusaran di wajahnya, walaupun sulit terlihat bagi yang tidak dekat dengannya.

“Ayah?” Hinata menjawab panggilan ayahnya, tapi lebih ke arah bertanya karena jarang sekali ayahnya keluar dari ruangan pribadinya.

Hiashi berhenti tepat di hadapan Hinata dan Kou. Ia melipat tangannya di depan dada.

“Ada berita dari klan Otsutsuki. Barusan utusan Kakashi datang untuk memberitahukannya pada ayah.” Hiashi berhenti sebentar, ia menarik nafas dalam-dalam. Kegusaran di wajahnya makin lama makin jelas terlihat. Tidak biasanya ayah Hinata begini. Biasanya ia adalah orang yang tenang.

“Klan Otsutsuki? Maksud ayah, klan yang akan datang berkunjung untuk bersilaturahmi dengan klan Hyuuga itu bukan?” Hinata memastikan.

Hiashi mengangguk. “Kita sudah membicarakannya bukan? Sepertinya rencana mereka untuk datang kesini dipercepat. Mereka akan datang besok.”

“Besok, ayah?” Hinata terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Kedatangan Otsutsuki ke Konoha adalah untuk bersilaturahmi, sekaligus mengetes kemampuan klan Hyuuga. Hinata disuruh oleh ayahnya untuk berlatih, mempelajari jurus tertinggi klan Hyuuga adalah untuk acara silaturahmi ini. Tapi ia masih pada tahap pengontrolan chakra, ia masih butuh waktu untuk menyelesaikannya. Namun tiba-tiba kedatangan klan tersebut dipercepat menjadi besok? Berita ini benar-benar membuat mereka shock.

“Hn..” jawab ayahnya, singkat.

Seketika keringat dingin mengalir deras dari dahi Hinata. Begitu pula dengan ayahnya.

Iklan

19 pemikiran pada “The Final Chapter Is The First Love, (a naruto fanfiction)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s