Elite Military Unit, R.A.I.N.S (Chapter 1)

Cast : Bangtan Boys, EXO, Big Bang

EXO-K.full.1695922

Terdengar suara samar-samar pembaca berita di dalam ruang gelap berukuran 5×6 meter itu. Lampu ruangan sepertinya sengaja dimatikan, ditambah suara petir yang dari tadi tidak berhenti memecah kesunyian malam. Pemuda itu terus memperhatikan kata-kata yang keluar dari pembawa berita, ia sepertinya sangat tertarik dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.

“Sekitar 73 orang tewas dalam kecelakaan naas ini. Polisi mengatakan bahwa kecelakaan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti cuaca yang buruk dan kurangnya pengetahuan tentang keamanan kerja di lapangan. Oleh karena itu, pemerintah menghimbau untuk selalu menaati SOP yang berlaku setiap kali akan bekerja….”

Matanya terus memandangi layar televisi, tapi pikirannya sudah melayang entah kemana.

“Belum tidur?” tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang. Orang itu lantas duduk disampingnya, lalu memakan permen di dalam toples yang diletakkan di atas meja.

Ia menggeleng, “Aku terlalu gugup.”

“Gugup? Tentu saja. Bukankah besok misi pertamamu, Jungkookie?”

“Hm..” jawabnya singkat.

“Sudahlah, lebih baik kau tidur sekarang. Wajar saja kau merasa gugup, tapi jangan menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak penting..”

“Kau sendiri bagaimana, Jin hyung?”

“Aku besok libur. Aku bebas malam ini.”

“Begitu..” gumamnya hampir tidak terdengar. Jungkook mengambil remote tv, lalu mengganti channelnya berkali-kali. Akhirnya berhenti lagi pada channel yang menayangkan berita tadi.

“Bukankah kecelakaan itu ada di distrik 9?” Jin langsung memasang matanya lekat-lekat pada televisi saat melihat berita itu. Ia memperhatikan dengan seksama.

“Iya..” Jungkook mengangguk lagi.

“Sepertinya misimu berhubungan dengan kecelakaan itu. Kau mendapat tugas ke distrik 9 kan?” Jin mengalihkan pandangannya dari televisi pada orang di sampingnya.

“Aku rasa begitu. Berita ini selalu diulang-ulang dari kemarin. Sepertinya pihak kepolisian masih mencurigai ada faktor lain yang menjadi penyebab kecelakaan, karena itu kasusnya masih diusut sampai sekarang.”

Jin tersenyum tipis. “Sepertinya kau sudah mulai menikmati peranmu sebagai anggota the Rains..”

“Tetap saja aku masih gugup. Besok aku akan ditemani oleh Leader the Rains dan Chanyeol hyung.  Mereka memiliki kemampuan yang tidak sembarangan. Aku pasti akan merepotkan mereka nanti.”

Jin memukul kepala Jungkook perlahan.

“Bodoh.” Katanya sambil tersenyum. “Mereka memilihmu menjadi partner karena kemampuanmu jauh lebih baik dibanding teman-temanmu di kelas Beginner. Seharusnya kau bangga, bukan merasa rendah diri..”

“Tapi..”

“Sudahlah, jangan mengoceh terus. Kau bahkan jauh lebih baik dibanding Rap Monster yang jenius itu. Dia memang berotak encer, mungkin hampir seimbang dengan GD-hyung, tapi dia tidak sehebatmu kalau berada di lapangan.”

Jungkook diam saja. Kata-kata Jin sepertinya tidak terlalu ampuh untuk menghilangkan gugupnya. G-dragon adalah leader the Rains   yang sudah berada di tingkat Major, ia bisa dikatakan anggota yang mempunyai pangkat paling tinggi disana. Selain otaknya yang jenius, G-dragon juga pintar berdiplomasi dengan orang-orang yang dianggap penting untuk menyelesaikan misi. Mungkin ia bisa membaca pikiran orang lain, sehingga orang itu dengan mudah bisa menemukan titik kelemahan mereka lalu menaklukannya. Sedangkan dirinya sendri adalah orang yang sulit untuk ditebak, ide-idenya selalu brilian dan kadang tidak terpikirkan oleh orang lain. Ia selalu disebut-sebut sebagai anak yang dirahmati. Bagaimana mungkin Jungkook yang masih pemula dipasangkan dengan orang sehebat itu?

Chanyeol ? Ia adalah seorang anggota The Rains dari kelas Expert yang telah menyelesaikan berbagai macam misi tingkat S dengan mudah. Kemampuannya dalam bidang matematika dan fisika membuatnya ahli dalam memperkirakan ruang dan jarak saat bertempur di lapangan. Perkiraannya yang tepat dan akurat selalu didasarkan oleh ilmu fisika yang telah digelutinya sejak ia masih berumur 8 tahun. Walaupun ia orang yang hiperaktif, tapi pribadinya akan berubah serius ketika menjalankan misi. Ia adalah golongan orang-orang yang akan bekerja secara profesional dan efisien. Lagi-lagi orang hebat yang akan mendampinginya, lalu bagaimana ia harus bertindak? Ia belum berpengalaman di lapangan yang sebenarnya. Ia hanya takut tidak dapat mengejar kemampuan mereka dan akhirnya menjadi beban saat misi dijalankan.

-___-

Pagi itu Jungkook harus menemui partnernya di ruang utama untuk berdiskusi terlebih dahulu. Ia datang paling cepat, karena GD dan Chanyeol belum ada disana. Ruangan super besar itu dihiasi oleh berbagai lukisan berkelas yang harganya tidak sembarangan. Warna catnya yang putih membuat ruangan itu seperti rumah sakit, tapi enak dipandang mata. Disetiap sudutnya ditanami bunga besar, membuat ruangan kelihatan lebih asri.

Jungkook duduk di sofa, tapi ia segera berdiri lagi ketika Chanyeol tiba-tiba datang sambil mengancingkan lengan bajunya.

“Maaf aku terlambat.” katanya dengan tergesa-gesa. Ia masih sibuk dengan lengan bajunya yang belum terkancing dengan sempurna.

“Tidak apa-apa..” jawab Jungkook menggeleng.

“Kau sudah lama menunggu?”

“Sekitar 10 menit..”

Chanyeol memandang Jungkook, lalu memperhatikan seluruh ruangan seakan mencari seseorang.

“GD hyung belum datang?” tanyanya.

“Belum, hyung.”

“Dasar tukang tidur. Pasti dia belum bangun.” gerutu Chanyeol, lalu ia duduk di sofa yang sudah disediakan di ruangan itu.

Jungkook mengikutinya, tapi ia duduk agak jauh dari Chanyeol.

Setelah selesai dengan urusan kancing bajunya, Chanyeol kembali memandang Jungkook yang dari tadi diam. Matanya yang besar terlihat bersinar-sinar saat itu.

“Kau terlihat gugup.” Godanya sambil tersenyum.

Jungkook segera mengepalkan tangannya, berusaha menghilangkan rasa gugup yang membuat telapak tangannya berkeringat.

“Tenang saja, aku juga dulu sepertimu. Misi pertama selalu membuat orang deg-degan. Tapi jika ada GD hyung, kita akan aman. Dia adalah orang paling cerdas yang pernah aku temui..”

“Aku tau, justru hal itulah yang membuatku merasa gugup. Aku takut membuat semuanya kacau.”

Chanyeol tertawa, ”Tidak usah khawatir. Kalau hanya kau, kami tidak akan kerepotan. Cukup lindungi dirimu sendiri, hindari hal-hal yang dirasa membahayakan. Selebihnya serahkan pada kami. Misi pertama ini hanya untuk memperlihatkan padamu bagaimana cara menyelesaikan misi yang sebenarnya.”

“Aku mengerti..”

“Bagus. Kau harus benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk menjalankan misi bersama GD hyung. Ia memilihmu menjadi partnernya karena ia tertarik dengan hasil ujianmu pada semester kemarin.”

“Tapi Rap monster hyung mendapatkan nilai tertinggi waktu itu.”

“Memang, tapi teori saja tidak cukup bukan? Ia memang unggul di teori, tapi tidak cukup pintar menangani masalah ketika ujian lapangan. Ia mudah panik, sehingga apapun yang dilakukannya di lapangan jadi berantakan.”

“Jadi menurutmu, aku lebih tenang?” Jungkook melirik Chanyeol dengan pandangan penuh selidik.

“Bahkan aku kalah jika dibandingkan denganmu, Jungkook-ah. Kau masih bisa berpikir sangat jernih disaat-saat genting. Aku punya firasat, kau nantinya yang akan menjadi the Next G-dragon..”

“Hyung, kau terlalu berlebihan..” gumamnya.  Jungkook merasakan panas di mukanya, menurutnya pujian itu terlalu berlebihan, membuatnya merasa sangat malu.

Chanyeol tertawa kecil. Beberapa saat kemudian, G-dragon datang dengan cara yang sama persis dengan Chanyeol. Ia berlari kecil sambil mengancingkan lengan bajunya.

“Apa aku terlambat terlalu lama?” tanyanya dengan nafas yang masih belum teratur. Jungkook segera berdiri, sedangkan Chanyeol tetap duduk sambil memiringkan bibirnya seperti orang kesal.

“Kau lihat jenggotku sudah bermunculan karena terlalu lama menunggumu, hyung?”

Jungkook heran mendengar perkataan Chanyeol yang terasa kurang sopan pada GD. Selama ini ia merasa GD adalah orang yang sangat serius dan kaku, selalu tegas saat ia mengajar teori di kelas. Ia tidak bisa membayangkan kalau GD akan bisa dekat dengan orang lain. GD adalah tipe orang yang sangat jauh berada di atas, sulit sekali rasanya untuk bisa dekat dengannya.

“Mau aku bantu mencukurnya?” GD membungkuk, memegang lututnya sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Ia melirik Chanyeol sambil menyeringai.

“Ck! Kemana saja kau, hyung? Kau sudah membuat junior kita menunggu lama. Kau tau?”

GD mengalihkan pandangannya pada Jungkook.

“Ohh, maafkan aku Jungkook-ah. TOP semalam memaksaku mengerjakan tugasnya. Waktu tidurku benar-benar tersita olehnya..”

GD memperlihatkan ekspresi wajah sangat menyesal, sikapnya menjadi jauh lebih lembut dan sopan dibandingkan dengan ketika ia berada di kelas. Jungkook merasa ngeri dengan orang itu, ia malah makin menakutkan dengan sikap sopannya.

Jungkook menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa hyung-nim.” jawabnya, masih dengan panggilan formal di dalam kelasnya.

Chanyeol lantas tertawa, embel-embel “nim” itu terasa sangat kaku diucapkan oleh Jungkook.

“Kau tidak usah terlalu formal kalau berada di luar kelas. Panggil saja dia hyung. Lebih enak seperti itu..”

GD mengangguk. “Tidak usah terlalu kaku, Jungkook-ah. Kalau diluar kelas, kau bebas memanggilku apa saja karena sekarang kita adalah partner, bukan lagi mentor dan murid..” ia lagi-lagi tersenyum tipis.

Jungkook mengangguk.

“Baiklah, lebih baik kita duduk dulu. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan pada kalian sebelum kita ke distrik 9. Oh ya, kalian belum sarapan kan? Kita berdiskusi sambil sarapan saja.”

GD memesan tiga potong roti berisi keju dan tiga gelas susu. Sebelumnya ia menawarkan beberapa menu pada Chanyeol dan Jungkook, tapi mereka berdua lebih memilih menu yang sama dengannya. Mereka menyantap sarapan pagi itu sambil terus berdiskusi,

“Aku rasa kalian sudah mengetahui apa yang akan kita lakukan nanti di distrik 9, bukan begitu?” GD membuka pembicaraan sambil terus mengunyah rotinya.

“Longsor yang telah merenggut banyak nyawa itu sepertinya tidak terjadi secara kebetulan. Polisi masih mencurigai ada hal lain yang menjadi penyebabnya. Karena itulah kasusnya sampai sekarang masih belum ditutup.” Chanyeol menjawab spontan, ia juga berbicara sambil mengunyah rotinya.

“Tepat.” ucap GD, “ Misi kita berhubungan dengan kecelakaan itu. Kau pasti sudah melihat beritanya juga kan, Jungkook? Pertama-tama, aku ingin mengetahui pandanganmu mengenai hal itu.”

Jungkook berhenti mengunyah, lalu berpikir sejenak.

“Pemerintah tetap memberikan pernyataan yang berlawanan dan seakan-akan berusaha menutupi sesuatu terhadap kecelakaan itu. Memang benar cuaca sedang buruk, sehingga mereka mengatakan bahwa longsornya tanah itu karena hujan yang turun terus menerus. Mereka juga mengatakan kalau para pekerja kurang memperhatikan keselamatan kerja yang sesuai dengan SOP. Tapi ada satu hal yang aneh dari peristiwa itu, jasad mereka hampir tidak bisa dikenali lagi wajahnya. Tubuh mereka hancur, semua wajahnya rusak sehingga sulit mengidentifikasi siapa mereka. Jasad orang yang tertimbun tanah longsor tidak akan rusak separah itu. ” jelasnya.

GD mengangguk-angguk saat Jungkook menjelaskan, lalu ia meneguk susunya hingga habis. Tampak rasa puas di wajahnya setelah mendengar penjelasan juniornya itu.

“Bagus. Kau sudah bisa menganalisa sampai sejauh itu. Lalu, menurutmu kenapa hal itu bisa terjadi?”

Jungkook kembali terdiam. Ia memperhatikan GD beberapa saat, lalu beralih melirik Chanyeol yang sepertinya tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Ia terlalu sibuk dengan makanannya. Ia ragu untuk mengutarakan pendapat.

“A-aku rasa ada pihak lain yang ingin menutupi kejadian yang sebenarnya dengan menciptakan longsor itu. Jelas mereka tewas bukan karena tanah longsor, tapi karena kejadian sebelumnya yang disengaja. Mungkin pihak lain itu ingin memusnahkan suatu bukti dengan cara membunuh mereka, lalu sengaja melongsorkan tanah disekitarnya sehingga kematian mereka tidak akan dicurigai sebagai pembunuhan, tapi bencana alam.” Jelasnya agak terbata-bata.

Lagi-lagi GD tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk bahu Jungkook dengan bangga.

“Benar-benar analisa yang bagus. Aku rasa kau sudah tau semuanya, jadi aku tidak perlu menjelaskan dari awal. Apa yang kau katakan memang benar, kecelakaan ini adalah ulah dari pihak ketiga yang ingin memusnahkan suatu bukti yang penting. Aku khawatir pemerintah juga ikut ambil andil dalam masalah ini karena ia terkesan menutup-tutupi kejadian yang sebenarnya. Lalu, tugas kita sekarang adalah mencari bukti yang hilang itu untuk mengungkap apa yang sebenarnya telah mereka lakukan sehingga mereka harus melakukan perbuatan tidak berprikemanusiaan seperti itu.”

Chanyeol yang baru saja menghabiskan rotinya menyela,

“Pastinya tugas ini tidak akan mudah. Kita butuh bantuan untuk membongkar lagi gua yang sudah tertimbun tanah longsor itu bukan?”

“Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Mereka telah melakukannya semalam. Kita hanya perlu mencari bukti itu..”

“Benarkah? Wah, kau benar-benar orang yang efisien, hyung. Padahal aku melihatmu sangat sibuk akhir-akhir ini.” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi mengejek.

GD tersenyum pongah. Sekarang ia jelas sekali terlihat seperti setan, sangat menakutkan. Setidaknya itulah yang terlihat oleh Jungkook. Bulu romanya selalu berdiri saat melihat GD tersenyum seperti itu. Ia heran kenapa Chanyeol tidak dapat merasakan aura aneh disekitar GD saat itu.

Sebaliknya, Chanyeol malah terasa seperti malaikat yang selalu menebar kebaikan disekitarnya. Ia selalu tersenyum, tapi senyum yang sangat berbeda. Senyumnya jauh lebih hangat dan memancarkan semangat positif  terhadap dirinya sendiri. Berbeda dengan GD yang terlihat sangat mengintimidasi orang lain. Jungkook merasa sedang berada ditengah-tengah dua dunia yang berlawanan saat itu.

Setelah mereka berdiskusi panjang lebar, akhirnya mereka berangkat ke distrik 9 dengan helikopter yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.

Mereka membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di lokasi kejadian, akibat angin yang lumayan kencang terus menghantam helikopter mereka. Helikopter  agak susah untuk dikendalikan disaat cuaca tidak mendukung seperti ini.

Sesampainya disana, terlihat beberapa orang polisi di sekitar lokasi sedang sibuk memeriksa runtuhan longsor. Mereka juga berusaha mencari sidik jari di batu-batu yang tertimbun, walaupun sebenarnya itu adalah pekerjaan yang agak sia-sia. Hujan pastinya sudah membersihkan semua jejak yang tertinggal disana.

Penduduk di sekitar beramai-ramai datang kesana untuk melihat lokasi longsor, tapi garis-garis polisi berwarna kuning sudah dipasang disepanjang pintu masuk gua.

Jungkook merasa risih ketika ia dilihat dengan pandangan aneh oleh para penduduk disana. Ketika mereka tiba tadi, mereka semua memperhatikannya dengan pandangan penuh curiga.

GD segera bersalaman dengan seorang inspektur kepolisian yang menangani kasus tersebut. Dia adalah orang yang gemuk, dengan alis tebal dan kumis yang menghiasi wajahnya, serta rambut pirang khas penduduk distrik 9. Walaupun matanya sipit, tapi wajahnya sangat ramah. Ia mengenakan topi kepolisian, sambil membawa sebuah berkas yang agak lembab seperti bekas terkena cipratan air.

“Bagaimana kabarmu, Inspektur Rootman?” tanyanya sambil menjabat tangan inspektur itu.

Inspektur Rootman membalasnya sambil tersenyum,

“Tidak buruk..,” katanya. “Sudah lama kita tidak bertemu, G-dragon. Aku selalu ingat kejadian waktu itu, ketika kau membantuku memecahkan kasus di daerah distrik 3.”

GD mengernyitkan keningnya, ia berpikir sebentar lalu menjawab.

“Ah, kasus tentang narkoba itu kah? Komplotan narkoba terbesar di distrik 3 ..”

Inspektur Rootman mengangguk membenarkan,

“Berkat bantuanmu, akhirnya aku bisa menyelesaikan kasus merepotkan yang memakan waktu hampir 4 tahun itu. Aku benar-benar berterima kasih padamu.”

GD menggeleng, tapi dengan bangga. “Tidak. Kasus itu selesai karena kerjasama kita, inspektur.”

“Tentu saja, anak muda. Tapi aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana kau bisa menyelesaikan kasus itu dengan mudah. Padahal aku hampir gila karena sibuk memikirkan jalan keluar yang tepat untuk menangkap mereka.”

Lagi-lagi GD merendah, “Itu hanya karena aku sedang beruntung, inspektur.

Inspektur itu tertawa kecil, kemudian mengalihkan pandangannya pada Chanyeol dan Jungkook yang berdiri dengan rapi disamping GD.

“Apakah mereka anak buahmu?”

Chanyeol memiringkan bibirnya, ia memukul punggung GD perlahan, isyarat agar GD menjelaskan siapa mereka.

“Bukan, mereka adalah partnerku kali ini. Yang tinggi ini adalah Chanyeol, dan ini adalah Jungkook.” Jelas GD sambil menunjuk pada mereka berdua.

Inspektur itu menggernyitkan keningnya, “Kemana partnermu yang waktu itu? TOP, ya?”

“Dia sedang bertugas di distrik 7. Sepertinya kasus selalu bermunculan akhir-akhir ini, kami benar-benar sibuk karenanya.”

“Ya, cacat hukum di negara kita akan selalu menghasilkan tindakan kriminal yang tidak terduga. Siapa sangka, hukum yang dulu kita agung-agungkan malah dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jika pondasinya saja sudah rusak, bagaimana mungkin bisa membangun suatu negara yang kuat?”

Inspektur itu sepertinya sangat kesal, berkas yang digenggamnya tadi hampir remuk karena dikepalnya dengan kuat. Wajahnya memerah karena menahan emosi.

“Lebih baik kita selesaikan dulu masalah yang ada disini. Bagaimana info terakhir yang sudah didapatkan, Inspektur?” GD berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tahu, inspektur Rootman tidak akan berhenti mengoceh tentang urusan politik jika dibiarkan saja. Ia memang orang yang kritis dan demokratis, tapi terlalu banyak bicara malah membuatnya terkesan cerewet dan asal omong.

“Ohh, baiklah.” katanya gugup, lalu ia membuka berkas yang digengamnya tadi. “Semua jasad yang ditemukan sudah diautopsi. Umumnya mereka adalah penduduk disekitar sini. Walaupun wajah mereka sudah tidak bisa dikenali lagi, untungnya keluarga mereka masih tetap bisa mengenali berdasarkan ciri khasnya masing-masing. Pemerintah memberikan mereka uang tunjangan kematian, begitu pula dengan perusahaan yang mempekerjakan mereka. Kemudian…” Inspektur itu membalik-balik halaman dari berkas yang ia genggam tadi sambil mencari-cari sesuatu.

“Ini dia.” Katanya setelah menemukan halaman yang dicari. “Kau bisa lihat di foto ini..” ia menunjukkan sebuah foto yang dicetak di kertas itu pada GD. Chanyeol dan Jungkook pun ikut mendekatkan kepala mereka pada berkas tersebut.

Disana terlihat sebuah benda dengan bentuk tak beraturan berwarna hitam kecoklatan dan mengkilat.

“Batu?” bisik Chanyeol pada GD.

GD mengangguk, “Iya, tapi bukan batu biasa.”

“Painite!” kata Jungkook dengan nada agak tinggi, dia terlihat kaget.

Lantas GD dan Chanyeol memandang pada Jungkook.

“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Chanyeol penasaran.

“Seharusnya semua orang sudah tau, hyung. Batu ini adalah batu paling langka di dunia dan harganya sangat mahal. Beberapa waktu yang lalu, batu ini hilang dari museum benda bersejarah yang ada di distrik 7.”

“Benarkah?” Chanyeol berteriak kecil, lalu mengalihkan pandangannya pada inspektur Rooman. “Adakah penjelasan kenapa batu itu bisa berada di tempat ini?”

“Sejauh ini belum ada penjelasan apapun. Batu itu sekarang sedang berada di kantor polisi untuk diselidiki. Kami sudah mencoba mencari sidik jari jika memang ada, tapi usaha itu pun sepertinya sia-sia. Tidak ada jejak sedikitpun yang tersisa.” Jelas Inspektur itu dengan nada penuh penyesalan.

GD mengangkat alisnya, “Berarti kita yang harus bekerja lebih keras. Sepertinya pelaku adalah orang yang cerdik, dia sudah menghapus semua jejaknya dengan sangat baik.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Mulut gua itu berukuran kecil, hanya satu setengah meter tingginya sehingga Chanyeol yang paling jangkung harus masuk dengan cara menunduk. Dia agak kesulitan menyesuaikan tingginya dengan ukuran gua itu.

Setelah berada di dalam, mereka bisa melihat gua yang dilengkapi dengan berbagai macam peralatan tambang yang sudah rusak dan kotor karena bekas tertimbun tanah. Bentuk guanya sudah tidak beraturan lagi, sehingga sulit menerka-nerka bagaimana bentuk dari gua itu pada awalnya.

Mereka terus menyusuri gua sampai ke dalaman 500 meter, tapi masih belum menemukan apa-apa. Semakin ke dalam, semakin gelap. Mereka semua terpaksa menggunakan lampu bantu untuk menerangi jalan. Tanah di gua masih lembab, membuat sepatu mereka kotor dan terasa berat akibat tanah yang lengket. Hal itu cukup mempersulit investigasi mereka.

“Sial! Sepatu boot ku sudah tidak karuan lagi bentuknya.” umpat Chanyeol kesal. Ia menggoyang-goyangkan kakinya, berharap tanah yang lengket itu jatuh dari bootnya.

“Tanahnya masih sangat lembab, keadaan yang tidak menguntungkan buat kita..” jawab GD sambil terus memperhatikan keadaan disekelilingnya. Sesekali ia mendekatkan penerangan yang ada di tangannya ke bagian dinding yang ia rasa punya petunjuk. Namun usahanya masih belum menghasilkan.

Mereka terus menyisir gua itu dengan tekun. Apapun benda yang aneh atau jejak asing yang terlihat, mereka segera mengambil gambarnya. Hal itu pasti akan berguna nantinya untuk penyelidikan mereka.

“Hyung, aku masih penasaran dengan batu painite yang ditemukan di gua ini..” tiba-tiba Jungkook membuka suara setelah beberapa lama ia bungkam dengan segala pertanyaan di kepalanya.

GD menoleh pada Jungkook, berhenti seketika, lalu mulai berjalan lagi. Begitu pula dengan Chanyeol yang mengikutinya dari belakang.

“Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?” GD balik bertanya.

Jungkook mengangguk perlahan, “Inspektur Rootman mengatakan tidak ditemukan sidik jari atau jejak apapun pada batu itu. Aku rasa itu hal yang aneh. Jika batu itu dicuri oleh salah satu korban longsor ini, berarti orang itu bukanlah pekerja tambang. Kau bisa lihat sendiri, rata-rata pekerja tambang disini adalah penduduk setempat. Sewaktu aku melihat para penduduk berderet memperhatikan lokasi kejadian di depan gua tadi, aku ragu salah satu anggota keluarga mereka akan berhasil mencuri batu paling berharga itu, karena…”

“…karena mereka adalah tipe orang bodoh, sangat mudah dipengaruhi, dan keras. Daerah ini adalah salah satu daerah paling terbelakang dan terpencil di distrik 3. Pendidikan bukanlah hal yang penting disini. Kebanyakan dari mereka tidak bersekolah, pikiran mereka tidak maju. Masih sama seperti orang-orang jaman dahulu kala yang mengagung-agungkan kekuatan. Karena kebodohan mereka itulah, menurutmu tidak mungkin mereka bisa mencuri batu painite itu dengan rapi bahkan tanpa meninggalkan sidik jadi, begitu bukan?” Chanyeol memotong kata-kata Jungkook, karena ia juga memikirkan hal yang persis sama dengan anak itu.

GD menambahkan, “ Jangankan meninggalkan sidik jadi, mencuri batu painite itu saja adalah hal yang mustahil dilakukan oleh orang-orang seperti mereka. Distrik 7 adalah distrik teraman di dunia, teknologi keamanan tingkat tinggi berada di sana. Batu painite yang langka itupun disimpan di distrik 7 karena keamanannya yang tidak diragukan lagi. Bagaimana mungkin orang-orang primitif di daerah ini bisa membobol teknologi tercanggih yang pernah ada sepanjang sejarah? Itulah sebabnya, pelaku yang sebenarnya sudah membuat kesalahan yang akan menjerumuskan dirinya sendiri dalam penjara..” seringai menakutkan kembali muncul di sudut bibirnya. Jika saja Jungkook melihat, pasti dia akan bergidik lagi melihat aura ‘setan’ yang menyelubungi G-dragon saat ini.

Tiba-tiba saja tanah yang mereka injak bergetar.

“Gempa?” seru Chanyeol setengah berteriak. Mereka saling berpandangan satu sama lain, tampak panik menggelantung di wajah masing-masing.

“Terus jalan!” perintah GD segera. Dua orang lainnya mengikuti dengan patuh.

Getaran itu makin lama makin keras, sekarang bukan hanya tanah yang terasa berguncang, dinding-dinding gua yang masih rapuh karena lembab itu pun ikut bergoyang. Beberapa pecahan batu kecil sebesar kelingking orang dewasa jatuh dari langit-langit.

“Cepat lari!” GD berteriak sekeras yang ia bisa.

Mereka semua berlari secepat kilat, tapi apa daya mereka sudah pergi terlalu jauh dari pintu gua. Keadaan gua yang berliku-liku, langit-langit yang rendah, serta tanah yang becek membuat mereka semakin sulit melarikan diri.

Jungkook yang berada paling belakang tiba-tiba terjatuh karena terpeleset sesuatu yang licin. Tangannya segera menopang tubuh yang besar itu, membuatnya jatuh dengan posisi terduduk sempuna. Senter yang ada di tangannya secara tidak sengaja mengayun ke segala arah, dan akhirnya mengenai sesuatu. Benar saja, lampu senternya tidak sengaja mengenai siluet punggung seseorang berbaju hitam yang sedang berdiri tegak membelakanginya di ujung salah satu gua.

Sementara itu, Chanyeol yang menyadari Jungkook sudah tidak berada di belakangnya, segera memutar arah dan berlari lagi ke belakang. Gua bergetar makin hebat, sekarang batu yang berjatuhan bukan lagi sebesar kelingking, tapi sebesar tinju.

“Jungkook!” teriak Chanyeol sambil terengah-engah. Tanah becek itu membuatnya mengeluarkan tenaga lebih banyak untuk berlari.

“JUNGKOOK, DIMANA KAU?”

Chanyeol makin panik, padahal dia sudah berjanji pada pemuda itu untuk menjaganya, tapi sekarang dia malah hilang tanpa jejak. Dia memutar kepalanya, berusaha mencari anak itu.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula, akhirnya ia menemukan sesosok tubuh tergeletak tak bergerak. Ia berlari lagi mendekati tubuh itu dan segera meletakkan ke pangkuannya.

“Jungkook! Apa yang terjadi? Hei, bangun! Bangun bodoh !!!”

Chanyeol yang panik dan putus asa menampar wajah Jungkook dengan keras, meninggalkan bekas merah di pipinya.

“Apa yang kau lakukan, ayo segera keluar sebelum gua ini runtuh!” GD yang datang entah datang darimana mendekati mereka berdua.

“Hyung, lihat Jungkook! Bagaimana ini? Aku..aku..” Chanyeol masih belum bisa menguasai diri. Matanya sudah berkaca-kaca.

GD berdecak kesal, disaat genting seperti ini dia malah harus berhadapan dengan orang menyebalkan seperti Chanyeol.

“Jangan cengeng, bodoh! Sekarang yang penting kita keluar, atau kau mau mati terkubur di dalam gua ini?”

“Tapi hyung..”

GD segera merebut tubuh Jungkook dari Chanyeol, dia menggendongnya dengan susah payah, lalu berlari ke arah pintu gua. Chanyeol mengikuti leadernya sambil menangis..

.

.

.

.

To be continued

The Final Chapter is The First Love (Chapter 3)

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

Cast : Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, etc.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

 .

.

.

Naruto tetap menunggu Hinata di kaki bukit yang biasa mereka lewati jika ingin ke makam para penduduk Konoha. Sudah satu jam lebih dia berdiri di sana, sambil membawa buket bunga tulip putih yang ia janjikan untuk diberikan pada ibu Hinata. Diliriknya jalan setapak yang menghubungkan desa dengan bukit itu, entah sudah keberapa kalinya, tapi belum ada jejak-jejak sang gadis akan datang. Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat, warna orange-nya persis seperti perpaduan antara ibu dan ayahnya. Dia tersenyum tipis.

“Kalian selalu menemaniku, ya?” gumamnya pelan, pada diri sendiri.

Sesekali dia menendang tanah tempat ia berpijak, berharap kebosanan hilang dari perasaannya. Berbagai macam pikiran timbul di kepalanya, tapi belum ada firasat apapun yang ia rasakan, sampai akhirnya Shikamaru datang bersama Kiba yang bertengger di atas Akamaru. Wajah mereka menyiratkan kegundahan, bahkan Shikamaru yang cuek pun terlihat terganggu.

“Oi Naruto..” panggil Kiba, ia mendekati Naruto, diiringi oleh Shikamaru.

“Kiba? Shikamaru? Kalian sudah pulang dari misi, hah?” Naruto tersenyum seperti biasa, cerahnya mengalahkan sinar mentari yang mulai gelap.

(Seperti cerita sebelumnya, Kiba dan Shikamaru tidak bisa hadir pada acara pengangkatan Hokage kemarin karena mereka sedang melaksanakan misi di luar desa)

Kiba mengangguk. “Tadi pagi kami sampai di desa. Misi yang sulit, tapi cukup membuatku puas. Jurus Gatsuuga terbaru yang aku kembangkan mulai menampakkan hasilnya.” Ia membalas senyuman Naruto, tapi sungguh pun Naruto adalah orang yang bodoh, ia bisa melihat keterpaksaan dari senyuman itu.

“Baguslah.” Jawabnya. “ Lalu mau apa kalian kemari?” tanya Naruto frontal tanpa basa-basi lagi. Tentu saja hal ini sangat aneh, karena Shikamaru dan Kiba jarang sekali datang ke kaki bukit ini.  Makam siapa yang akan mereka kunjungi?

“Kau sendiri, sedang apa? Bunga apa itu? ” Shikamaru sekarang yang bertanya.

Naruto salah tingkah, ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur kalau ia sedang menunggu Hinata? Ah sudahlah, dia tidak bisa berbohong.

“A-aku sedang menunggu Hinata..” jawabnya, masih gagap.

Shikamaru dan Kiba saling berpandangan. Seakan ada telepati yang menghubungkan pikiran mereka, Shikamaru mengangguk pada Kiba. Raut wajah Kiba berubah, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin ia ingin menyusun dulu kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Naruto.

“Kakashi-sensei belum mengatakan apapun padamu?” Kiba bertanya menyelidik.

“Hari ini aku belum bertemu dengan Kakashi-sensei..” Jawabnya santai, tanpa rasa curiga sedikitpun.

“Ck! Merepotkan sekali. Menjelaskan hal ini padamu pasti butuh waktu yang banyak. Tapi kau harus tau Naruto..” Shikamaru berdecak kesal, tangannya segera dimasukkan ke dalam saku celananya.

Naruto mengernyitkan dahi, memandang Shikamaru dan Kiba secara bergantian.

“Baiklah, langsung pada intinya saja. Klan Otsutsuki, klan terhormat dari negeri seberang hari ini datang membawa rombongan mereka berkunjung ke kediaman Hyuuga. Aku rasa Hinata tidak akan bisa datang menemuimu hari ini..” Shikamaru menjelaskan.

Naruto terdiam sejenak, lalu menjawab.

“Ahhhh, pantas saja dia tidak muncul. Hahaha, aku sudah berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Baiklah, aku mengerti..” Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lagi-lagi Shikamaru saling berpandangan dengan Kiba. Oh sungguh sulit mengatakan ini pada Naruto.

Shikamaru berkata lagi, “Naruto, kau harus dengar baik-baik. Apapun yang aku katakan, mungkin akan sulit untuk diterima. Tapi aku yakin kau akan mengerti keadaannya.” Wajahnya mulai terlihat serius, matanya memandang tajam pada Naruto.

“K-kenapa jadi serius begitu? Apakah terjadi sesuatu?” Naruto menghentikan tawa garingnya, membalas tatapan Shikamaru dengan heran.

Shikamaru mengangguk. “Ya, ada sesuatu tentang Hinata.” Shikamaru menarik napas dalam-dalam,

“Dia dilamar oleh Toneri, pewaris klan Otsutsuki…”

“Heh?” seakan kata-kata Shikamaru barusan lewat begitu saja ke telinganya, sampai-sampai ia tidak bisa mencerna apapun tentang penyataan sahabatnya itu. Ia tiba-tiba kehilangan fokus. Bola mata pemuda keturunan Hokage ke empat itu bergerak liar kesana-kemari.

Shikamaru kembali menarik nafas panjang, “Benarkan, pasti akan butuh waktu banyak untuk menjelaskannya pada orang bodoh sepertimu. Dengar, Naruto. Aku tidak tau apa yang terjadi antara kau dan Hinata, tapi yang jelas masalah pernikahan ini tidak hanya menyangkut Hinata, tapi lebih besar lagi. Ini adalah masalah kerjasama antara Konoha dengan negeri seberang. Jadi, aku berharap kau bisa membaca situasi, setidaknya kau mengerti apa yang harusnya kau ‘hindari’…” Penjelasan Shikamaru memang singkat, tapi sangat jelas. Terang saja, pemuda ber-IQ 200 itu dengan mudah menjelaskan sesuatu pada orang lain karena kecerdasannya yang melebihi orang normal.

Naruto memandang nanar pada Shikamaru, tak berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri.

Perasaan apa ini?

Rasanya begitu sakit.

Bahkan ulu hatinya terasa nyeri.

Tenaganya hilang begitu saja.

.

.

.

Kantung matanya sudah menghitam akibat kurang tidur semalam. Setiap kali memejamkan mata, hatinya menolak untuk terlelap. Semua hal yang didengarnya dari Shikamaru dan Kiba kemarin sangat mengejutkan. Pikirannya melayang, tanpa tujuan yang jelas. Hatinya pun masih luka, bahkan sampai sekarang.

Dipandangnya foto dirinya bersama dengan Kakashi, Sasuke, dan Sakura saat tim 7 baru terbentuk. Foto itu terpanjang dengan rapi hingga sekarang, terpasang awet sejak pertama kali dicetak. Disana ia dan Sasuke terlihat saling bermusuhan, sementara Sakura tersenyum dengan manis. Kakashi menggengam kepalanya bersama dengan Sasuke sambil tersenyum pada kamera. Matanya tak henti menatap pada foto itu, hingga akhirnya senyum tipis terpancar dari bibirnya.

“Aku tidak tahu bagaimana hidupku sekarang jika tidak ada kalian..” gumamnya pelan. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, sesak di dadanya lagi-lagi terasa menyakitkan. Ia segera menghempaskan tubuhnya yang besar itu ke atas kasur dengan keras. Naruto menggunakan tangan kanannya untuk menutup mata, lalu beranjak memijat kepalanya yang berdenyut.

Kata-kata Shikamaru kemarin kembali terngiang di telinganya, bagaikan kaset rusak yang terus mengulang bunyi yang sama. Oh Tuhan, andai saja ia bisa tidur saat itu agar bisa melupakan semuanya barang sejenak saja.

“Aku tidak menyangka akan sesakit ini rasanya..” lagi-lagi ia berbicara sendiri.

Karmakah yang terjadi padanya saat ini? Mungkin. Dari dulu ia tidak pernah menyadari perasaan sang gadis Hyuuga itu padanya. Tidak pernah? Salah. Justru ia sudah tau, tiga tahun yang lalu ketika Hinata datang membantunya melawan Pain. Ketika itu Hinata terang-terangan mengatakan perasaannya pada Naruto. Setelah itu? Ia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Ia mengacuhkan pernyataan  Hinata, karena ia terlalu fokus pada Sasuke. Ia sadar akan hal itu. Tapi entah kenapa, ia selalu berusaha melupakan pernyataan Hinata.  Sekarang, saat Hinata sudah berhasil masuk ke dalam ruang hatinya, gadis itu malah direbut paksa darinya oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Hei, apakah masih pantas Naruto menyebut dirinya sebagai seseorang yang dicintai oleh Hinata?  Lupakan saja. Hinata sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.

‘Tok Tok’

Pintu apartemennya diketuk dari luar. Padahal masih pagi, siapa yang terlalu rajin mengunjunginya saat ini? Ia begitu malas beranjak dari tempat tidur. Ia masih ingin merebahkan diri di kasur berukuran sedang itu.

“Oi Dobe, bangun!” Suara orang yang sangat ia kenal berteriak dari luar.

“Ck!” umpat Naruto kesal, ia berjalan ke arah pintu dan menarik ganggangnya.

Sasuke sudah berdiri di depan pintu dengan gayanya yang biasa, berdiri tegak sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.

“Mau apa kau teme?” Naruto memiringkan bibirnya, berbicara tanpa gairah sedikitpun. Sasuke masuk begitu saja, melewati Naruto yang berdiri di samping pintu. Matanya mengikuti Sasuke yang langsung berselonjor di atas kasurnya yang berantakan.

Naruto benar-benar kehilangan tenaga untuk bertanya lebih lanjut, ia duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur. Sasuke memejamkan matanya, tidak berbicara apa-apa. Beberapa saat mereka terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya.

“Jadi, kapan kau akan ke kediaman Hyuuga?” suara berat dari Sasuke memecah keheningan yang ada diantara mereka.

Oh, ternyata informasi tentang lamaran klan Otsutsuki terhadap Hinata sudah menyebar dengan cepat. Padahal baru kemarin klan itu datang, tapi informasinya bahkan sampai ke telinga pemuda paling cuek se-Konoha itu. Mungkin jika gadis itu bukan gadis yang disukai oleh sahabatnya sendiri, Sasuke tidak akan mengacuhkannya sama sekali. Masalahnya, baru kemarin Naruto berkata jujur padanya dan Sakura tentang perasaannya pada Hinata. Tiba-tiba gadis itu dilamar oleh orang asing yang tidak mereka kenal. Ini terlalu cepat! Terlalu sulit diterima, bahkan oleh Sasuke sendiri. Sedikit banyak, ia bisa merasakan kesedihan yang dihadapi oleh Naruto yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri.

Pertanyaan Sasuke yang syarat akan makna itu mungkin tidak bisa dicerna dengan baik oleh Naruto, entah karena Naruto memang bodoh atau karena saat ini ia memang sedang tidak berminat untuk berpikir.

“Untuk apa?” ia balik bertanya. Membicarakan segala hal yang berhubungan dengan Hyuuga saat ini adalah hal yang paling ingin dihindarinya.

“Ck!” sekarang gantian Sasuke yang berdecak kesal. “Untuk menemui ayah gadis itu, bodoh!”

Naruto memandang tajam pada Sasuke.

“Ayah Hinata?” katanya dingin. “Maksudmu untuk meminta dia menghentikan perjodohan Hinata dengan pemuda Otsutsuki itu?”

“Hn,” jawab Sasuke, singkat.

“Jangan bodoh, Sasuke. Ayah Hinata tidak mungkin mau mendengarkanku, memangnya aku siapa?”

Sasuke menghembuskan nafasnya dengan berat. Menjejalkan sesuatu ke dalam otak pemuda dihadapannya dengan cara yang implisit memang tidak pernah mempan.

“Karena itulah, kau harus menjadi ‘seseorang’ di keluarga itu.”

Menjadi seseorang di keluarga itu? Lagi-lagi Sasuke mengatakan sesuatu yang sulit untuk dimengerti. Harusnya Sasuke to the point, tidak perlu jadi orang pintar untuk mengerti watak Naruto yang polos.

“M-menjadi seseorang? Aku tidak mengerti maksudmu..”

Sasuke masih bertahan dengan sikapnya yang tenang, walaupun rasa kesal sudah melandanya dari tadi.

“Mudah saja.,” katanya, sambil menatap mata Naruto yang sudah bengkak karena kurang tidur, “..kau tinggal melamar Hinata..”

Hening.

Hening lagi.

Mereka saling bertatapan. Mereka berusaha menyelami pikiran masing-masing, berusaha mencari apa yang ada di dalam sana. Mereka akrab seperti saudara, mereka bisa menebak apa yang ada dipikiran masing-masing, biasanya begitu. Tapi tidak untuk kali ini, Naruto dibuat histeris oleh ide Sasuke.

“EEEHHH!!!” teriaknya, tidak sadar ia sudah berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursi itu terdorong ke belakang.

“Bodoh, kau berisik sekali dobe!” Sasuke sudah tidak bisa setenang tadi.

“J-jangan bilang i-itu ide darimu, Sasuke-Teme!” Naruto berkata terbata-bata, ia menunjuk-nunjuk Sasuke dengan lincah, sebagai suatu reaksi spontan saat ia terkejut.

“Ada yang salah dengan ideku?” jawab Sasuke innocent. Wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Bukankah itu cara terbaik untuk menghentikan pernikahan Hinata?”

“T-tapi tidak semudah itu, teme idiot! Kau pikir seperti apa klan Hyuuga itu? Mereka disiplin, keluarga terhormat yang terlalu terikat dengan tradisi. Bahkan Neji pun sempat menyerah karenanya—“ Sejak kapan Naruto jadi pintar seperti ini? Kalau saja Naruto kembali pada kepribadian aslinya, pasti dia akan mengikuti saja saran dari Sasuke. Tapi tidak untuk hal yang satu ini, karena ini masalah perasaan.

Sasuke membenarkan cara duduknya. Ia duduk diatas kasur Naruto sambil melipat tangan di dada.

“Siapa bilang hal ini akan mudah? Tentu saja aku sudah memikirkan aspek lainnya.” Sasuke menjadi lebih serius. “Kita punya beberapa kemungkinan jika kau melamar Hinata. Dengar baik-baik! Kemungkinan pertama, kau ditolak mentah-mentah oleh ayah Hinata. Seperti yang sudah kau katakan tadi, ayah Hinata adalah orang yang kolot. Dia pasti lebih memikirkan tentang tradisi dan kepentingan desa dibandingkan memilih orang bodoh sepertimu jadi menantunya…”

Naruto langsung menghentakkan kakinya ke lantai sambil memukul meja,

“Teme, siap-siap bertemu Sakura-chan di rumah sakit setelah ini karena sebentar lagi tulangmu akan aku remas sampai tak berbentuk!” Nada kesal dari suaranya meluncur lancar dari mulut sang pemuda berkulit tan. Raut wajahnya penuh dengan rasa jengkel terhadap Sasuke yang bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap ancamannya.

“..dan yang kedua adalah Hinata sendiri yang akan menolakmu.”

Lanjutan kalimat Sasuke bagai jarum-jarum kecil yang berhasil menembus rongga dadanya, hingga menusuk tepat di jantung. Lagi-lagi perasaan sakit ini yang terjadi. Naruto terdiam seketika, setelah memandang Sasuke sejenak dan menundukkan kepala setelahnya.

Sasuke memandang Naruto dengan tajam. Raut wajah frustasi dan putus asa dari sahabatnya itu terlihat sangat jelas. Tidak perlu otak pintar untuk membaca ekspresi itu.

“Jika kondisinya seperti sekarang, gadis manapun pasti akan berpikir seribu kali untuk menolak lamaran Toneri. Kau tau, dia adalah pewaris klan Otsutsuki. Salah satu klan terkuat yang pernah ada di dunia shinobi. Sekali saja membuat masalah dengan mereka, aku yakin satu negara bisa porak poranda dibuatnya. Meskipun ayahnya menerimamu, tapi akan lebih sulit meyakinkan Hinata untuk menolak lamaran Toneri.  Ayahnya mungkin saja lebih mementingkan kebahagiaan putrinya, tapi Hinata tidak mungkin semudah itu membiarkan klan dan negaranya dikorbankan. Kau paham maksudku, bukan?”

Sasuke berceramah, untuk pertama kalinya. Kalimat panjang yang ia lontarkan terus saja menusuk jantungnya tanpa ampun. Sungguh, ia ingin pergi barang sejenak saja untuk menghindari semua kenyataan yang diperjelas oleh Sasuke. Ia tau, bahkan sangat mengerti bagaimana situasi yang ia hadapi sekarang ini. Tapi entah kenapa, ia tidak ingin menerimanya. Terlalu berat. Sungguh.

“Aku tidak tahu kau ini ingin membantu atau justru membuatku makin frustasi, Sasuke..”

“Kau pikir untuk apa aku ceramah panjang lebar seperti tadi? Aku ingin menjejalkan kenyataan yang sebenarnya pada otakmu itu, agar nanti apapun langkah yang kau ambil bukan hanya berdasarkan perasaan, tapi juga logika..”

Naruto memandang sekilas pada Sasuke, lalu menunduk lagi. Saat ini, perasaan maupun logikanya sedang tidak berfungsi dengan baik. Kosong sekali rasanya. Entah apa sekarang yang ada dipikirannya.

Tidak tahan dengan sikap Naruto itu, akhirnya Sasuke berdiri dan menarik lengan Naruto dengan kasar.

“Apa-apaan kau ini, teme?!” Naruto terkejut karena ditarik  tiba-tiba begitu.

“Sekarang kita ke kantor Hokage.”

Naruto masih tetap melawan, tapi tenaganya saat itu sama sekali tidak bisa melawan kuatnya cengkraman Sasuke.

“Untuk apa? SASUKE!” teriakan Naruto bergema lagi, membuat para tetangga merasa terganggu.

“Kakashi sensei sudah bersedia menjadi pendampingmu saat melamar Hinata nanti, sekarang kita rundingkan waktunya.”

Naruto terdiam.

.

.

.

“SENSEI!” teriakan Naruto bergema di seluruh ruangan Hokage, membuat para pekerja yang ada di sana menoleh padanya. Ah, mereka sudah biasa dengan sikap Naruto yang seperti tidak tahu tata krama, karena beberapa detik kemudian mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Naruto berlari dengan cepat, rasanya jarak antara koridor dengan pintu ruangan Hokage terasa jauh jika sedang dalam keadaan terdesak begini. Sasuke yang sudah berjalan di belakangnya tetap berjalan dengan santai.

BUK!

Pintu ruangan Hokage dibanting dengan kasar, tanpa basa-basi lagi Naruto melesat masuk, mendapati Kakashi sedang sibuk dengan tumpukan kertas di atas mejanya.

“Naruto?!” seru Kakashi agak kaget, ia memandang Naruto heran. Setelahnya, Sasuke muncul di belakangnya.

“Katakan sensei! Apakah benar kau menuruti kata-kata Sasuke-teme?” Naruto tampak tidak sabar, matanya melotot pada orang dihadapannya sekarang.

Kakashi berhenti memeriksa berkas yang ada ditangannya, pandangannya tetap tidak berubah. Ia masih tenang, dan kemudian mengangguk membenarkan.

“Aku sudah merundingkan ini dengan Iruka, dia juga menyetujuinya.”

Naruto membelalakkan matanya sekali lagi.

“Sensei, apa kau sadar dengan apa yang akan kau lakukan? Kenapa kalian semua jadi tidak masuk akal begini? Ya ampun..” Naruto mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi.

Kakashi melirik Sasuke, sejenak mereka saling berpandangan.

“Sasuke, harusnya kau jangan mengatakan secepat ini padanya. Lihat sendiri, kan? Dia pasti shock.”

Sasuke tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Kalau aku tidak segera mengatakannya, mungkin dia sudah mati karena depresi terlalu lama.”

“Teme sialan! Siapa yang kau bilang depresi, hah?” Naruto makin kesal dengan kelakuan teman-temannya. Ia memukul bahu Sasuke, membuat pemuda itu berdecak kesal.

“Kantung hitam di bawah matamu itu sudah cukup sebagai bukti.”

“Cih!” Naruto memandang Sasuke sejenak, lalu membuang mukanya ke arah lain.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Beginikah rasanya punya murid yang begitu peduli satu sama lain? Rasanya begitu nyata, kedekatan titisan Ashura dan Indra itu membuat hatinya begitu hangat. Sasuke yang ia tahu, adalah seorang pemuda dingin yang tidak peduli terhadap orang lain. Tapi tidak untuk sekarang, begitu dekatnya ikatan mereka sekarang sehingga mampu melelehkan hati dingin keturunan Uchiha terakhir itu. Inilah saatnya ia sebagai seorang guru yang sudah menganggap tim 7 seperti keluarganya sendiri membantu mereka.

“Baiklah, mari kita bicarakan rencananya selagi kalian ada disini.” Kakashi menopang dagunya dengan tangan, memandang Naruto dan Sasuke bergantian.

“Sensei, apa yang kau bicarakan? Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian, t-tapi jangan bertindak seenaknya. Ini adalah urusanku. Kalian tidak mengerti sama sekali dengan hal ini.”

“Naruto, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Bahkan aku lebih mengerti perasaanmu dibanding dirimu sendiri.” Kakashi masih tenang.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

Naruto benar-benar tidak tau lagi apa yang harus ia katakan. Di satu sisi, dia sangat senang karena teman-temannya sangat perhatian padanya, tapi disisi lain dia merasa tindakan teman-temannya sangat salah karena urusan yang dihadapinya sekarang bukan urusan sepele, ini adalah masalah negara.

BUK!

Naruto tiba-tiba terhuyung, keseimbangannya hilang begitu saja. Rasanya ia akan jatuh, tapi tangannya refleks menopang tubuh besar itu ke dinding. Pandangannya jadi berkunang-kunang, sesuatu yang sangat kuat sepertinya menghantam pipinya dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Sakura?” Seru kakashi. Dia begitu kagetnya mendapati Sakura sudah hadir di antara mereka, bahkan sampai memukul Naruto dengan keras. Sejak kapan gadis itu berada di sini?

“Shannarooo!” teriak Sakura menakutkan. Ia tampak bersiap lagi memukul putra sang Yondaime Hokage, teriakannya bergema sampai keluar gedung.

Untungnya, Sasuke segera menahan tubuh gadis itu.

“Hentikan, Sakura.” Perintah Sasuke, sambil mencengkram lengan Sakura. Mungkin emosi gadis itu sekarang sedang beda di puncak, wajahnya memerah dan tampak menyeramkan. Persis seperti Kushina yang sedang marah.

“Lepaskan aku, Sasuke-kun! Si bodoh ini harus dipukul dulu agar ia mengerti.” Sakura berusaha melepas cengkraman Sasuke, tapi apa daya Sasuke jauh lebih kuat.

Naruto mengusap bibirnya yang berdarah, lalu perlahan bersandar pada dinding. Ia memandang Sakura dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan.

“Sakura-chan..” gumam Naruto pelan.

“Dengar Naruto!” Nada suara Sakura meninggi, “ Kau sudah dewasa, jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Jangan berpura-pura kuat di depan orang lain. Jika kau membutuhkan bantuan kami, kenapa harus mengatakan hal yang bertentangan? Kau bilang kami punya masalah sendiri? Tentu saja! Aku begitu sibuk di rumah sakit sampai aku tidak punya waktu luang untuk mendengar masalahmu. Kakashi sensei pun sudah tidak punya waktu untuk mendengar ocehan konyolmu itu, mengerti? Tapi satu hal yang harus kau tau, kami akan datang jika kau membutuhkan bantuan!”

Nafas Sakura terengah-engah, teriakan dan kalimat panjang yang ia keluarkan barusan cukup menguras energinya. Ditambah lagi ia sedang melawan cengkraman Sasuke yang begitu erat melawannya.

Naruto terdiam.

“Gara-gara si dobe ini membuat masalah, keberangkatanku mungkin akan sedikit tertunda.” Kali ini Sasuke yang berbicara. Genggamannya pada Sakura melemah, sebelum akhirnya ia melepaskan gadis itu.

“Minna…” gumam Naruto lagi, tapi kali ini lebih pelan.

“Berkas-berkas ini bisa aku selesaikan nanti, bagaimana mungkin aku membiarkan anak bodoh ini menyelesaikan masalahnya sendiri? Konoha bisa berantakan kalau dia bertindak yang aneh-aneh nanti.” Kakashi menggeser tumpukan kertas itu lebih ke tepi, hingga tangannya lebih leluasa digerakkan di atas meja.

Tes.

Tes.

Jatuh juga air bening yang ditahannya dari tadi. Bertubi-tubi masalah yang ia hadapi, dan hari ini adalah puncaknya sehingga ia menyerah untuk membangun pertahanannya lagi. Naruto pun tak mengerti, kenapa ia tiba-tiba menangis.

Beginikah rasanya punya keluarga? Meskipun sibuk dengan urusan masing-masing, mereka tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi masalah sendirian. Kedekatan batin yang amat sangat ini membuat persahabatan menjelma jadi ikatan paling kuat yang membuat kita dekat dan mengerti satu sama lain tanpa harus berkata sepatah kata pun.

Betapapun ia kesepian, tidak punya orang yang mengatakan “selamat datang” ketika ia pulang ke rumah, tapi Naruto merasa persahabatan dengan teman-temannya sudah lebih dari cukup untuk menggantikan itu semua. Ia tidak akan kesepian lagi, karena semua orang akan selalu ada untuknya. Ya, dia salah sangka selama ini. Mereka tidak pernah melupakannya. Mereka-lah keluarganya.

“Arigatou..” isak Naruto, sambil mengusap air matanya dengan lengan baju. Suaranya parau ditambah dengan sesenggukan kecil. Air matanya mengalir deras, kali ini ia tidak mencoba untuk membendungnya. Toh semua yang ada di hadapannya sekarang adalah keluarganya.

.

.

.

To be continued.