Elite Military Unit, R.A.I.N.S (Chapter 1)

Cast : Bangtan Boys, EXO, Big Bang

EXO-K.full.1695922

Terdengar suara samar-samar pembaca berita di dalam ruang gelap berukuran 5×6 meter itu. Lampu ruangan sepertinya sengaja dimatikan, ditambah suara petir yang dari tadi tidak berhenti memecah kesunyian malam. Pemuda itu terus memperhatikan kata-kata yang keluar dari pembawa berita, ia sepertinya sangat tertarik dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita itu.

“Sekitar 73 orang tewas dalam kecelakaan naas ini. Polisi mengatakan bahwa kecelakaan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti cuaca yang buruk dan kurangnya pengetahuan tentang keamanan kerja di lapangan. Oleh karena itu, pemerintah menghimbau untuk selalu menaati SOP yang berlaku setiap kali akan bekerja….”

Matanya terus memandangi layar televisi, tapi pikirannya sudah melayang entah kemana.

“Belum tidur?” tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang. Orang itu lantas duduk disampingnya, lalu memakan permen di dalam toples yang diletakkan di atas meja.

Ia menggeleng, “Aku terlalu gugup.”

“Gugup? Tentu saja. Bukankah besok misi pertamamu, Jungkookie?”

“Hm..” jawabnya singkat.

“Sudahlah, lebih baik kau tidur sekarang. Wajar saja kau merasa gugup, tapi jangan menghabiskan energi untuk sesuatu yang tidak penting..”

“Kau sendiri bagaimana, Jin hyung?”

“Aku besok libur. Aku bebas malam ini.”

“Begitu..” gumamnya hampir tidak terdengar. Jungkook mengambil remote tv, lalu mengganti channelnya berkali-kali. Akhirnya berhenti lagi pada channel yang menayangkan berita tadi.

“Bukankah kecelakaan itu ada di distrik 9?” Jin langsung memasang matanya lekat-lekat pada televisi saat melihat berita itu. Ia memperhatikan dengan seksama.

“Iya..” Jungkook mengangguk lagi.

“Sepertinya misimu berhubungan dengan kecelakaan itu. Kau mendapat tugas ke distrik 9 kan?” Jin mengalihkan pandangannya dari televisi pada orang di sampingnya.

“Aku rasa begitu. Berita ini selalu diulang-ulang dari kemarin. Sepertinya pihak kepolisian masih mencurigai ada faktor lain yang menjadi penyebab kecelakaan, karena itu kasusnya masih diusut sampai sekarang.”

Jin tersenyum tipis. “Sepertinya kau sudah mulai menikmati peranmu sebagai anggota the Rains..”

“Tetap saja aku masih gugup. Besok aku akan ditemani oleh Leader the Rains dan Chanyeol hyung.  Mereka memiliki kemampuan yang tidak sembarangan. Aku pasti akan merepotkan mereka nanti.”

Jin memukul kepala Jungkook perlahan.

“Bodoh.” Katanya sambil tersenyum. “Mereka memilihmu menjadi partner karena kemampuanmu jauh lebih baik dibanding teman-temanmu di kelas Beginner. Seharusnya kau bangga, bukan merasa rendah diri..”

“Tapi..”

“Sudahlah, jangan mengoceh terus. Kau bahkan jauh lebih baik dibanding Rap Monster yang jenius itu. Dia memang berotak encer, mungkin hampir seimbang dengan GD-hyung, tapi dia tidak sehebatmu kalau berada di lapangan.”

Jungkook diam saja. Kata-kata Jin sepertinya tidak terlalu ampuh untuk menghilangkan gugupnya. G-dragon adalah leader the Rains   yang sudah berada di tingkat Major, ia bisa dikatakan anggota yang mempunyai pangkat paling tinggi disana. Selain otaknya yang jenius, G-dragon juga pintar berdiplomasi dengan orang-orang yang dianggap penting untuk menyelesaikan misi. Mungkin ia bisa membaca pikiran orang lain, sehingga orang itu dengan mudah bisa menemukan titik kelemahan mereka lalu menaklukannya. Sedangkan dirinya sendri adalah orang yang sulit untuk ditebak, ide-idenya selalu brilian dan kadang tidak terpikirkan oleh orang lain. Ia selalu disebut-sebut sebagai anak yang dirahmati. Bagaimana mungkin Jungkook yang masih pemula dipasangkan dengan orang sehebat itu?

Chanyeol ? Ia adalah seorang anggota The Rains dari kelas Expert yang telah menyelesaikan berbagai macam misi tingkat S dengan mudah. Kemampuannya dalam bidang matematika dan fisika membuatnya ahli dalam memperkirakan ruang dan jarak saat bertempur di lapangan. Perkiraannya yang tepat dan akurat selalu didasarkan oleh ilmu fisika yang telah digelutinya sejak ia masih berumur 8 tahun. Walaupun ia orang yang hiperaktif, tapi pribadinya akan berubah serius ketika menjalankan misi. Ia adalah golongan orang-orang yang akan bekerja secara profesional dan efisien. Lagi-lagi orang hebat yang akan mendampinginya, lalu bagaimana ia harus bertindak? Ia belum berpengalaman di lapangan yang sebenarnya. Ia hanya takut tidak dapat mengejar kemampuan mereka dan akhirnya menjadi beban saat misi dijalankan.

-___-

Pagi itu Jungkook harus menemui partnernya di ruang utama untuk berdiskusi terlebih dahulu. Ia datang paling cepat, karena GD dan Chanyeol belum ada disana. Ruangan super besar itu dihiasi oleh berbagai lukisan berkelas yang harganya tidak sembarangan. Warna catnya yang putih membuat ruangan itu seperti rumah sakit, tapi enak dipandang mata. Disetiap sudutnya ditanami bunga besar, membuat ruangan kelihatan lebih asri.

Jungkook duduk di sofa, tapi ia segera berdiri lagi ketika Chanyeol tiba-tiba datang sambil mengancingkan lengan bajunya.

“Maaf aku terlambat.” katanya dengan tergesa-gesa. Ia masih sibuk dengan lengan bajunya yang belum terkancing dengan sempurna.

“Tidak apa-apa..” jawab Jungkook menggeleng.

“Kau sudah lama menunggu?”

“Sekitar 10 menit..”

Chanyeol memandang Jungkook, lalu memperhatikan seluruh ruangan seakan mencari seseorang.

“GD hyung belum datang?” tanyanya.

“Belum, hyung.”

“Dasar tukang tidur. Pasti dia belum bangun.” gerutu Chanyeol, lalu ia duduk di sofa yang sudah disediakan di ruangan itu.

Jungkook mengikutinya, tapi ia duduk agak jauh dari Chanyeol.

Setelah selesai dengan urusan kancing bajunya, Chanyeol kembali memandang Jungkook yang dari tadi diam. Matanya yang besar terlihat bersinar-sinar saat itu.

“Kau terlihat gugup.” Godanya sambil tersenyum.

Jungkook segera mengepalkan tangannya, berusaha menghilangkan rasa gugup yang membuat telapak tangannya berkeringat.

“Tenang saja, aku juga dulu sepertimu. Misi pertama selalu membuat orang deg-degan. Tapi jika ada GD hyung, kita akan aman. Dia adalah orang paling cerdas yang pernah aku temui..”

“Aku tau, justru hal itulah yang membuatku merasa gugup. Aku takut membuat semuanya kacau.”

Chanyeol tertawa, ”Tidak usah khawatir. Kalau hanya kau, kami tidak akan kerepotan. Cukup lindungi dirimu sendiri, hindari hal-hal yang dirasa membahayakan. Selebihnya serahkan pada kami. Misi pertama ini hanya untuk memperlihatkan padamu bagaimana cara menyelesaikan misi yang sebenarnya.”

“Aku mengerti..”

“Bagus. Kau harus benar-benar memanfaatkan kesempatan ini. Sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk menjalankan misi bersama GD hyung. Ia memilihmu menjadi partnernya karena ia tertarik dengan hasil ujianmu pada semester kemarin.”

“Tapi Rap monster hyung mendapatkan nilai tertinggi waktu itu.”

“Memang, tapi teori saja tidak cukup bukan? Ia memang unggul di teori, tapi tidak cukup pintar menangani masalah ketika ujian lapangan. Ia mudah panik, sehingga apapun yang dilakukannya di lapangan jadi berantakan.”

“Jadi menurutmu, aku lebih tenang?” Jungkook melirik Chanyeol dengan pandangan penuh selidik.

“Bahkan aku kalah jika dibandingkan denganmu, Jungkook-ah. Kau masih bisa berpikir sangat jernih disaat-saat genting. Aku punya firasat, kau nantinya yang akan menjadi the Next G-dragon..”

“Hyung, kau terlalu berlebihan..” gumamnya.  Jungkook merasakan panas di mukanya, menurutnya pujian itu terlalu berlebihan, membuatnya merasa sangat malu.

Chanyeol tertawa kecil. Beberapa saat kemudian, G-dragon datang dengan cara yang sama persis dengan Chanyeol. Ia berlari kecil sambil mengancingkan lengan bajunya.

“Apa aku terlambat terlalu lama?” tanyanya dengan nafas yang masih belum teratur. Jungkook segera berdiri, sedangkan Chanyeol tetap duduk sambil memiringkan bibirnya seperti orang kesal.

“Kau lihat jenggotku sudah bermunculan karena terlalu lama menunggumu, hyung?”

Jungkook heran mendengar perkataan Chanyeol yang terasa kurang sopan pada GD. Selama ini ia merasa GD adalah orang yang sangat serius dan kaku, selalu tegas saat ia mengajar teori di kelas. Ia tidak bisa membayangkan kalau GD akan bisa dekat dengan orang lain. GD adalah tipe orang yang sangat jauh berada di atas, sulit sekali rasanya untuk bisa dekat dengannya.

“Mau aku bantu mencukurnya?” GD membungkuk, memegang lututnya sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan. Ia melirik Chanyeol sambil menyeringai.

“Ck! Kemana saja kau, hyung? Kau sudah membuat junior kita menunggu lama. Kau tau?”

GD mengalihkan pandangannya pada Jungkook.

“Ohh, maafkan aku Jungkook-ah. TOP semalam memaksaku mengerjakan tugasnya. Waktu tidurku benar-benar tersita olehnya..”

GD memperlihatkan ekspresi wajah sangat menyesal, sikapnya menjadi jauh lebih lembut dan sopan dibandingkan dengan ketika ia berada di kelas. Jungkook merasa ngeri dengan orang itu, ia malah makin menakutkan dengan sikap sopannya.

Jungkook menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa hyung-nim.” jawabnya, masih dengan panggilan formal di dalam kelasnya.

Chanyeol lantas tertawa, embel-embel “nim” itu terasa sangat kaku diucapkan oleh Jungkook.

“Kau tidak usah terlalu formal kalau berada di luar kelas. Panggil saja dia hyung. Lebih enak seperti itu..”

GD mengangguk. “Tidak usah terlalu kaku, Jungkook-ah. Kalau diluar kelas, kau bebas memanggilku apa saja karena sekarang kita adalah partner, bukan lagi mentor dan murid..” ia lagi-lagi tersenyum tipis.

Jungkook mengangguk.

“Baiklah, lebih baik kita duduk dulu. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan pada kalian sebelum kita ke distrik 9. Oh ya, kalian belum sarapan kan? Kita berdiskusi sambil sarapan saja.”

GD memesan tiga potong roti berisi keju dan tiga gelas susu. Sebelumnya ia menawarkan beberapa menu pada Chanyeol dan Jungkook, tapi mereka berdua lebih memilih menu yang sama dengannya. Mereka menyantap sarapan pagi itu sambil terus berdiskusi,

“Aku rasa kalian sudah mengetahui apa yang akan kita lakukan nanti di distrik 9, bukan begitu?” GD membuka pembicaraan sambil terus mengunyah rotinya.

“Longsor yang telah merenggut banyak nyawa itu sepertinya tidak terjadi secara kebetulan. Polisi masih mencurigai ada hal lain yang menjadi penyebabnya. Karena itulah kasusnya sampai sekarang masih belum ditutup.” Chanyeol menjawab spontan, ia juga berbicara sambil mengunyah rotinya.

“Tepat.” ucap GD, “ Misi kita berhubungan dengan kecelakaan itu. Kau pasti sudah melihat beritanya juga kan, Jungkook? Pertama-tama, aku ingin mengetahui pandanganmu mengenai hal itu.”

Jungkook berhenti mengunyah, lalu berpikir sejenak.

“Pemerintah tetap memberikan pernyataan yang berlawanan dan seakan-akan berusaha menutupi sesuatu terhadap kecelakaan itu. Memang benar cuaca sedang buruk, sehingga mereka mengatakan bahwa longsornya tanah itu karena hujan yang turun terus menerus. Mereka juga mengatakan kalau para pekerja kurang memperhatikan keselamatan kerja yang sesuai dengan SOP. Tapi ada satu hal yang aneh dari peristiwa itu, jasad mereka hampir tidak bisa dikenali lagi wajahnya. Tubuh mereka hancur, semua wajahnya rusak sehingga sulit mengidentifikasi siapa mereka. Jasad orang yang tertimbun tanah longsor tidak akan rusak separah itu. ” jelasnya.

GD mengangguk-angguk saat Jungkook menjelaskan, lalu ia meneguk susunya hingga habis. Tampak rasa puas di wajahnya setelah mendengar penjelasan juniornya itu.

“Bagus. Kau sudah bisa menganalisa sampai sejauh itu. Lalu, menurutmu kenapa hal itu bisa terjadi?”

Jungkook kembali terdiam. Ia memperhatikan GD beberapa saat, lalu beralih melirik Chanyeol yang sepertinya tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Ia terlalu sibuk dengan makanannya. Ia ragu untuk mengutarakan pendapat.

“A-aku rasa ada pihak lain yang ingin menutupi kejadian yang sebenarnya dengan menciptakan longsor itu. Jelas mereka tewas bukan karena tanah longsor, tapi karena kejadian sebelumnya yang disengaja. Mungkin pihak lain itu ingin memusnahkan suatu bukti dengan cara membunuh mereka, lalu sengaja melongsorkan tanah disekitarnya sehingga kematian mereka tidak akan dicurigai sebagai pembunuhan, tapi bencana alam.” Jelasnya agak terbata-bata.

Lagi-lagi GD tersenyum puas. Ia menepuk-nepuk bahu Jungkook dengan bangga.

“Benar-benar analisa yang bagus. Aku rasa kau sudah tau semuanya, jadi aku tidak perlu menjelaskan dari awal. Apa yang kau katakan memang benar, kecelakaan ini adalah ulah dari pihak ketiga yang ingin memusnahkan suatu bukti yang penting. Aku khawatir pemerintah juga ikut ambil andil dalam masalah ini karena ia terkesan menutup-tutupi kejadian yang sebenarnya. Lalu, tugas kita sekarang adalah mencari bukti yang hilang itu untuk mengungkap apa yang sebenarnya telah mereka lakukan sehingga mereka harus melakukan perbuatan tidak berprikemanusiaan seperti itu.”

Chanyeol yang baru saja menghabiskan rotinya menyela,

“Pastinya tugas ini tidak akan mudah. Kita butuh bantuan untuk membongkar lagi gua yang sudah tertimbun tanah longsor itu bukan?”

“Tenang saja, aku sudah mengurus semuanya. Mereka telah melakukannya semalam. Kita hanya perlu mencari bukti itu..”

“Benarkah? Wah, kau benar-benar orang yang efisien, hyung. Padahal aku melihatmu sangat sibuk akhir-akhir ini.” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi mengejek.

GD tersenyum pongah. Sekarang ia jelas sekali terlihat seperti setan, sangat menakutkan. Setidaknya itulah yang terlihat oleh Jungkook. Bulu romanya selalu berdiri saat melihat GD tersenyum seperti itu. Ia heran kenapa Chanyeol tidak dapat merasakan aura aneh disekitar GD saat itu.

Sebaliknya, Chanyeol malah terasa seperti malaikat yang selalu menebar kebaikan disekitarnya. Ia selalu tersenyum, tapi senyum yang sangat berbeda. Senyumnya jauh lebih hangat dan memancarkan semangat positif  terhadap dirinya sendiri. Berbeda dengan GD yang terlihat sangat mengintimidasi orang lain. Jungkook merasa sedang berada ditengah-tengah dua dunia yang berlawanan saat itu.

Setelah mereka berdiskusi panjang lebar, akhirnya mereka berangkat ke distrik 9 dengan helikopter yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah.

Mereka membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di lokasi kejadian, akibat angin yang lumayan kencang terus menghantam helikopter mereka. Helikopter  agak susah untuk dikendalikan disaat cuaca tidak mendukung seperti ini.

Sesampainya disana, terlihat beberapa orang polisi di sekitar lokasi sedang sibuk memeriksa runtuhan longsor. Mereka juga berusaha mencari sidik jari di batu-batu yang tertimbun, walaupun sebenarnya itu adalah pekerjaan yang agak sia-sia. Hujan pastinya sudah membersihkan semua jejak yang tertinggal disana.

Penduduk di sekitar beramai-ramai datang kesana untuk melihat lokasi longsor, tapi garis-garis polisi berwarna kuning sudah dipasang disepanjang pintu masuk gua.

Jungkook merasa risih ketika ia dilihat dengan pandangan aneh oleh para penduduk disana. Ketika mereka tiba tadi, mereka semua memperhatikannya dengan pandangan penuh curiga.

GD segera bersalaman dengan seorang inspektur kepolisian yang menangani kasus tersebut. Dia adalah orang yang gemuk, dengan alis tebal dan kumis yang menghiasi wajahnya, serta rambut pirang khas penduduk distrik 9. Walaupun matanya sipit, tapi wajahnya sangat ramah. Ia mengenakan topi kepolisian, sambil membawa sebuah berkas yang agak lembab seperti bekas terkena cipratan air.

“Bagaimana kabarmu, Inspektur Rootman?” tanyanya sambil menjabat tangan inspektur itu.

Inspektur Rootman membalasnya sambil tersenyum,

“Tidak buruk..,” katanya. “Sudah lama kita tidak bertemu, G-dragon. Aku selalu ingat kejadian waktu itu, ketika kau membantuku memecahkan kasus di daerah distrik 3.”

GD mengernyitkan keningnya, ia berpikir sebentar lalu menjawab.

“Ah, kasus tentang narkoba itu kah? Komplotan narkoba terbesar di distrik 3 ..”

Inspektur Rootman mengangguk membenarkan,

“Berkat bantuanmu, akhirnya aku bisa menyelesaikan kasus merepotkan yang memakan waktu hampir 4 tahun itu. Aku benar-benar berterima kasih padamu.”

GD menggeleng, tapi dengan bangga. “Tidak. Kasus itu selesai karena kerjasama kita, inspektur.”

“Tentu saja, anak muda. Tapi aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana kau bisa menyelesaikan kasus itu dengan mudah. Padahal aku hampir gila karena sibuk memikirkan jalan keluar yang tepat untuk menangkap mereka.”

Lagi-lagi GD merendah, “Itu hanya karena aku sedang beruntung, inspektur.

Inspektur itu tertawa kecil, kemudian mengalihkan pandangannya pada Chanyeol dan Jungkook yang berdiri dengan rapi disamping GD.

“Apakah mereka anak buahmu?”

Chanyeol memiringkan bibirnya, ia memukul punggung GD perlahan, isyarat agar GD menjelaskan siapa mereka.

“Bukan, mereka adalah partnerku kali ini. Yang tinggi ini adalah Chanyeol, dan ini adalah Jungkook.” Jelas GD sambil menunjuk pada mereka berdua.

Inspektur itu menggernyitkan keningnya, “Kemana partnermu yang waktu itu? TOP, ya?”

“Dia sedang bertugas di distrik 7. Sepertinya kasus selalu bermunculan akhir-akhir ini, kami benar-benar sibuk karenanya.”

“Ya, cacat hukum di negara kita akan selalu menghasilkan tindakan kriminal yang tidak terduga. Siapa sangka, hukum yang dulu kita agung-agungkan malah dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jika pondasinya saja sudah rusak, bagaimana mungkin bisa membangun suatu negara yang kuat?”

Inspektur itu sepertinya sangat kesal, berkas yang digenggamnya tadi hampir remuk karena dikepalnya dengan kuat. Wajahnya memerah karena menahan emosi.

“Lebih baik kita selesaikan dulu masalah yang ada disini. Bagaimana info terakhir yang sudah didapatkan, Inspektur?” GD berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tahu, inspektur Rootman tidak akan berhenti mengoceh tentang urusan politik jika dibiarkan saja. Ia memang orang yang kritis dan demokratis, tapi terlalu banyak bicara malah membuatnya terkesan cerewet dan asal omong.

“Ohh, baiklah.” katanya gugup, lalu ia membuka berkas yang digengamnya tadi. “Semua jasad yang ditemukan sudah diautopsi. Umumnya mereka adalah penduduk disekitar sini. Walaupun wajah mereka sudah tidak bisa dikenali lagi, untungnya keluarga mereka masih tetap bisa mengenali berdasarkan ciri khasnya masing-masing. Pemerintah memberikan mereka uang tunjangan kematian, begitu pula dengan perusahaan yang mempekerjakan mereka. Kemudian…” Inspektur itu membalik-balik halaman dari berkas yang ia genggam tadi sambil mencari-cari sesuatu.

“Ini dia.” Katanya setelah menemukan halaman yang dicari. “Kau bisa lihat di foto ini..” ia menunjukkan sebuah foto yang dicetak di kertas itu pada GD. Chanyeol dan Jungkook pun ikut mendekatkan kepala mereka pada berkas tersebut.

Disana terlihat sebuah benda dengan bentuk tak beraturan berwarna hitam kecoklatan dan mengkilat.

“Batu?” bisik Chanyeol pada GD.

GD mengangguk, “Iya, tapi bukan batu biasa.”

“Painite!” kata Jungkook dengan nada agak tinggi, dia terlihat kaget.

Lantas GD dan Chanyeol memandang pada Jungkook.

“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Chanyeol penasaran.

“Seharusnya semua orang sudah tau, hyung. Batu ini adalah batu paling langka di dunia dan harganya sangat mahal. Beberapa waktu yang lalu, batu ini hilang dari museum benda bersejarah yang ada di distrik 7.”

“Benarkah?” Chanyeol berteriak kecil, lalu mengalihkan pandangannya pada inspektur Rooman. “Adakah penjelasan kenapa batu itu bisa berada di tempat ini?”

“Sejauh ini belum ada penjelasan apapun. Batu itu sekarang sedang berada di kantor polisi untuk diselidiki. Kami sudah mencoba mencari sidik jari jika memang ada, tapi usaha itu pun sepertinya sia-sia. Tidak ada jejak sedikitpun yang tersisa.” Jelas Inspektur itu dengan nada penuh penyesalan.

GD mengangkat alisnya, “Berarti kita yang harus bekerja lebih keras. Sepertinya pelaku adalah orang yang cerdik, dia sudah menghapus semua jejaknya dengan sangat baik.”

Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam gua. Mulut gua itu berukuran kecil, hanya satu setengah meter tingginya sehingga Chanyeol yang paling jangkung harus masuk dengan cara menunduk. Dia agak kesulitan menyesuaikan tingginya dengan ukuran gua itu.

Setelah berada di dalam, mereka bisa melihat gua yang dilengkapi dengan berbagai macam peralatan tambang yang sudah rusak dan kotor karena bekas tertimbun tanah. Bentuk guanya sudah tidak beraturan lagi, sehingga sulit menerka-nerka bagaimana bentuk dari gua itu pada awalnya.

Mereka terus menyusuri gua sampai ke dalaman 500 meter, tapi masih belum menemukan apa-apa. Semakin ke dalam, semakin gelap. Mereka semua terpaksa menggunakan lampu bantu untuk menerangi jalan. Tanah di gua masih lembab, membuat sepatu mereka kotor dan terasa berat akibat tanah yang lengket. Hal itu cukup mempersulit investigasi mereka.

“Sial! Sepatu boot ku sudah tidak karuan lagi bentuknya.” umpat Chanyeol kesal. Ia menggoyang-goyangkan kakinya, berharap tanah yang lengket itu jatuh dari bootnya.

“Tanahnya masih sangat lembab, keadaan yang tidak menguntungkan buat kita..” jawab GD sambil terus memperhatikan keadaan disekelilingnya. Sesekali ia mendekatkan penerangan yang ada di tangannya ke bagian dinding yang ia rasa punya petunjuk. Namun usahanya masih belum menghasilkan.

Mereka terus menyisir gua itu dengan tekun. Apapun benda yang aneh atau jejak asing yang terlihat, mereka segera mengambil gambarnya. Hal itu pasti akan berguna nantinya untuk penyelidikan mereka.

“Hyung, aku masih penasaran dengan batu painite yang ditemukan di gua ini..” tiba-tiba Jungkook membuka suara setelah beberapa lama ia bungkam dengan segala pertanyaan di kepalanya.

GD menoleh pada Jungkook, berhenti seketika, lalu mulai berjalan lagi. Begitu pula dengan Chanyeol yang mengikutinya dari belakang.

“Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?” GD balik bertanya.

Jungkook mengangguk perlahan, “Inspektur Rootman mengatakan tidak ditemukan sidik jari atau jejak apapun pada batu itu. Aku rasa itu hal yang aneh. Jika batu itu dicuri oleh salah satu korban longsor ini, berarti orang itu bukanlah pekerja tambang. Kau bisa lihat sendiri, rata-rata pekerja tambang disini adalah penduduk setempat. Sewaktu aku melihat para penduduk berderet memperhatikan lokasi kejadian di depan gua tadi, aku ragu salah satu anggota keluarga mereka akan berhasil mencuri batu paling berharga itu, karena…”

“…karena mereka adalah tipe orang bodoh, sangat mudah dipengaruhi, dan keras. Daerah ini adalah salah satu daerah paling terbelakang dan terpencil di distrik 3. Pendidikan bukanlah hal yang penting disini. Kebanyakan dari mereka tidak bersekolah, pikiran mereka tidak maju. Masih sama seperti orang-orang jaman dahulu kala yang mengagung-agungkan kekuatan. Karena kebodohan mereka itulah, menurutmu tidak mungkin mereka bisa mencuri batu painite itu dengan rapi bahkan tanpa meninggalkan sidik jadi, begitu bukan?” Chanyeol memotong kata-kata Jungkook, karena ia juga memikirkan hal yang persis sama dengan anak itu.

GD menambahkan, “ Jangankan meninggalkan sidik jadi, mencuri batu painite itu saja adalah hal yang mustahil dilakukan oleh orang-orang seperti mereka. Distrik 7 adalah distrik teraman di dunia, teknologi keamanan tingkat tinggi berada di sana. Batu painite yang langka itupun disimpan di distrik 7 karena keamanannya yang tidak diragukan lagi. Bagaimana mungkin orang-orang primitif di daerah ini bisa membobol teknologi tercanggih yang pernah ada sepanjang sejarah? Itulah sebabnya, pelaku yang sebenarnya sudah membuat kesalahan yang akan menjerumuskan dirinya sendiri dalam penjara..” seringai menakutkan kembali muncul di sudut bibirnya. Jika saja Jungkook melihat, pasti dia akan bergidik lagi melihat aura ‘setan’ yang menyelubungi G-dragon saat ini.

Tiba-tiba saja tanah yang mereka injak bergetar.

“Gempa?” seru Chanyeol setengah berteriak. Mereka saling berpandangan satu sama lain, tampak panik menggelantung di wajah masing-masing.

“Terus jalan!” perintah GD segera. Dua orang lainnya mengikuti dengan patuh.

Getaran itu makin lama makin keras, sekarang bukan hanya tanah yang terasa berguncang, dinding-dinding gua yang masih rapuh karena lembab itu pun ikut bergoyang. Beberapa pecahan batu kecil sebesar kelingking orang dewasa jatuh dari langit-langit.

“Cepat lari!” GD berteriak sekeras yang ia bisa.

Mereka semua berlari secepat kilat, tapi apa daya mereka sudah pergi terlalu jauh dari pintu gua. Keadaan gua yang berliku-liku, langit-langit yang rendah, serta tanah yang becek membuat mereka semakin sulit melarikan diri.

Jungkook yang berada paling belakang tiba-tiba terjatuh karena terpeleset sesuatu yang licin. Tangannya segera menopang tubuh yang besar itu, membuatnya jatuh dengan posisi terduduk sempuna. Senter yang ada di tangannya secara tidak sengaja mengayun ke segala arah, dan akhirnya mengenai sesuatu. Benar saja, lampu senternya tidak sengaja mengenai siluet punggung seseorang berbaju hitam yang sedang berdiri tegak membelakanginya di ujung salah satu gua.

Sementara itu, Chanyeol yang menyadari Jungkook sudah tidak berada di belakangnya, segera memutar arah dan berlari lagi ke belakang. Gua bergetar makin hebat, sekarang batu yang berjatuhan bukan lagi sebesar kelingking, tapi sebesar tinju.

“Jungkook!” teriak Chanyeol sambil terengah-engah. Tanah becek itu membuatnya mengeluarkan tenaga lebih banyak untuk berlari.

“JUNGKOOK, DIMANA KAU?”

Chanyeol makin panik, padahal dia sudah berjanji pada pemuda itu untuk menjaganya, tapi sekarang dia malah hilang tanpa jejak. Dia memutar kepalanya, berusaha mencari anak itu.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri semula, akhirnya ia menemukan sesosok tubuh tergeletak tak bergerak. Ia berlari lagi mendekati tubuh itu dan segera meletakkan ke pangkuannya.

“Jungkook! Apa yang terjadi? Hei, bangun! Bangun bodoh !!!”

Chanyeol yang panik dan putus asa menampar wajah Jungkook dengan keras, meninggalkan bekas merah di pipinya.

“Apa yang kau lakukan, ayo segera keluar sebelum gua ini runtuh!” GD yang datang entah datang darimana mendekati mereka berdua.

“Hyung, lihat Jungkook! Bagaimana ini? Aku..aku..” Chanyeol masih belum bisa menguasai diri. Matanya sudah berkaca-kaca.

GD berdecak kesal, disaat genting seperti ini dia malah harus berhadapan dengan orang menyebalkan seperti Chanyeol.

“Jangan cengeng, bodoh! Sekarang yang penting kita keluar, atau kau mau mati terkubur di dalam gua ini?”

“Tapi hyung..”

GD segera merebut tubuh Jungkook dari Chanyeol, dia menggendongnya dengan susah payah, lalu berlari ke arah pintu gua. Chanyeol mengikuti leadernya sambil menangis..

.

.

.

.

To be continued