The Final Chapter is The First Love (Chapter 3)

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

Cast : Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, etc.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

 .

.

.

Naruto tetap menunggu Hinata di kaki bukit yang biasa mereka lewati jika ingin ke makam para penduduk Konoha. Sudah satu jam lebih dia berdiri di sana, sambil membawa buket bunga tulip putih yang ia janjikan untuk diberikan pada ibu Hinata. Diliriknya jalan setapak yang menghubungkan desa dengan bukit itu, entah sudah keberapa kalinya, tapi belum ada jejak-jejak sang gadis akan datang. Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat, warna orange-nya persis seperti perpaduan antara ibu dan ayahnya. Dia tersenyum tipis.

“Kalian selalu menemaniku, ya?” gumamnya pelan, pada diri sendiri.

Sesekali dia menendang tanah tempat ia berpijak, berharap kebosanan hilang dari perasaannya. Berbagai macam pikiran timbul di kepalanya, tapi belum ada firasat apapun yang ia rasakan, sampai akhirnya Shikamaru datang bersama Kiba yang bertengger di atas Akamaru. Wajah mereka menyiratkan kegundahan, bahkan Shikamaru yang cuek pun terlihat terganggu.

“Oi Naruto..” panggil Kiba, ia mendekati Naruto, diiringi oleh Shikamaru.

“Kiba? Shikamaru? Kalian sudah pulang dari misi, hah?” Naruto tersenyum seperti biasa, cerahnya mengalahkan sinar mentari yang mulai gelap.

(Seperti cerita sebelumnya, Kiba dan Shikamaru tidak bisa hadir pada acara pengangkatan Hokage kemarin karena mereka sedang melaksanakan misi di luar desa)

Kiba mengangguk. “Tadi pagi kami sampai di desa. Misi yang sulit, tapi cukup membuatku puas. Jurus Gatsuuga terbaru yang aku kembangkan mulai menampakkan hasilnya.” Ia membalas senyuman Naruto, tapi sungguh pun Naruto adalah orang yang bodoh, ia bisa melihat keterpaksaan dari senyuman itu.

“Baguslah.” Jawabnya. “ Lalu mau apa kalian kemari?” tanya Naruto frontal tanpa basa-basi lagi. Tentu saja hal ini sangat aneh, karena Shikamaru dan Kiba jarang sekali datang ke kaki bukit ini.  Makam siapa yang akan mereka kunjungi?

“Kau sendiri, sedang apa? Bunga apa itu? ” Shikamaru sekarang yang bertanya.

Naruto salah tingkah, ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur kalau ia sedang menunggu Hinata? Ah sudahlah, dia tidak bisa berbohong.

“A-aku sedang menunggu Hinata..” jawabnya, masih gagap.

Shikamaru dan Kiba saling berpandangan. Seakan ada telepati yang menghubungkan pikiran mereka, Shikamaru mengangguk pada Kiba. Raut wajah Kiba berubah, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin ia ingin menyusun dulu kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Naruto.

“Kakashi-sensei belum mengatakan apapun padamu?” Kiba bertanya menyelidik.

“Hari ini aku belum bertemu dengan Kakashi-sensei..” Jawabnya santai, tanpa rasa curiga sedikitpun.

“Ck! Merepotkan sekali. Menjelaskan hal ini padamu pasti butuh waktu yang banyak. Tapi kau harus tau Naruto..” Shikamaru berdecak kesal, tangannya segera dimasukkan ke dalam saku celananya.

Naruto mengernyitkan dahi, memandang Shikamaru dan Kiba secara bergantian.

“Baiklah, langsung pada intinya saja. Klan Otsutsuki, klan terhormat dari negeri seberang hari ini datang membawa rombongan mereka berkunjung ke kediaman Hyuuga. Aku rasa Hinata tidak akan bisa datang menemuimu hari ini..” Shikamaru menjelaskan.

Naruto terdiam sejenak, lalu menjawab.

“Ahhhh, pantas saja dia tidak muncul. Hahaha, aku sudah berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Baiklah, aku mengerti..” Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lagi-lagi Shikamaru saling berpandangan dengan Kiba. Oh sungguh sulit mengatakan ini pada Naruto.

Shikamaru berkata lagi, “Naruto, kau harus dengar baik-baik. Apapun yang aku katakan, mungkin akan sulit untuk diterima. Tapi aku yakin kau akan mengerti keadaannya.” Wajahnya mulai terlihat serius, matanya memandang tajam pada Naruto.

“K-kenapa jadi serius begitu? Apakah terjadi sesuatu?” Naruto menghentikan tawa garingnya, membalas tatapan Shikamaru dengan heran.

Shikamaru mengangguk. “Ya, ada sesuatu tentang Hinata.” Shikamaru menarik napas dalam-dalam,

“Dia dilamar oleh Toneri, pewaris klan Otsutsuki…”

“Heh?” seakan kata-kata Shikamaru barusan lewat begitu saja ke telinganya, sampai-sampai ia tidak bisa mencerna apapun tentang penyataan sahabatnya itu. Ia tiba-tiba kehilangan fokus. Bola mata pemuda keturunan Hokage ke empat itu bergerak liar kesana-kemari.

Shikamaru kembali menarik nafas panjang, “Benarkan, pasti akan butuh waktu banyak untuk menjelaskannya pada orang bodoh sepertimu. Dengar, Naruto. Aku tidak tau apa yang terjadi antara kau dan Hinata, tapi yang jelas masalah pernikahan ini tidak hanya menyangkut Hinata, tapi lebih besar lagi. Ini adalah masalah kerjasama antara Konoha dengan negeri seberang. Jadi, aku berharap kau bisa membaca situasi, setidaknya kau mengerti apa yang harusnya kau ‘hindari’…” Penjelasan Shikamaru memang singkat, tapi sangat jelas. Terang saja, pemuda ber-IQ 200 itu dengan mudah menjelaskan sesuatu pada orang lain karena kecerdasannya yang melebihi orang normal.

Naruto memandang nanar pada Shikamaru, tak berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri.

Perasaan apa ini?

Rasanya begitu sakit.

Bahkan ulu hatinya terasa nyeri.

Tenaganya hilang begitu saja.

.

.

.

Kantung matanya sudah menghitam akibat kurang tidur semalam. Setiap kali memejamkan mata, hatinya menolak untuk terlelap. Semua hal yang didengarnya dari Shikamaru dan Kiba kemarin sangat mengejutkan. Pikirannya melayang, tanpa tujuan yang jelas. Hatinya pun masih luka, bahkan sampai sekarang.

Dipandangnya foto dirinya bersama dengan Kakashi, Sasuke, dan Sakura saat tim 7 baru terbentuk. Foto itu terpanjang dengan rapi hingga sekarang, terpasang awet sejak pertama kali dicetak. Disana ia dan Sasuke terlihat saling bermusuhan, sementara Sakura tersenyum dengan manis. Kakashi menggengam kepalanya bersama dengan Sasuke sambil tersenyum pada kamera. Matanya tak henti menatap pada foto itu, hingga akhirnya senyum tipis terpancar dari bibirnya.

“Aku tidak tahu bagaimana hidupku sekarang jika tidak ada kalian..” gumamnya pelan. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, sesak di dadanya lagi-lagi terasa menyakitkan. Ia segera menghempaskan tubuhnya yang besar itu ke atas kasur dengan keras. Naruto menggunakan tangan kanannya untuk menutup mata, lalu beranjak memijat kepalanya yang berdenyut.

Kata-kata Shikamaru kemarin kembali terngiang di telinganya, bagaikan kaset rusak yang terus mengulang bunyi yang sama. Oh Tuhan, andai saja ia bisa tidur saat itu agar bisa melupakan semuanya barang sejenak saja.

“Aku tidak menyangka akan sesakit ini rasanya..” lagi-lagi ia berbicara sendiri.

Karmakah yang terjadi padanya saat ini? Mungkin. Dari dulu ia tidak pernah menyadari perasaan sang gadis Hyuuga itu padanya. Tidak pernah? Salah. Justru ia sudah tau, tiga tahun yang lalu ketika Hinata datang membantunya melawan Pain. Ketika itu Hinata terang-terangan mengatakan perasaannya pada Naruto. Setelah itu? Ia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Ia mengacuhkan pernyataan  Hinata, karena ia terlalu fokus pada Sasuke. Ia sadar akan hal itu. Tapi entah kenapa, ia selalu berusaha melupakan pernyataan Hinata.  Sekarang, saat Hinata sudah berhasil masuk ke dalam ruang hatinya, gadis itu malah direbut paksa darinya oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Hei, apakah masih pantas Naruto menyebut dirinya sebagai seseorang yang dicintai oleh Hinata?  Lupakan saja. Hinata sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.

‘Tok Tok’

Pintu apartemennya diketuk dari luar. Padahal masih pagi, siapa yang terlalu rajin mengunjunginya saat ini? Ia begitu malas beranjak dari tempat tidur. Ia masih ingin merebahkan diri di kasur berukuran sedang itu.

“Oi Dobe, bangun!” Suara orang yang sangat ia kenal berteriak dari luar.

“Ck!” umpat Naruto kesal, ia berjalan ke arah pintu dan menarik ganggangnya.

Sasuke sudah berdiri di depan pintu dengan gayanya yang biasa, berdiri tegak sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.

“Mau apa kau teme?” Naruto memiringkan bibirnya, berbicara tanpa gairah sedikitpun. Sasuke masuk begitu saja, melewati Naruto yang berdiri di samping pintu. Matanya mengikuti Sasuke yang langsung berselonjor di atas kasurnya yang berantakan.

Naruto benar-benar kehilangan tenaga untuk bertanya lebih lanjut, ia duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur. Sasuke memejamkan matanya, tidak berbicara apa-apa. Beberapa saat mereka terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya.

“Jadi, kapan kau akan ke kediaman Hyuuga?” suara berat dari Sasuke memecah keheningan yang ada diantara mereka.

Oh, ternyata informasi tentang lamaran klan Otsutsuki terhadap Hinata sudah menyebar dengan cepat. Padahal baru kemarin klan itu datang, tapi informasinya bahkan sampai ke telinga pemuda paling cuek se-Konoha itu. Mungkin jika gadis itu bukan gadis yang disukai oleh sahabatnya sendiri, Sasuke tidak akan mengacuhkannya sama sekali. Masalahnya, baru kemarin Naruto berkata jujur padanya dan Sakura tentang perasaannya pada Hinata. Tiba-tiba gadis itu dilamar oleh orang asing yang tidak mereka kenal. Ini terlalu cepat! Terlalu sulit diterima, bahkan oleh Sasuke sendiri. Sedikit banyak, ia bisa merasakan kesedihan yang dihadapi oleh Naruto yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri.

Pertanyaan Sasuke yang syarat akan makna itu mungkin tidak bisa dicerna dengan baik oleh Naruto, entah karena Naruto memang bodoh atau karena saat ini ia memang sedang tidak berminat untuk berpikir.

“Untuk apa?” ia balik bertanya. Membicarakan segala hal yang berhubungan dengan Hyuuga saat ini adalah hal yang paling ingin dihindarinya.

“Ck!” sekarang gantian Sasuke yang berdecak kesal. “Untuk menemui ayah gadis itu, bodoh!”

Naruto memandang tajam pada Sasuke.

“Ayah Hinata?” katanya dingin. “Maksudmu untuk meminta dia menghentikan perjodohan Hinata dengan pemuda Otsutsuki itu?”

“Hn,” jawab Sasuke, singkat.

“Jangan bodoh, Sasuke. Ayah Hinata tidak mungkin mau mendengarkanku, memangnya aku siapa?”

Sasuke menghembuskan nafasnya dengan berat. Menjejalkan sesuatu ke dalam otak pemuda dihadapannya dengan cara yang implisit memang tidak pernah mempan.

“Karena itulah, kau harus menjadi ‘seseorang’ di keluarga itu.”

Menjadi seseorang di keluarga itu? Lagi-lagi Sasuke mengatakan sesuatu yang sulit untuk dimengerti. Harusnya Sasuke to the point, tidak perlu jadi orang pintar untuk mengerti watak Naruto yang polos.

“M-menjadi seseorang? Aku tidak mengerti maksudmu..”

Sasuke masih bertahan dengan sikapnya yang tenang, walaupun rasa kesal sudah melandanya dari tadi.

“Mudah saja.,” katanya, sambil menatap mata Naruto yang sudah bengkak karena kurang tidur, “..kau tinggal melamar Hinata..”

Hening.

Hening lagi.

Mereka saling bertatapan. Mereka berusaha menyelami pikiran masing-masing, berusaha mencari apa yang ada di dalam sana. Mereka akrab seperti saudara, mereka bisa menebak apa yang ada dipikiran masing-masing, biasanya begitu. Tapi tidak untuk kali ini, Naruto dibuat histeris oleh ide Sasuke.

“EEEHHH!!!” teriaknya, tidak sadar ia sudah berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursi itu terdorong ke belakang.

“Bodoh, kau berisik sekali dobe!” Sasuke sudah tidak bisa setenang tadi.

“J-jangan bilang i-itu ide darimu, Sasuke-Teme!” Naruto berkata terbata-bata, ia menunjuk-nunjuk Sasuke dengan lincah, sebagai suatu reaksi spontan saat ia terkejut.

“Ada yang salah dengan ideku?” jawab Sasuke innocent. Wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Bukankah itu cara terbaik untuk menghentikan pernikahan Hinata?”

“T-tapi tidak semudah itu, teme idiot! Kau pikir seperti apa klan Hyuuga itu? Mereka disiplin, keluarga terhormat yang terlalu terikat dengan tradisi. Bahkan Neji pun sempat menyerah karenanya—“ Sejak kapan Naruto jadi pintar seperti ini? Kalau saja Naruto kembali pada kepribadian aslinya, pasti dia akan mengikuti saja saran dari Sasuke. Tapi tidak untuk hal yang satu ini, karena ini masalah perasaan.

Sasuke membenarkan cara duduknya. Ia duduk diatas kasur Naruto sambil melipat tangan di dada.

“Siapa bilang hal ini akan mudah? Tentu saja aku sudah memikirkan aspek lainnya.” Sasuke menjadi lebih serius. “Kita punya beberapa kemungkinan jika kau melamar Hinata. Dengar baik-baik! Kemungkinan pertama, kau ditolak mentah-mentah oleh ayah Hinata. Seperti yang sudah kau katakan tadi, ayah Hinata adalah orang yang kolot. Dia pasti lebih memikirkan tentang tradisi dan kepentingan desa dibandingkan memilih orang bodoh sepertimu jadi menantunya…”

Naruto langsung menghentakkan kakinya ke lantai sambil memukul meja,

“Teme, siap-siap bertemu Sakura-chan di rumah sakit setelah ini karena sebentar lagi tulangmu akan aku remas sampai tak berbentuk!” Nada kesal dari suaranya meluncur lancar dari mulut sang pemuda berkulit tan. Raut wajahnya penuh dengan rasa jengkel terhadap Sasuke yang bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap ancamannya.

“..dan yang kedua adalah Hinata sendiri yang akan menolakmu.”

Lanjutan kalimat Sasuke bagai jarum-jarum kecil yang berhasil menembus rongga dadanya, hingga menusuk tepat di jantung. Lagi-lagi perasaan sakit ini yang terjadi. Naruto terdiam seketika, setelah memandang Sasuke sejenak dan menundukkan kepala setelahnya.

Sasuke memandang Naruto dengan tajam. Raut wajah frustasi dan putus asa dari sahabatnya itu terlihat sangat jelas. Tidak perlu otak pintar untuk membaca ekspresi itu.

“Jika kondisinya seperti sekarang, gadis manapun pasti akan berpikir seribu kali untuk menolak lamaran Toneri. Kau tau, dia adalah pewaris klan Otsutsuki. Salah satu klan terkuat yang pernah ada di dunia shinobi. Sekali saja membuat masalah dengan mereka, aku yakin satu negara bisa porak poranda dibuatnya. Meskipun ayahnya menerimamu, tapi akan lebih sulit meyakinkan Hinata untuk menolak lamaran Toneri.  Ayahnya mungkin saja lebih mementingkan kebahagiaan putrinya, tapi Hinata tidak mungkin semudah itu membiarkan klan dan negaranya dikorbankan. Kau paham maksudku, bukan?”

Sasuke berceramah, untuk pertama kalinya. Kalimat panjang yang ia lontarkan terus saja menusuk jantungnya tanpa ampun. Sungguh, ia ingin pergi barang sejenak saja untuk menghindari semua kenyataan yang diperjelas oleh Sasuke. Ia tau, bahkan sangat mengerti bagaimana situasi yang ia hadapi sekarang ini. Tapi entah kenapa, ia tidak ingin menerimanya. Terlalu berat. Sungguh.

“Aku tidak tahu kau ini ingin membantu atau justru membuatku makin frustasi, Sasuke..”

“Kau pikir untuk apa aku ceramah panjang lebar seperti tadi? Aku ingin menjejalkan kenyataan yang sebenarnya pada otakmu itu, agar nanti apapun langkah yang kau ambil bukan hanya berdasarkan perasaan, tapi juga logika..”

Naruto memandang sekilas pada Sasuke, lalu menunduk lagi. Saat ini, perasaan maupun logikanya sedang tidak berfungsi dengan baik. Kosong sekali rasanya. Entah apa sekarang yang ada dipikirannya.

Tidak tahan dengan sikap Naruto itu, akhirnya Sasuke berdiri dan menarik lengan Naruto dengan kasar.

“Apa-apaan kau ini, teme?!” Naruto terkejut karena ditarik  tiba-tiba begitu.

“Sekarang kita ke kantor Hokage.”

Naruto masih tetap melawan, tapi tenaganya saat itu sama sekali tidak bisa melawan kuatnya cengkraman Sasuke.

“Untuk apa? SASUKE!” teriakan Naruto bergema lagi, membuat para tetangga merasa terganggu.

“Kakashi sensei sudah bersedia menjadi pendampingmu saat melamar Hinata nanti, sekarang kita rundingkan waktunya.”

Naruto terdiam.

.

.

.

“SENSEI!” teriakan Naruto bergema di seluruh ruangan Hokage, membuat para pekerja yang ada di sana menoleh padanya. Ah, mereka sudah biasa dengan sikap Naruto yang seperti tidak tahu tata krama, karena beberapa detik kemudian mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Naruto berlari dengan cepat, rasanya jarak antara koridor dengan pintu ruangan Hokage terasa jauh jika sedang dalam keadaan terdesak begini. Sasuke yang sudah berjalan di belakangnya tetap berjalan dengan santai.

BUK!

Pintu ruangan Hokage dibanting dengan kasar, tanpa basa-basi lagi Naruto melesat masuk, mendapati Kakashi sedang sibuk dengan tumpukan kertas di atas mejanya.

“Naruto?!” seru Kakashi agak kaget, ia memandang Naruto heran. Setelahnya, Sasuke muncul di belakangnya.

“Katakan sensei! Apakah benar kau menuruti kata-kata Sasuke-teme?” Naruto tampak tidak sabar, matanya melotot pada orang dihadapannya sekarang.

Kakashi berhenti memeriksa berkas yang ada ditangannya, pandangannya tetap tidak berubah. Ia masih tenang, dan kemudian mengangguk membenarkan.

“Aku sudah merundingkan ini dengan Iruka, dia juga menyetujuinya.”

Naruto membelalakkan matanya sekali lagi.

“Sensei, apa kau sadar dengan apa yang akan kau lakukan? Kenapa kalian semua jadi tidak masuk akal begini? Ya ampun..” Naruto mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi.

Kakashi melirik Sasuke, sejenak mereka saling berpandangan.

“Sasuke, harusnya kau jangan mengatakan secepat ini padanya. Lihat sendiri, kan? Dia pasti shock.”

Sasuke tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Kalau aku tidak segera mengatakannya, mungkin dia sudah mati karena depresi terlalu lama.”

“Teme sialan! Siapa yang kau bilang depresi, hah?” Naruto makin kesal dengan kelakuan teman-temannya. Ia memukul bahu Sasuke, membuat pemuda itu berdecak kesal.

“Kantung hitam di bawah matamu itu sudah cukup sebagai bukti.”

“Cih!” Naruto memandang Sasuke sejenak, lalu membuang mukanya ke arah lain.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Beginikah rasanya punya murid yang begitu peduli satu sama lain? Rasanya begitu nyata, kedekatan titisan Ashura dan Indra itu membuat hatinya begitu hangat. Sasuke yang ia tahu, adalah seorang pemuda dingin yang tidak peduli terhadap orang lain. Tapi tidak untuk sekarang, begitu dekatnya ikatan mereka sekarang sehingga mampu melelehkan hati dingin keturunan Uchiha terakhir itu. Inilah saatnya ia sebagai seorang guru yang sudah menganggap tim 7 seperti keluarganya sendiri membantu mereka.

“Baiklah, mari kita bicarakan rencananya selagi kalian ada disini.” Kakashi menopang dagunya dengan tangan, memandang Naruto dan Sasuke bergantian.

“Sensei, apa yang kau bicarakan? Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian, t-tapi jangan bertindak seenaknya. Ini adalah urusanku. Kalian tidak mengerti sama sekali dengan hal ini.”

“Naruto, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Bahkan aku lebih mengerti perasaanmu dibanding dirimu sendiri.” Kakashi masih tenang.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

Naruto benar-benar tidak tau lagi apa yang harus ia katakan. Di satu sisi, dia sangat senang karena teman-temannya sangat perhatian padanya, tapi disisi lain dia merasa tindakan teman-temannya sangat salah karena urusan yang dihadapinya sekarang bukan urusan sepele, ini adalah masalah negara.

BUK!

Naruto tiba-tiba terhuyung, keseimbangannya hilang begitu saja. Rasanya ia akan jatuh, tapi tangannya refleks menopang tubuh besar itu ke dinding. Pandangannya jadi berkunang-kunang, sesuatu yang sangat kuat sepertinya menghantam pipinya dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Sakura?” Seru kakashi. Dia begitu kagetnya mendapati Sakura sudah hadir di antara mereka, bahkan sampai memukul Naruto dengan keras. Sejak kapan gadis itu berada di sini?

“Shannarooo!” teriak Sakura menakutkan. Ia tampak bersiap lagi memukul putra sang Yondaime Hokage, teriakannya bergema sampai keluar gedung.

Untungnya, Sasuke segera menahan tubuh gadis itu.

“Hentikan, Sakura.” Perintah Sasuke, sambil mencengkram lengan Sakura. Mungkin emosi gadis itu sekarang sedang beda di puncak, wajahnya memerah dan tampak menyeramkan. Persis seperti Kushina yang sedang marah.

“Lepaskan aku, Sasuke-kun! Si bodoh ini harus dipukul dulu agar ia mengerti.” Sakura berusaha melepas cengkraman Sasuke, tapi apa daya Sasuke jauh lebih kuat.

Naruto mengusap bibirnya yang berdarah, lalu perlahan bersandar pada dinding. Ia memandang Sakura dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan.

“Sakura-chan..” gumam Naruto pelan.

“Dengar Naruto!” Nada suara Sakura meninggi, “ Kau sudah dewasa, jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Jangan berpura-pura kuat di depan orang lain. Jika kau membutuhkan bantuan kami, kenapa harus mengatakan hal yang bertentangan? Kau bilang kami punya masalah sendiri? Tentu saja! Aku begitu sibuk di rumah sakit sampai aku tidak punya waktu luang untuk mendengar masalahmu. Kakashi sensei pun sudah tidak punya waktu untuk mendengar ocehan konyolmu itu, mengerti? Tapi satu hal yang harus kau tau, kami akan datang jika kau membutuhkan bantuan!”

Nafas Sakura terengah-engah, teriakan dan kalimat panjang yang ia keluarkan barusan cukup menguras energinya. Ditambah lagi ia sedang melawan cengkraman Sasuke yang begitu erat melawannya.

Naruto terdiam.

“Gara-gara si dobe ini membuat masalah, keberangkatanku mungkin akan sedikit tertunda.” Kali ini Sasuke yang berbicara. Genggamannya pada Sakura melemah, sebelum akhirnya ia melepaskan gadis itu.

“Minna…” gumam Naruto lagi, tapi kali ini lebih pelan.

“Berkas-berkas ini bisa aku selesaikan nanti, bagaimana mungkin aku membiarkan anak bodoh ini menyelesaikan masalahnya sendiri? Konoha bisa berantakan kalau dia bertindak yang aneh-aneh nanti.” Kakashi menggeser tumpukan kertas itu lebih ke tepi, hingga tangannya lebih leluasa digerakkan di atas meja.

Tes.

Tes.

Jatuh juga air bening yang ditahannya dari tadi. Bertubi-tubi masalah yang ia hadapi, dan hari ini adalah puncaknya sehingga ia menyerah untuk membangun pertahanannya lagi. Naruto pun tak mengerti, kenapa ia tiba-tiba menangis.

Beginikah rasanya punya keluarga? Meskipun sibuk dengan urusan masing-masing, mereka tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi masalah sendirian. Kedekatan batin yang amat sangat ini membuat persahabatan menjelma jadi ikatan paling kuat yang membuat kita dekat dan mengerti satu sama lain tanpa harus berkata sepatah kata pun.

Betapapun ia kesepian, tidak punya orang yang mengatakan “selamat datang” ketika ia pulang ke rumah, tapi Naruto merasa persahabatan dengan teman-temannya sudah lebih dari cukup untuk menggantikan itu semua. Ia tidak akan kesepian lagi, karena semua orang akan selalu ada untuknya. Ya, dia salah sangka selama ini. Mereka tidak pernah melupakannya. Mereka-lah keluarganya.

“Arigatou..” isak Naruto, sambil mengusap air matanya dengan lengan baju. Suaranya parau ditambah dengan sesenggukan kecil. Air matanya mengalir deras, kali ini ia tidak mencoba untuk membendungnya. Toh semua yang ada di hadapannya sekarang adalah keluarganya.

.

.

.

To be continued.

The Final Chapter is The First Love (Chapter 2)

Cast : Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, and the others. 

Note : Terinspirasi dari movie Naruto yang The Last, tapi bukan canon ya 😀 Happy reading!

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

.

.

“B-bagaimana k-kau b-bisa tauu?! Teme sialan, kau membuntutiku ya?” Naruto menunjuk-nunjuk pada Sasuke, dia sudah berdiri dari kursinya. Merasa tidak terima dengan segala pengetahuan Sasuke tentang dirinya, Naruto jadi emosi.

.

.

Dibawah batang pohon cemara yang berdiri kokoh, untuk bertahun-tahun lamanya meneduhkan udara di sekitar rumah tradisional itu, duduk seorang perempuan berambut indigo dengan mata amethystnya menerawang ke atas langit biru. Cuaca memang sangat cerah saat itu, sinar matahari membentuk tombak-tombak halus menembus dahan-dahan yang di laluinya. Keringat bercucuran, mengalir deras dari dahi hingga lehernya. Rasa lelah karena berlatih dari subuh sudah terasa sejak beberapa waktu yang lalu, tapi keinginannya untuk menguasai jurus itu jauh lebih kuat. Yang lebih ditakutkannya lagi adalah mempermalukan anggota keluarganya di depan klan otsutsuki. Bebannya terasa lebih berat gara-gara Neji yang sudah meninggalkannya lebih dahulu.

Tamu mereka akan datang beberapa jam lagi, semua anggota baik golongan Souke maupun Bunke, sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut klan otsutsuki. Inilah resiko menjadi klan paling terhormat di Konoha, mereka dibebankan untuk selalu mewakili desa jika ada tamu yang ingin bersilaturahmi. Pengajaran tata krama yang diajarkan oleh tetua klan Hyuuga sudah dikuasainya sejak kecil. Berbagai macam tradisi dan adat di klannya pun sudah disuguhkan sejak ia masih bocah. Bagaimanapun, ia adalah putri dari kepala Klan Hyuuga yang menjunjung tinggi tradisi secara turun menurun. Ia telah mahir dengan itu semua.

Sekarang bagaimana dengan upacara yang biasanya diwakili oleh Neji itu? Neji satu-satunya orang yang mampu menguasai jurus terkuat klan Hyuuga saat umurnya masih muda. Setelah invasi Pain, Neji diangkat oleh Hiashi sebagai perwakilan klan Hyuuga untuk menunjukkan jutsu tertinggi mereka. Lalu setelah Neji pergi, siapa lagi yang akan menggantikannya kalau bukan Hinata? Hanabi belum bisa, karena dia masih terlalu muda. Hinata-lah kandidat yang paling tepat untuk menggantikan Neji. Tapi apa yang harus diperbuat jika waktu yang diberikan tidak cukup untuk menguasai jutsu yang pernah ia pelajari itu? Untuk sekedar menstabilkan chakranya saja, Hinata sudah kewalahan. Ia masih butuh banyak waktu.

“Nee-sama?” seorang gadis tanggung yang memiliki mata mirip dengannya memanggil dari arah belakang, lantas ia menoleh pada gadis itu.

“Ya?” jawab Hinata singkat.

“Tidak perlu dipaksakan, lebih baik sekarang nee-sama bersiap-siap.” Hanabi terlihat sedang membawakan setumpuk kimono dengan segala macam hiasan di tangannya.

Hinata berdiri, lalu mendekat pada adiknya. Ia memperhatikan kimono berwarna lavender itu dengan sesama, kimono kesayangannya.

“Hanabi, apa aku akan memakai kimono ini nanti?” tanyanya heran. Wajahnya berkerut, tanda kebingungan.

Hanabi mengangguk membenarkan.

“T-tapi bukankah aku akan memperlihatkan jurus itu pada klan otsutsuki? Aku rasa kostum ini tidak terlalu pas..”

Hanabi menatap nanar pada kakaknya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya sangat berat untuk sekedar mengeluarkan suara. Semua kata-kata yang hendak ia lontarkan seperti tertahan ditenggorokan.

Hinata tentu saja mengerti, ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya.

“Apakah terjadi sesuatu, Hanabi?” Hinata berusaha membujuk adiknya, ia menepuk bahu Hanabi dengan lembut.

Hanabi masih diam tak berkutik, lidahnya terasa kelu untuk sekedar membalas kata-kata Hinata.

Bukan Hinata namanya jika tidak sabar menunggu, ia tetap menanti kata-kata yang akan keluar selanjutnya dari Hanabi.

“Nee-sama…” akhirnya Hanabi membuka mulut, walaupun suaranya sangat pelan hampir tidak terdengar. Pandangannya pada Hinata berubah total, rasa sedih terpancar jelas dari matanya.

Hinata tersenyum, “Jika ada masalah, ceritakanlah. Jangan dipendam sendiri, Hanabi.”

Lantas Hanabi tiba-tiba memeluk Hinata, begitu eratnya hingga Hinata hampir kehilangan keseimbangannya. Gadis itu agak terkejut gara-gara gerakan Hanabi yang begitu tiba-tiba, tapi ia segera menguasai diri dan membalas pelukan sang adik.

“M-maafkan aku nee-sama. Hiks..” meledaklah tangis Hanabi, ia sudah tidak kuasa mengendalikan emosi yang dari tadi pagi ditahannya. Ia merasa begitu bersalah.

“Hei Hanabi, ada apa Hanabi? Kenapa kau minta maaf?”

Pelukan Hanabi makin erat, ia membenamkan kepalanya di pundak Hinata. Ia tidak mau siapapun yang ada disana melihatnya menangis seperti anak kecil.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, nee-sama. Aku sangat menyesal, hiks..”

“Hanabi, kenapa kau tiba-tiba jadi aneh begini? Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku tidak sengaja mendengarkan percakapan antara ayah dan tetua klan. Tadi pagi mereka didatangi seorang anbu dari Rokudaime Hokage, dia mengantarkan pesan dari klan Otsutsuki. Mereka bilang, untuk mempererat hubungan silaturahmi antara kedua desa, mereka…mereka.. hiks..” Hanabi tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia tersedak karena terlalu keras menahan air mata. Ia terbatuk kecil, lalu sesenggukan lagi.

Hinata yang tidak mengerti apapun, hanya bisa mengusap punggung Hanabi untuk sekedar menyamankannya. Ada firasat aneh yang juga memasuki ruang hatinya saat ini, setelah melihat Hanabi bersikap tidak seperti biasanya. Ia segera memejamkan mata,

“Tenangkan dulu dirimu, Hanabi..”

Hanya itu yang bisa dikatakannya, karena ia sama sekali tidak memiliki satu petunjuk pun terhadap situasi yang membuat adiknya histeris.

“…mereka ingin menikahkan putra pewaris klan otsutsuki dengan putri dari klan hyuuga, Nee-sama..” Hanabi mau tidak mau melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. Apapun itu, Hinata harus mengetahui apa yang terjadi. Ia tidak mau Hinata shock tiba-tiba karena tujuan kedatangan klan otsutsuki sebenarnya adalah untuk melamarnya, bukan sekedar bersilaturahmi.

DEG!

Bagai ada godam super besar yang menghantamnya saat ini, begitu sakitnya sehingga ia tidak dapat bergerak sedikitpun. Berita yang baru saja didengarnya begitu mengejutkan, sampai-sampai gadis itu diam tanpa kata.

Ia terhuyung sedikit ke belakang, keseimbangannya sudah hilang entah kemana, tapi ia ditahan dengan cepat oleh Hanabi yang saat itu masih memeluknya.

“N-nee-sama?” panggil Hanabi panik, diperhatikannya Hinata yang saat itu menunduk membiarkan surai indigonya menutupi sebagian wajah putihnya. Hanabi menggemertakkan gigi, menahan segala rasa emosi yang membuncah dengan deras.

“A-aku baik-baik saja Hanabi..” gumam Hinata pelan, tangannya yang saat itu sedang menggenggam lengan Hanabi terasa gemetaran.

.

.

.

Beberapa anggota Souke yang memiliki jabatan penting di klan Hyuuga sudah berkumpul di ruangan utama, mereka duduk di atas sebuah tatami berwarna hijau dengan sangat rapi. Tradisi dan tata cara yang terhormat dari klan Hyuuga sepertinya sangat kental terasa di ruangan besar itu. Hiashi duduk paling depan, di tengah-tengah dengan tangan diletakkan di atas pahanya. Raut wajahnya sulit diartikan, seperti biasa ia tetap tenang. Ia memandang pada anggota keluarga yang lain, memastikan apakan ada lagi yang akan berbicara setelah perundingan lamaran ini.

Disamping kiri adalah klan Hyuuga, dan disamping kanan diisi oleh klan otsutsuki. Klan otsutsuki diwakili oleh dua orang tetua klan, lima orang jounin, lima orang anbu, dan satu orang perempuan yang diketahui sebagai pelayan sang pewaris klan Otsutsuki. Pemuda itu sendiri duduk paling dekat dengan Hiashi, tepat di samping kanannnya dan berhadap-hadapan dengan Hinata yang duduk di sebelah kini sang ayah. Ia tidak henti-hentinya memandang pada sang gadis, meskipun sulit untuk menerjemahkan apa maksud pandangan itu.

Hinata terdiam menunduk, balutan kimono lavender yang menjadi kesayangannya itu adalah saksi bisu betapa sakitnya hati sang gadis saat ini, karena tangannya mencengkram kimono itu dengan kuat. Hanabi yang duduk di belakang Hinata tak bisa berbuat apa-apa, ingin sekali rasanya ia memeluk Hinata saat itu. Tapi ia masih bisa menahan, dan ia harus!

“Jadi, bagaimana pendapat Hiashi-sama tentang lamaran dari kami?” salah satu tetua klan Otsutsuki yang diketahui bernama Daisuki itu mengusap jenggotnya yang mulai memutih, matanya besar seperti terbelalk tapi terkesan sangat sendu dan ramah.

Hiashi menatap Daisuke lekat-lekat, lalu mengalihkan pandangannya pada pewaris klan Otsutsuki.

Ia menarik nafas panjang, “Toneri-san, apakah kau yakin dengan permintaan ini? Sekali lagi aku ingin memastikannya, supaya tidak ada kesalahpahaman yang terjadi nantinya.”

Nama pemuda tampan berambut putih itu ternyata adalah Toneri. Jika dibandingkan dengan Sasuke, dia jauh lebih manis dan beretika. Mungkin karena dia juga berasal dari klan terhormat di negara seberang. Jika melihat dari wajahnya, susah untuk menebak berapa umurnya yang asli karena dia memiki postur wajah yang awet muda. Andai saja dibagian perkenalan tadi, Daisuke tidak menyebutkan profil lengkap  Toneri, mungkin mereka tidak akan percaya kalau pemuda itu sudah 23 tahun. Empat tahun lebih tua dibanding Hinata.

Toneri yang dari tadi memperhatikan Hinata, tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Hiashi. Alih-alih menghilangkan gugupnya, ia tersenyum membalas pertanyaan ayah Hinata.

“T-tentu saja aku yakin, Hiashi-san. Ini adalah wasiat terakhir dari kakekku untuk mempererat silaturahmi dengan desa Konoha. Memang tidak masuk akal, tapi aku berpikir jika kita menyatukan klan terbesar dari dua negara maka akan mudah untuk mencapai kerjasama. Klan Otsutsuki sangat berpengaruh di desa kami, begitu pula dengan klan Hyuuga..”

Lagi-lagi Hanabi menggemertakkan giginya menahan amarah. Apa-apaan orang ini? Melakukan pernikahan untuk mencapai kerjasama antar dua negara? Tidak punya hati kah? Dia pikir pernikahan itu main-main! Hanabi memandang tajam pada sosok tampan itu, ingin sekali dia memukul pemuda asing yang tiba-tiba ingin melamar kakak tersayangnya.

Sementara itu, Hinata masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Kepalanya tetap menunduk memandangi tangannya, rambu indigo yang disanggul ke atas kepala membuatnya terlihat lebih anggun. Sangat cantik, jika saja ia menambahkan sedikit senyuman.

Hiashi diam sejenak, memikirkan hal ini dalam waktu yang singkat tentu tidak mudah. Sebagai kepala keluarga, ia punya tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini. Ia harus mengambil keputusan yang bisa membuat kedua belah pihak merasa diuntungkan, atau setidaknya tidak ada yang dirugikan. Jika saja ia bukan ayah Hinata, pasti ia akan segera menerima lamaran tersebut. Benar kata Toneri, jika saja pernikahan ini dilaksanakan maka kemungkinan terbentuknya kerjasama baru antara desanya dengan desa anak muda itu akan semakin besar. Ini suatu keuntungan untuk Konoha, karena desa seberang memiliki banyak sumber daya alam yang mereka butuhkan.

Tapi instingnya sebagai seorang ayah tentu saja tidak bisa diabaikan begitu saja. Memang, dulu ia begitu meremehkan gadis yang duduk disampingnya sekarang. Itu tidak lain karena ia merasa sangat bersalah atas kematian adik kembarnya yang mengorbankan diri untuk menggantikannya. Semua kesalahan itu ia lampiaskan pada anaknya, mengingat peristiwa itu terjadi karena ia menyelamatkan Hinata dari penculikan dan tidak sengaja membunuh salah satu anggota merea. Yah, rasa egoisme dan takut dipersalahkan itu telah membuatnya buta, hingga akhirnya ia mengkambinghitamkan Hinata.

Sekarang bagaimana? Meskipun ia tidak berbicara secara terus terang, tapi ia sangat tahu kalau jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat menyayangi Hinata. Warisan sang istri yang paling berharga yang pernah ia miliki. Bahan wajah gadis itu sangat mirip dengan istrinya. Betapa bodohnya ia dulu, sempat membiarkan Hinata bersedih dan menganggapnya sebuah kegagalan. Betapa menyesalnya ia sekarang!

“Maaf, apa aku boleh memberikan pendapat?” Tiba-tiba Hanabi memecah kesunyian yang sempat terjadi di ruangan besar itu. Ia yakin telah melihat suatu kebingungan di wajah Hiashi, wajahnya berkerut lebih banyak daripada sebelumnya.

Semua mata tertuu pada gadis tanggung yang mirip sekali dengan Hiashi itu. Hanabi berdiri agar wajahnya terlihat oleh seluruh penghuni ruangan. Kimono kuning bercorak bunga dahlia merah yang ia kenakan cukup membuatnya sulit untuk berdiri, tapi ia segera berhasil menguasainya.

“ya, silahkan Hanabi-san..” kali ini Toneri sendiri yang berbicara. Biasanya juru bicara yang akan mengendalikan acara sakral, tapi tidak untuk saat ini.

“Pendapatku mungkin belum bisa diperhitungkan di acara keluarga ini, karena aku masih belum cukup umur untuk mengeluarkan pendapat, sementara acara ini adalah acara yang sangat besar dan menyangkut kepentingan desa. Tapi jika saja aku boleh berbicara, aku ingin mengatakan bahwa klan Otsutsuki terlalu tergesa-gesa merencanakan sesuatu, apalagi rencana itu adalah tentang pernikahan. Beberapa hari yang lalu kami baru menerima kabar bahwa kedatangan klan Otsutsuki dipercepat dan hal itu cukup membuat kami kaget, lalu tadi pagi kami menerima informasi lagi bahwa kedatangan kalian bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga ingin melamar putri klan Hyuuga. Jujur saja, Hinata nee-sama baru tau beberapa jam yang lalu tentang lamaran ini..” Hanabi berdiri dengan tegas, sorot matanya menyapu seluruh ruangan dengan sinar mata berapi-api. Suaranya memang terdengar kekanakan, tapi sangat tegas. Ia mungkin bisa menyamai sang ayah jika diberikan tugas berdiplomasi.

Hinata menegakkan kepalanya, menoleh pada sang adik yang berdiri tepat dibelakangnya. Saat itu juga Hanabi menyadari mata sang kakak sudah penuh dengan cairan bening yang tinggal menunggu untuk menetes. Tuhan, ternyata ini yang membuat Hinata menunduk dari tadi.

“Nee-sama..” gumam Hanabi pelan, Hinata membalasnya dengan mengggelengkan kepala, pertanda agar Hanabi jangan mengatakan apa-apa lagi. Bisa gawat kalau kata-kata Hanabi malah menyinggung klan Otsutsuki.

Toneri tersenyum pada gadis tanggung itu, entah apa artinya, yang jelas dia terlihat sangat menyebalkan saat itu, menurut Hanabi.

“Hanabi, duduk.” Sang ayah memberikan perintah dengan nada suara yang agak ditinggikan, ia melotot pada Hanabi. Anak itu pun meminta maaf lalu duduk kembali.

“Tidak apa-apa Hiashi-san. Aku justru senang Hanabi-san bisa mengutarakan pendapatnya dengan sangat diplomatis.” Kata Toneri. “Aku rasa pendapat Hanabi memang benar, kami terlalu tergera-gesa. Sebelumnya aku mewakili klan Otsutsuki meminta maaf atas kejadian ini.” Toneri menunduk dalam, beberapa detik ia melakukannnya, lalu mengangkat kepala lagi.

“Tapi kami melakukan hal ini tentu ada alasannya. Sebenarnya kakekku beberapa hari yang lalu meninggal dunia, dia yang notabenenya adalah ketua klan memberikan wasiat untukku agar meneruskan tanggung jawabnya sebagai pemimpin klan. Seharusnya jabatan ini diturunkan pada ayah, tapi dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Karena itu lah kakek mewariskan semua peninggalannya padaku. Sebelum meninggal, dia mengatakan bahwa aku harus bisa menjalin kerjasama dengan desa Konoha karena desa ini memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Tentu saja kami tidak akan egois untuk mengambil keuntungan saja karena desa kami juga memiliki sumber daya alam yang banyak sehingga bisa dimanfaatkan oleh desa Konoha..” Toneri berhenti sebentar, ia sedang berusaha berbicara terus terang pada semua orang yang ada di ruangan itu. Bukankah kejujuran Toneri saat itu patut dipertimbangkan?

“… lalu salah satu cara untuk membuat kerjasama ini tetap kuat adalah melalui pernikahan antara orang yang berpengaruh dari masing-masing desa..”

“Mungkin pendapatmu memang benar, Toneri-san. Tapi seperti yang kau katakan, pernikahan hanya salah satu caranya bukan? Masih ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk memperkuat kerjasama antar dua negara..”Hiashi menjawab tenang, walaupun terkesan sedikit menuntut.

Sekarang tetua klan otsutsuki yang angkat bicara,

“Hiashi-sama, walaupun ada cara lain tapi tidak akan ada yang seefektif jalinan pernikahan. Apalagi pernikahan yang melibatkan klan terbesar di masing-masing negara. Kakek Toneri-sama sudah berwasiat agar cucunya dinikahkan dengan putri klan Hyuuga segera setelah ia meninggal dunia. Mungkin ini bukan sekedar masalah hubungan diplomatik antar desa, tapi suatu urusan pribadi dari keluarga inti yang menyebabkan ketua terdahulu ingin menjodohkan cucunya dengan putri anda.” Daisuke yang secara gamblang memadang sosok Hiashi, sesekali mengalihkan perhatiannya pada Hinata.

“Urusan pribadi? Maksud Daisuke-san hal ini memang keinginan pribadi dari ketua klan Otsutsuki sendiri?” Hiashi makin bingung mendengar pernyataan Daisuke. Sungguh ia tidak mengerti.

“Sebenarnya kakek sudah mengenal Hinata-san beberapa tahun yang lalu, ketika dia menjalankan misi untuk mengawal para penduduk desa Kumogakure yang terjebak tanah longsor ke daerah yang lebih aman. Disana kakekku ikut membantu karena desa kami sudah bekerja sama dengan Kumogakure sejak lama..” Toneri mengalihkan pandangannya dari Hiashi, pada Hinata yang kini masih menunduk.

“Mungkin Hinata-san masih ingat, seorang lelaki tua yang punya janggut sangat panjang dengan tanda bulan di leher kanannya..”

Hinata berusaha mengendalikan diri, sekuat tenaga ia menenangkan hatinya untuk sekedar mengangkat kepala. Ia sudah tidak menangis lagi, dan memberanikan diri membalas pandangan Toneri. Sejenak kemudian ia mengangguk.

“Hai’..” jawabnya pelan.

Toneri yang akhirnya berhasil melihat wajah Hinata secara keseluruhan, makin tersenyum lebar. ‘kakek memang pintar..’ pikirnya dalam hati.

“Kakek sangat berterima kasih pada Hinata-san karena dia sudah menyelamatkannya waktu longsor yang kedua kalinya terjadi. Saat itu kakek sedang terluka, untungnya ada Hinata-san yang melindunginya.”

Semuanya terdiam sejenak. Jadi itulah penyebab sebenarnya, alasan mengapa kakek Toneri ingin menjodohkan cucunya dengan Hinata. Tapi bukankah itu alasan yang terlalu dangkal? Toneri bisa saja menolak permintaan sang kakek, toh dia sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.

“Maaf sebelumnya, tapi apakah Toneri-san sendiri memang menginginkan pernikahan ini? Seperti yang kita tahu, ini adalah kali pertama Toneri-san bertemu dengan Hinata-sama.” Tetua klan Hyuuga angkat mulut.

Diam lagi, tapi segera dipecahkan oleh jawaban Toneri.

“Tentu saja aku menginginkanya..” jawabnya, lagi-lagi tersenyum.

.

.

.

Masih sangat pagi ketika Naruto terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia duduk sebentar di kasur, menggosok mata yang belum terbuka dengan sempurna. Badannya terasa segar, meskipun hanya tidur beberapa jam. Ia berdiri, lalu masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Oh iya, hari ini ia akan pergi mengunjungi makam ibu Hinata seperti yang sudah dijanjikannya kemarin pada gadis ber-byakugan itu.

Diliriknya jam dinding berbentuk kodok yang terpasang sejajar dengan poster mie ramen bertuliskan “No ramen no life” itu, ternyata masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tidak ada misi di hari-hari sibuk seperti ini memang sangat membosankan. Tidak seperti Kakashi yang tersita waktunya karena urusan negara, Sakura yang sibuk dengan pasien di rumah sakit Konoha, dan Sasuke yang sebentar lagi akan pergi keluar desa. Bahkan Shikamaru dan Kiba sekarang sedang menjalankan misi ke negara Suna bersama Temari. Sudah beberapa hari ini ia tidak mengerjakan apapun, hanya tidur seharian di kamar atau berjalan keliling desa. Pengangkatan hokage kemarin mungkin adalah pertama kalinya ia bertemu dengan teman-temannya dalam dua minggu ini. Setiap orang sudah memiliki kesibukan masing-masing, kecuali dirinya yang sedang fokus meregenerasi tangan kanannya yang sempat putus karena bertarung dengan Sasuke. Tsunade yang bertindak sebagai dokternya, melarang Naruto melakukan misi berat untuk sementara waktu karena regenerasi tangannya masih belum sempurna. Pengobatan tingkat tinggi ini memang agak lama, padahal sudah dua tahun sejak pertempuran terakhirnya dengan Sasuke. Tapi apa daya, Tsunade adalah wanita paling menakutkan yang ada di Konoha. Ia tidak akan bisa melawan kehendak mantan Hokage ke-lima itu.

Setelah bersiap-siap, ia bermaksud pergi ke toko bunga Yamanaka untuk membelikan bunga yang juga sudah ia janjikan pada Hinata. Tidak butuh waktu lama untuk sampai disana, dan seketika ia disambut oleh Ino.

“N-naruto?” seru Ino keheranan. Tentu saja, Naruto bukan orang yang suka pada bunga.

“Yo, Ino!” balas Naruto penuh semangat, seperti biasanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Ino bertanya penuh selidik, masih dengan tanda tanya besar di kepalanya.

Naruto mengernyitkan keningnya, “Tentu saja aku ingin membeli bunga. Aku tidak salah masuk kan?”

Ino menggeleng pelan, “Ya, tapi bukan itu maksudku. Sebelumnya kau tidak pernah datang kemari. Bunga untuk siapa?” Ino langsung mendekati Naruto, ia memberikan pandangan menggoda pada pemuda yang tingginya sekarang jauh melebihi dirinya itu.

Naruto spontan menjauh, didekati sambil digoda seperti itu membuatnya salah tingkah.

“H-hei, ini bukan urusanmu..” jawabnya gugup. Ia membuang muka, berusaha mengalihkan pandangan dari Ino.

“Heee, sejak kapan kau jadi tertutup begini Naruto?” lagi-lagi suara mengejek dari Ino keluar. Matanya makin berbinar, sepertinya menggoda pemuda polos adalah perbuatan yang menyenangkan untuknya.

“Sudahlah, lebih baik kau carikan aku bunga yang sesuai. Aku benar-benar buta soal bunga..” Naruto mengalihkan topik pembicaraan. Jika diperpanjang lagi, Ino akan terus menanyainya.

“Baiklah, tapi katakan dulu untuk siapa.”

“Ino!”

“Mau tidak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, aku tidak akan memilihkan untukmu.”

“Aaarrggghh, baiklah. Aku menyerah..”

“Jadi, untuk siapa?”

“……..”

“Oi, Naruto!”

“….ibu Hinata..” wajah Naruto memerah. Sulit sekali berkata jujur kali ini.

Ino terdiam seketika. Matanya yang tadi berbinar, sekarang meredup.

“Kenapa kau diam saja?” Naruto heran dengan perubahan sikap Ino yang tiba-tiba.

Ino tidak menjawab, ia segera berjalan mendekati rak-rak bunga di sudut ruangan.

“Aku rasa lili putih adalah pilihan yang tepat, Naruto..” nada suara Ino pun berubah menjadi lesu. Ia mengambil bunga lili di rak paling atas sambil berjinjit, tapi tidak mau menoleh pada lawan bicaranya. Apa yang terjadi dengannnya?

Naruto mengangguk saja. Ia akan mengikuti semua kata-kata Ino karena dia memang tidak tau sama sekali tentang bunga. Setelah selesai merangkainya menjadi buket bunga yang bagus, ia menyerahkannya pada Naruto.

“Naruto, apa kau baik-baik saja?”

Ino melontarkan pertanyaan aneh. Tapi tersirat rasa simpati yang dalam di matanya. Ia memandang Naruto penuh arti, tapi tidak akan bisa ditangkap oleh otak bodoh Naruto.

“Heh? Tentu aku baik-baik saja. Apa aku terlihat tidak sehat?”

Benar, kan? Naruto tidak akan mengerti apa-apa jika tidak dijelaskan secara langsung.

Ino menghembuskan nafas berat. Ada hal yang menganggunya saat ini, ingin sekali ia bertanya pada Naruto tapi rasanya belum tepat waktu. Apa dia harus mendiamkannya dulu? Ohh andaikan Sai ada disini, pasti ia bisa menjelaskan tanpa harus memikirkan perasaan Naruto. Orang blak-blakan seperti Sai lah yang dibutuhkannya saat ini.

Mungkin saat ini baru dia dan Sai yang mengetahui tentang kedatangan klan Otsutsuki ke Konoha. Sai yang menjadi kaki tangan Rokudaime Hokage adalah orang pertama yang mengetahui tentang hal itu. Lalu tadi pagi ada seorang klan Hyuuga yang datang ke tokonya, membeli buket bunga yang sangat banyak. Saat ia bertanya bunga itu untuk apa, ketika itulah ia mengetahui tentang perjodohan Hinata dan Toneri.

“Kalau begitu, aku pergi. Terima kasih sudah memilihkan bunga ini untukku, Ino. Jaa..” belum selesai Ino berpikir, Naruto sudah melesat pergi. Ditinggalkannya uang di atas meja dengan sembrono, hingga uang itu berserakan.

“N-Naruto!!” Ino berteriak, tapi tidak diindahkan oleh Naruto. Mungkin Naruto takut ditanyai lagi, karena itu ia pergi tergesa-gesa.

Moou, aku belum selesai bicara bodoh!” umpat Ino dalam hati. Ia membereskan uang itu dengan kesal.

.

.

.

Seakan tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menghindari pertanyaan yang ia rasa terlalu memojokkan dirinya, Naruto berlari sekencang mungkin agar bisa menjauh dari Toko Yamanaka. Menurutnya, Ino kali ini terlalu ingin tau. Bukankah ada hal yang tidak perlu di umbar-umbar ke orang lain? Privasi itu penting! Yah, walaupun sebelum ini dia tidak pernah punya privasi.

Sesekali ia melirik ke belakang, berharap Ino tidak mengikutinya. Kalau orang normal pasti tidak akan membuang-buang tenaga untuk sekedar mengejarnya, tapi tidak untuk wanita dengan rasa ingin tahu tinggi seperti Ino. Dia memang tidak secerdas Shikamaru, tapi nilainya di akademi selalu bagus. Mungkin karena itu pulalah ia punya rasa penasaran yang tinggi. Bahkan terhadap urusan orang lain.

Karena terlalu panik, Naruto kehilangan fokus terhadap jalan di depannya. Ia tidak sadar seseorang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, hingga akhirnya..

BUUUK!!

Jatuhlah buket bunga yang sudah terpasang dengan cantik itu ke atas tanah. Tali pengikatnya memang tidak putus, tapi sebagian bunganya jadi kotor karena terciprat lumpur di sekitarnya. Kebetulan Konoha sedang musim hujan, jadi tanahnya agak becek.

Melihat bunganya jadi kotor, Naruto berteriak sekuat mungkin.

“Aaaaaaa, bunganya!!!” Ia segera mengambil bunga itu, lalu meniupnya agar kotoran itu hilang. Pekerjaan yang sia-sia, ya?

“Naruto?” Seseorang dengan suara familiar, memanggilnya dengan wajah sangar.

“S-sakura-chan?!”

“Apa yang sudah kau lakukan, BAKA? Lihat bajuku jadi kotor begini!” Sakura mengepalkan tinjunya, ia uring-uringan setelah melihat baju putih khas dokter rumah sakit Konoha jadi kotor terciprat lumpur.

“A-aku tidak sengaja, Sakura-chan. Kau lihat bunga ku juga jadi kotor..” Naruto menjawab dengan wajah ketakutan. Sakura yang sedang marah tidak ada bedanya dengan Tsunade. Seram.

“Hah??” raut wajah seperti akuma tadi berubah seketika saat Naruto menunjukkan bunga lili itu padanya. Matanya membesar, tanda keheranan.

Naruto memonyongkan bibirnya, tangannya masih berusaha membersihkan kotoran di bunga itu.

“Kali ini kau mau membawakan bunga untuk ibumu?” ceplos Sakura sok tau. Yah, tentu saja ia berpikiran begitu karena baru kemarin Sasuke mengatakan kalau Naruto sering terlihat menaiki bukit tempat makam orang tuanya berada.

Seakan tertangkap basah, Naruto membelalakkan matanya. Kata ‘kali ini” menyiratkan kalau Sakura tau Naruto sering mengunjungi makam orang tuanya. Bukan itu sebenarnya yang ia takutkan, tapi kenyataan bahwa apa yang dilakukannya di makam Kushina-lah yang dikhawatirkannya diketahui orang lain.

Sakura salah tingkah, ia segera membetulkan kalimatnya. “K-kemarin Sasuke-kun bilang kau sering terlihat naik bukit itu..” Sasuke menunjuk pada bukit di belakang desa Konoha, “..Disana ada makam orang tuamu, bukan? Jadi aku berpikiran kau akan kesana lagi.”

“Sasuke teme sialan!” umpatnya dalam hati. Untuk apa Sasuke repot-repot menceritakan hal itu pada Sakura? Jika Sakura bertanya lebih lanjut, dia harus jawab apa? Masa dia harus mengatakan kalau dia mengunjungi makam sang ibu untuk bercerita tentang privasinya. Kekanakan sekali.

“Bukan. I-Ini untuk..”

“Sakura!”

Kalimat Naruto terhenti oleh panggilan seseorang dari belakang. Spontan mereka berdua menoleh pada pemilik suara.

“Sasuke-kun?” wajah Sakura langsung berbunga, ada angin apa pagi-pagi begini ia didatangi oleh Sasuke.

Naruto menghembuskan nafas lega. Untung rivalnya itu datang tepat waktu, kalau dia terlanjur mengatakan yang sebenarnya, mungkin dia akan dikuliti habis-habisan oleh pertanyaan Sakura. Dalam hal keingintahuan, Sakura tidak ada bedanya dengan Ino.

“Kebetulan kau ada disini juga, Baka Dobe. Kalian berdua ikut aku sekarang..” tanpa basa basi Sasuke berjalan melewati mereka berdua.

Mau tidak mau, Naruto dan Sakura mengikuti pemuda tampan itu dari belakang.

Sampai ditempat tujuan, Sasuke berhenti. Naruto dan Sakura yang dari tadi diam akhirnya mengerti. Ternyata Sasuke mengajak mereka makan di Ichiraku.

Mereka masuk, lalu memesan ramen.

“Kau mau mentraktir kami, Sasuke?” Naruto yang duduk paling ujung tersenyum ceria. Sepertinya bunga yang tadi kotor sudah dilupakannya, ramen cukup untuk mengalihkan pikirannya sementara waktu.

“Hn..” jawab Sasuke singkat. Entah kemana pandangannnya tertuju, tapi dia tidak melihat pada Naruto maupun Sakura.

“Makan ramen pagi-pagi begini? Kau yakin, Sasuke-kun?” Sakura tampak ragu.

“Apa kau tidak punya waktu?” kali ini Sasuke menoleh pada Sakura yang sedang melirik jam tangannya.

“O-oh bukan begitu. Kebetulan hari ini tidak banyak pasien, jadi aku bisa meluangkan waktu sebentar. Hanya saja, aneh sekali kau mengajak kami makan di waktu yang kurang tepat.”

Sasuke diam saja. Dia tidak menanggapi kata-kata Sakura.

Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya bertanya pada Sasuke sekarang, mungkin nanti dia akan bercerita dengan sendirinya. Akhirnya mereka menyantap ramen spesial yang baru disuguhkan.

Setelah menghabiskan isi mangkuk masing-masing, Sasuke memulai pembicaraan.

“Naruto, ada sesuatu yang menganggu pikiranku.” Katanya. Serius.

Naruto menoleh, tapi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alis, tanda kalau ia sedang bertanya ‘apa?’

“Apa yang kau lakukan di makam ibumu?”

JLEB!

Bagai keluar dari kandang singa, dan masuk ke lubang buaya. Itulah istilah yang paling tepat untuk Naruto saat ini. Tiga kali, totalnya. Sudah tiga orang yang bertanya tentang privasinya pagi ini. Oh Tuhan, kenapa orang-orang di dunia ini selalu ingin ikut campur? Dia sudah berusaha menutup-nutupinya, sudah bersusah payah bersembunyi tiap kali datang ke makam ibunya, tapi kenapa masih saja ada yang bisa mengetahui gelagatnya. Ia tidak mengerti apakah Sasuke ini manusia atau makhluk jadi-jadian yang tau apa saja tentangnya. Semua gerak geriknya selalu diketahui oleh pemuda itu.

“Aku hanya ingin berkunjung. Itu saja.” Jawabnya membuang muka. Ia tidak mau memandang Sasuke, takut kebohongannya terbaca oleh otak jenius sang Uchiha terakhir.

“Mungkin pertanyaanku kurang tepat. Bagaimana kalau aku bertanya, apa yang kau lakukan dengan Hinata kemarin?”

“HEEEEEEEEEEEEH!” Naruto berteriak sejadi-jadinya. Bukan, Sasuke bukan makhluk jadi-jadian. Dia adalah Raja Setan!

“Naruto, berisik!” Sakura menutup telinganya, suara keras dari Naruto membuat gendang telinganya berguncang.

“B-bagaimana k-kau b-bisa tauu?! Teme sialan, kau membuntutiku ya?” Naruto menunjuk-nunjuk pada Sasuke, dia sudah berdiri dari kursinya. Merasa tidak terima dengan segala pengetahuan Sasuke tentang dirinya, Naruto jadi emosi.

“Huh, apa manfaatnya aku membuntutimu? Apa kau lupa, semalam kau lewat di depan rumahku?”

Naruto menarik nafas panjang. Sudahlah, mungkin ia harus mengaku. Ia kembali duduk di kursinya.

“Oke, aku akui aku memang bertemu dengan Hinata kemarin. Tapi apa hubungannya dengan pikiranmu yang terganggu?”

“Aduhh.. jadi itulah alasanmu membeli bunga ini? Untuk Hinata?” Sakura ikut menimpali.

Lagi-lagi, hampir tepat sasaran.

Sasuke sepertinya tidak sadar dengan bunga yang dibawa Naruto. Ia melirik ke samping, dan matanya bertemu dengan sebuah buket bunga lili yang kotor tergelak di atas meja.

“Hmm, begitu..” gumam Sasuke perlahan. Tapi masih terdengar oleh Sakura yang duduk disampingnya.

“Naruto, aku rasa apa yang aku dan Sasuke-kun pikirkan sama. Mungkin yang membuatnya terganggu adalah sikapmu yang terlalu menutup-nutupi sesuatu dari kami. Kau jadi aneh, tidak seperti biasanya.”

Hening sejenak. Naruto berpikir sebentar, lalu berkata,

“Aku tidak menutupi apapun dari kalian, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana cara menjelaskannya. Aku sendiri masih bingung..” suara Naruto merendah.

“Pasti tentang gadis Hyuuga itu.”

Ceplosan Sasuke selalu tepat, ya?

Naruto mendelik, ia melemparkan pandangan kesal pada Sasuke.

“Apa Hinata sudah mengetahuinya, Naruto?” Sakura bertanya.

“T-tau apa Sakura-chan?”

Sakura memijit keningnya, bahkan disaat seperti ini pun Naruto masih tetap menyebalkan.

“Tentu saja tentang perasaanmu padanya..”

“P-perasaan apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti..” gagap Naruto muncul lagi.

“Oh ayolah Naruto. Tidak ada gunanya menutup-nutupi hal yang sebenarnya. Lebih baik kau jujur, kau menyukai Hinata kan?”

Pemuda berambut kuning yang persis seperti ayahnya itu tidak segera menjawab. Ia memandang Sakura sejenak, lalu berpindah pada Sasuke. Seakan ia bisa menemukan jawaban yang kedua sahabatnya itu mau darinya jika memandang mereka dengan seksama.

Naruto menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan.

“Bagaimana kau bisa menyimpullkan seperti itu Sakura-chan?” Naruto malah balik bertanya.

Sakura tersenyum bangga, “Insting wanita..” jawabnya, “..Apa lagi yang bisa disimpulkan dari seorang pemuda yang selalu menghindar dari seorang gadis, tapi pandangannya tidak pernah lepas dari gadis itu?”

Naruto dan Sasuke saling bertatapan mendengar pernyataan Sakura.

“Benarkan, Naruto?” Sakura mengulangi pertanyaannya, karena Naruto tak kunjung menjawab.

“A-aku tidak tau ini apa, tapi setiap kali bertemu dengan Hinata, dadaku terasa sesak. Karena itu aku menghindarinya…”

Sakura tersenyum, lalu memandang pada Sasuke.

Sasuke tidak memberikan ekspresi apa-apa, tapi sesaat kemudian dia mengangguk.

.

.

.