The Final Chapter is The First Love (Chapter 3)

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

Cast : Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, etc.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

 .

.

.

Naruto tetap menunggu Hinata di kaki bukit yang biasa mereka lewati jika ingin ke makam para penduduk Konoha. Sudah satu jam lebih dia berdiri di sana, sambil membawa buket bunga tulip putih yang ia janjikan untuk diberikan pada ibu Hinata. Diliriknya jalan setapak yang menghubungkan desa dengan bukit itu, entah sudah keberapa kalinya, tapi belum ada jejak-jejak sang gadis akan datang. Matahari sudah mulai turun ke ufuk barat, warna orange-nya persis seperti perpaduan antara ibu dan ayahnya. Dia tersenyum tipis.

“Kalian selalu menemaniku, ya?” gumamnya pelan, pada diri sendiri.

Sesekali dia menendang tanah tempat ia berpijak, berharap kebosanan hilang dari perasaannya. Berbagai macam pikiran timbul di kepalanya, tapi belum ada firasat apapun yang ia rasakan, sampai akhirnya Shikamaru datang bersama Kiba yang bertengger di atas Akamaru. Wajah mereka menyiratkan kegundahan, bahkan Shikamaru yang cuek pun terlihat terganggu.

“Oi Naruto..” panggil Kiba, ia mendekati Naruto, diiringi oleh Shikamaru.

“Kiba? Shikamaru? Kalian sudah pulang dari misi, hah?” Naruto tersenyum seperti biasa, cerahnya mengalahkan sinar mentari yang mulai gelap.

(Seperti cerita sebelumnya, Kiba dan Shikamaru tidak bisa hadir pada acara pengangkatan Hokage kemarin karena mereka sedang melaksanakan misi di luar desa)

Kiba mengangguk. “Tadi pagi kami sampai di desa. Misi yang sulit, tapi cukup membuatku puas. Jurus Gatsuuga terbaru yang aku kembangkan mulai menampakkan hasilnya.” Ia membalas senyuman Naruto, tapi sungguh pun Naruto adalah orang yang bodoh, ia bisa melihat keterpaksaan dari senyuman itu.

“Baguslah.” Jawabnya. “ Lalu mau apa kalian kemari?” tanya Naruto frontal tanpa basa-basi lagi. Tentu saja hal ini sangat aneh, karena Shikamaru dan Kiba jarang sekali datang ke kaki bukit ini.  Makam siapa yang akan mereka kunjungi?

“Kau sendiri, sedang apa? Bunga apa itu? ” Shikamaru sekarang yang bertanya.

Naruto salah tingkah, ia bingung harus menjawab apa. Haruskah ia jujur kalau ia sedang menunggu Hinata? Ah sudahlah, dia tidak bisa berbohong.

“A-aku sedang menunggu Hinata..” jawabnya, masih gagap.

Shikamaru dan Kiba saling berpandangan. Seakan ada telepati yang menghubungkan pikiran mereka, Shikamaru mengangguk pada Kiba. Raut wajah Kiba berubah, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin ia ingin menyusun dulu kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Naruto.

“Kakashi-sensei belum mengatakan apapun padamu?” Kiba bertanya menyelidik.

“Hari ini aku belum bertemu dengan Kakashi-sensei..” Jawabnya santai, tanpa rasa curiga sedikitpun.

“Ck! Merepotkan sekali. Menjelaskan hal ini padamu pasti butuh waktu yang banyak. Tapi kau harus tau Naruto..” Shikamaru berdecak kesal, tangannya segera dimasukkan ke dalam saku celananya.

Naruto mengernyitkan dahi, memandang Shikamaru dan Kiba secara bergantian.

“Baiklah, langsung pada intinya saja. Klan Otsutsuki, klan terhormat dari negeri seberang hari ini datang membawa rombongan mereka berkunjung ke kediaman Hyuuga. Aku rasa Hinata tidak akan bisa datang menemuimu hari ini..” Shikamaru menjelaskan.

Naruto terdiam sejenak, lalu menjawab.

“Ahhhh, pantas saja dia tidak muncul. Hahaha, aku sudah berpikiran yang aneh-aneh tentangnya. Baiklah, aku mengerti..” Dia tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lagi-lagi Shikamaru saling berpandangan dengan Kiba. Oh sungguh sulit mengatakan ini pada Naruto.

Shikamaru berkata lagi, “Naruto, kau harus dengar baik-baik. Apapun yang aku katakan, mungkin akan sulit untuk diterima. Tapi aku yakin kau akan mengerti keadaannya.” Wajahnya mulai terlihat serius, matanya memandang tajam pada Naruto.

“K-kenapa jadi serius begitu? Apakah terjadi sesuatu?” Naruto menghentikan tawa garingnya, membalas tatapan Shikamaru dengan heran.

Shikamaru mengangguk. “Ya, ada sesuatu tentang Hinata.” Shikamaru menarik napas dalam-dalam,

“Dia dilamar oleh Toneri, pewaris klan Otsutsuki…”

“Heh?” seakan kata-kata Shikamaru barusan lewat begitu saja ke telinganya, sampai-sampai ia tidak bisa mencerna apapun tentang penyataan sahabatnya itu. Ia tiba-tiba kehilangan fokus. Bola mata pemuda keturunan Hokage ke empat itu bergerak liar kesana-kemari.

Shikamaru kembali menarik nafas panjang, “Benarkan, pasti akan butuh waktu banyak untuk menjelaskannya pada orang bodoh sepertimu. Dengar, Naruto. Aku tidak tau apa yang terjadi antara kau dan Hinata, tapi yang jelas masalah pernikahan ini tidak hanya menyangkut Hinata, tapi lebih besar lagi. Ini adalah masalah kerjasama antara Konoha dengan negeri seberang. Jadi, aku berharap kau bisa membaca situasi, setidaknya kau mengerti apa yang harusnya kau ‘hindari’…” Penjelasan Shikamaru memang singkat, tapi sangat jelas. Terang saja, pemuda ber-IQ 200 itu dengan mudah menjelaskan sesuatu pada orang lain karena kecerdasannya yang melebihi orang normal.

Naruto memandang nanar pada Shikamaru, tak berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri.

Perasaan apa ini?

Rasanya begitu sakit.

Bahkan ulu hatinya terasa nyeri.

Tenaganya hilang begitu saja.

.

.

.

Kantung matanya sudah menghitam akibat kurang tidur semalam. Setiap kali memejamkan mata, hatinya menolak untuk terlelap. Semua hal yang didengarnya dari Shikamaru dan Kiba kemarin sangat mengejutkan. Pikirannya melayang, tanpa tujuan yang jelas. Hatinya pun masih luka, bahkan sampai sekarang.

Dipandangnya foto dirinya bersama dengan Kakashi, Sasuke, dan Sakura saat tim 7 baru terbentuk. Foto itu terpanjang dengan rapi hingga sekarang, terpasang awet sejak pertama kali dicetak. Disana ia dan Sasuke terlihat saling bermusuhan, sementara Sakura tersenyum dengan manis. Kakashi menggengam kepalanya bersama dengan Sasuke sambil tersenyum pada kamera. Matanya tak henti menatap pada foto itu, hingga akhirnya senyum tipis terpancar dari bibirnya.

“Aku tidak tahu bagaimana hidupku sekarang jika tidak ada kalian..” gumamnya pelan. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, sesak di dadanya lagi-lagi terasa menyakitkan. Ia segera menghempaskan tubuhnya yang besar itu ke atas kasur dengan keras. Naruto menggunakan tangan kanannya untuk menutup mata, lalu beranjak memijat kepalanya yang berdenyut.

Kata-kata Shikamaru kemarin kembali terngiang di telinganya, bagaikan kaset rusak yang terus mengulang bunyi yang sama. Oh Tuhan, andai saja ia bisa tidur saat itu agar bisa melupakan semuanya barang sejenak saja.

“Aku tidak menyangka akan sesakit ini rasanya..” lagi-lagi ia berbicara sendiri.

Karmakah yang terjadi padanya saat ini? Mungkin. Dari dulu ia tidak pernah menyadari perasaan sang gadis Hyuuga itu padanya. Tidak pernah? Salah. Justru ia sudah tau, tiga tahun yang lalu ketika Hinata datang membantunya melawan Pain. Ketika itu Hinata terang-terangan mengatakan perasaannya pada Naruto. Setelah itu? Ia bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Ia mengacuhkan pernyataan  Hinata, karena ia terlalu fokus pada Sasuke. Ia sadar akan hal itu. Tapi entah kenapa, ia selalu berusaha melupakan pernyataan Hinata.  Sekarang, saat Hinata sudah berhasil masuk ke dalam ruang hatinya, gadis itu malah direbut paksa darinya oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Hei, apakah masih pantas Naruto menyebut dirinya sebagai seseorang yang dicintai oleh Hinata?  Lupakan saja. Hinata sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.

‘Tok Tok’

Pintu apartemennya diketuk dari luar. Padahal masih pagi, siapa yang terlalu rajin mengunjunginya saat ini? Ia begitu malas beranjak dari tempat tidur. Ia masih ingin merebahkan diri di kasur berukuran sedang itu.

“Oi Dobe, bangun!” Suara orang yang sangat ia kenal berteriak dari luar.

“Ck!” umpat Naruto kesal, ia berjalan ke arah pintu dan menarik ganggangnya.

Sasuke sudah berdiri di depan pintu dengan gayanya yang biasa, berdiri tegak sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.

“Mau apa kau teme?” Naruto memiringkan bibirnya, berbicara tanpa gairah sedikitpun. Sasuke masuk begitu saja, melewati Naruto yang berdiri di samping pintu. Matanya mengikuti Sasuke yang langsung berselonjor di atas kasurnya yang berantakan.

Naruto benar-benar kehilangan tenaga untuk bertanya lebih lanjut, ia duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur. Sasuke memejamkan matanya, tidak berbicara apa-apa. Beberapa saat mereka terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya.

“Jadi, kapan kau akan ke kediaman Hyuuga?” suara berat dari Sasuke memecah keheningan yang ada diantara mereka.

Oh, ternyata informasi tentang lamaran klan Otsutsuki terhadap Hinata sudah menyebar dengan cepat. Padahal baru kemarin klan itu datang, tapi informasinya bahkan sampai ke telinga pemuda paling cuek se-Konoha itu. Mungkin jika gadis itu bukan gadis yang disukai oleh sahabatnya sendiri, Sasuke tidak akan mengacuhkannya sama sekali. Masalahnya, baru kemarin Naruto berkata jujur padanya dan Sakura tentang perasaannya pada Hinata. Tiba-tiba gadis itu dilamar oleh orang asing yang tidak mereka kenal. Ini terlalu cepat! Terlalu sulit diterima, bahkan oleh Sasuke sendiri. Sedikit banyak, ia bisa merasakan kesedihan yang dihadapi oleh Naruto yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri.

Pertanyaan Sasuke yang syarat akan makna itu mungkin tidak bisa dicerna dengan baik oleh Naruto, entah karena Naruto memang bodoh atau karena saat ini ia memang sedang tidak berminat untuk berpikir.

“Untuk apa?” ia balik bertanya. Membicarakan segala hal yang berhubungan dengan Hyuuga saat ini adalah hal yang paling ingin dihindarinya.

“Ck!” sekarang gantian Sasuke yang berdecak kesal. “Untuk menemui ayah gadis itu, bodoh!”

Naruto memandang tajam pada Sasuke.

“Ayah Hinata?” katanya dingin. “Maksudmu untuk meminta dia menghentikan perjodohan Hinata dengan pemuda Otsutsuki itu?”

“Hn,” jawab Sasuke, singkat.

“Jangan bodoh, Sasuke. Ayah Hinata tidak mungkin mau mendengarkanku, memangnya aku siapa?”

Sasuke menghembuskan nafasnya dengan berat. Menjejalkan sesuatu ke dalam otak pemuda dihadapannya dengan cara yang implisit memang tidak pernah mempan.

“Karena itulah, kau harus menjadi ‘seseorang’ di keluarga itu.”

Menjadi seseorang di keluarga itu? Lagi-lagi Sasuke mengatakan sesuatu yang sulit untuk dimengerti. Harusnya Sasuke to the point, tidak perlu jadi orang pintar untuk mengerti watak Naruto yang polos.

“M-menjadi seseorang? Aku tidak mengerti maksudmu..”

Sasuke masih bertahan dengan sikapnya yang tenang, walaupun rasa kesal sudah melandanya dari tadi.

“Mudah saja.,” katanya, sambil menatap mata Naruto yang sudah bengkak karena kurang tidur, “..kau tinggal melamar Hinata..”

Hening.

Hening lagi.

Mereka saling bertatapan. Mereka berusaha menyelami pikiran masing-masing, berusaha mencari apa yang ada di dalam sana. Mereka akrab seperti saudara, mereka bisa menebak apa yang ada dipikiran masing-masing, biasanya begitu. Tapi tidak untuk kali ini, Naruto dibuat histeris oleh ide Sasuke.

“EEEHHH!!!” teriaknya, tidak sadar ia sudah berdiri dari kursinya dengan kasar, membuat kursi itu terdorong ke belakang.

“Bodoh, kau berisik sekali dobe!” Sasuke sudah tidak bisa setenang tadi.

“J-jangan bilang i-itu ide darimu, Sasuke-Teme!” Naruto berkata terbata-bata, ia menunjuk-nunjuk Sasuke dengan lincah, sebagai suatu reaksi spontan saat ia terkejut.

“Ada yang salah dengan ideku?” jawab Sasuke innocent. Wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Bukankah itu cara terbaik untuk menghentikan pernikahan Hinata?”

“T-tapi tidak semudah itu, teme idiot! Kau pikir seperti apa klan Hyuuga itu? Mereka disiplin, keluarga terhormat yang terlalu terikat dengan tradisi. Bahkan Neji pun sempat menyerah karenanya—“ Sejak kapan Naruto jadi pintar seperti ini? Kalau saja Naruto kembali pada kepribadian aslinya, pasti dia akan mengikuti saja saran dari Sasuke. Tapi tidak untuk hal yang satu ini, karena ini masalah perasaan.

Sasuke membenarkan cara duduknya. Ia duduk diatas kasur Naruto sambil melipat tangan di dada.

“Siapa bilang hal ini akan mudah? Tentu saja aku sudah memikirkan aspek lainnya.” Sasuke menjadi lebih serius. “Kita punya beberapa kemungkinan jika kau melamar Hinata. Dengar baik-baik! Kemungkinan pertama, kau ditolak mentah-mentah oleh ayah Hinata. Seperti yang sudah kau katakan tadi, ayah Hinata adalah orang yang kolot. Dia pasti lebih memikirkan tentang tradisi dan kepentingan desa dibandingkan memilih orang bodoh sepertimu jadi menantunya…”

Naruto langsung menghentakkan kakinya ke lantai sambil memukul meja,

“Teme, siap-siap bertemu Sakura-chan di rumah sakit setelah ini karena sebentar lagi tulangmu akan aku remas sampai tak berbentuk!” Nada kesal dari suaranya meluncur lancar dari mulut sang pemuda berkulit tan. Raut wajahnya penuh dengan rasa jengkel terhadap Sasuke yang bahkan tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap ancamannya.

“..dan yang kedua adalah Hinata sendiri yang akan menolakmu.”

Lanjutan kalimat Sasuke bagai jarum-jarum kecil yang berhasil menembus rongga dadanya, hingga menusuk tepat di jantung. Lagi-lagi perasaan sakit ini yang terjadi. Naruto terdiam seketika, setelah memandang Sasuke sejenak dan menundukkan kepala setelahnya.

Sasuke memandang Naruto dengan tajam. Raut wajah frustasi dan putus asa dari sahabatnya itu terlihat sangat jelas. Tidak perlu otak pintar untuk membaca ekspresi itu.

“Jika kondisinya seperti sekarang, gadis manapun pasti akan berpikir seribu kali untuk menolak lamaran Toneri. Kau tau, dia adalah pewaris klan Otsutsuki. Salah satu klan terkuat yang pernah ada di dunia shinobi. Sekali saja membuat masalah dengan mereka, aku yakin satu negara bisa porak poranda dibuatnya. Meskipun ayahnya menerimamu, tapi akan lebih sulit meyakinkan Hinata untuk menolak lamaran Toneri.  Ayahnya mungkin saja lebih mementingkan kebahagiaan putrinya, tapi Hinata tidak mungkin semudah itu membiarkan klan dan negaranya dikorbankan. Kau paham maksudku, bukan?”

Sasuke berceramah, untuk pertama kalinya. Kalimat panjang yang ia lontarkan terus saja menusuk jantungnya tanpa ampun. Sungguh, ia ingin pergi barang sejenak saja untuk menghindari semua kenyataan yang diperjelas oleh Sasuke. Ia tau, bahkan sangat mengerti bagaimana situasi yang ia hadapi sekarang ini. Tapi entah kenapa, ia tidak ingin menerimanya. Terlalu berat. Sungguh.

“Aku tidak tahu kau ini ingin membantu atau justru membuatku makin frustasi, Sasuke..”

“Kau pikir untuk apa aku ceramah panjang lebar seperti tadi? Aku ingin menjejalkan kenyataan yang sebenarnya pada otakmu itu, agar nanti apapun langkah yang kau ambil bukan hanya berdasarkan perasaan, tapi juga logika..”

Naruto memandang sekilas pada Sasuke, lalu menunduk lagi. Saat ini, perasaan maupun logikanya sedang tidak berfungsi dengan baik. Kosong sekali rasanya. Entah apa sekarang yang ada dipikirannya.

Tidak tahan dengan sikap Naruto itu, akhirnya Sasuke berdiri dan menarik lengan Naruto dengan kasar.

“Apa-apaan kau ini, teme?!” Naruto terkejut karena ditarik  tiba-tiba begitu.

“Sekarang kita ke kantor Hokage.”

Naruto masih tetap melawan, tapi tenaganya saat itu sama sekali tidak bisa melawan kuatnya cengkraman Sasuke.

“Untuk apa? SASUKE!” teriakan Naruto bergema lagi, membuat para tetangga merasa terganggu.

“Kakashi sensei sudah bersedia menjadi pendampingmu saat melamar Hinata nanti, sekarang kita rundingkan waktunya.”

Naruto terdiam.

.

.

.

“SENSEI!” teriakan Naruto bergema di seluruh ruangan Hokage, membuat para pekerja yang ada di sana menoleh padanya. Ah, mereka sudah biasa dengan sikap Naruto yang seperti tidak tahu tata krama, karena beberapa detik kemudian mereka kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Naruto berlari dengan cepat, rasanya jarak antara koridor dengan pintu ruangan Hokage terasa jauh jika sedang dalam keadaan terdesak begini. Sasuke yang sudah berjalan di belakangnya tetap berjalan dengan santai.

BUK!

Pintu ruangan Hokage dibanting dengan kasar, tanpa basa-basi lagi Naruto melesat masuk, mendapati Kakashi sedang sibuk dengan tumpukan kertas di atas mejanya.

“Naruto?!” seru Kakashi agak kaget, ia memandang Naruto heran. Setelahnya, Sasuke muncul di belakangnya.

“Katakan sensei! Apakah benar kau menuruti kata-kata Sasuke-teme?” Naruto tampak tidak sabar, matanya melotot pada orang dihadapannya sekarang.

Kakashi berhenti memeriksa berkas yang ada ditangannya, pandangannya tetap tidak berubah. Ia masih tenang, dan kemudian mengangguk membenarkan.

“Aku sudah merundingkan ini dengan Iruka, dia juga menyetujuinya.”

Naruto membelalakkan matanya sekali lagi.

“Sensei, apa kau sadar dengan apa yang akan kau lakukan? Kenapa kalian semua jadi tidak masuk akal begini? Ya ampun..” Naruto mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi.

Kakashi melirik Sasuke, sejenak mereka saling berpandangan.

“Sasuke, harusnya kau jangan mengatakan secepat ini padanya. Lihat sendiri, kan? Dia pasti shock.”

Sasuke tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. “Kalau aku tidak segera mengatakannya, mungkin dia sudah mati karena depresi terlalu lama.”

“Teme sialan! Siapa yang kau bilang depresi, hah?” Naruto makin kesal dengan kelakuan teman-temannya. Ia memukul bahu Sasuke, membuat pemuda itu berdecak kesal.

“Kantung hitam di bawah matamu itu sudah cukup sebagai bukti.”

“Cih!” Naruto memandang Sasuke sejenak, lalu membuang mukanya ke arah lain.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Beginikah rasanya punya murid yang begitu peduli satu sama lain? Rasanya begitu nyata, kedekatan titisan Ashura dan Indra itu membuat hatinya begitu hangat. Sasuke yang ia tahu, adalah seorang pemuda dingin yang tidak peduli terhadap orang lain. Tapi tidak untuk sekarang, begitu dekatnya ikatan mereka sekarang sehingga mampu melelehkan hati dingin keturunan Uchiha terakhir itu. Inilah saatnya ia sebagai seorang guru yang sudah menganggap tim 7 seperti keluarganya sendiri membantu mereka.

“Baiklah, mari kita bicarakan rencananya selagi kalian ada disini.” Kakashi menopang dagunya dengan tangan, memandang Naruto dan Sasuke bergantian.

“Sensei, apa yang kau bicarakan? Aku tidak tau apa yang terjadi dengan kalian, t-tapi jangan bertindak seenaknya. Ini adalah urusanku. Kalian tidak mengerti sama sekali dengan hal ini.”

“Naruto, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Bahkan aku lebih mengerti perasaanmu dibanding dirimu sendiri.” Kakashi masih tenang.

“Apa yang kalian tau? Kalian sekarang sibuk dengan urusan masing-masing bukan?” Naruto mulai meninggikan suaranya lagi. Pandangannya beralih pada Sasuke, “..dan Sasuke! Bukankah kau akan pergi dari desa ini? Kenapa kau jadi begitu peduli dengan urusanku? Kalian semua sudah punya masalah sendiri, jadi tidak usah ikut campur!”

Naruto benar-benar tidak tau lagi apa yang harus ia katakan. Di satu sisi, dia sangat senang karena teman-temannya sangat perhatian padanya, tapi disisi lain dia merasa tindakan teman-temannya sangat salah karena urusan yang dihadapinya sekarang bukan urusan sepele, ini adalah masalah negara.

BUK!

Naruto tiba-tiba terhuyung, keseimbangannya hilang begitu saja. Rasanya ia akan jatuh, tapi tangannya refleks menopang tubuh besar itu ke dinding. Pandangannya jadi berkunang-kunang, sesuatu yang sangat kuat sepertinya menghantam pipinya dengan keras. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Sakura?” Seru kakashi. Dia begitu kagetnya mendapati Sakura sudah hadir di antara mereka, bahkan sampai memukul Naruto dengan keras. Sejak kapan gadis itu berada di sini?

“Shannarooo!” teriak Sakura menakutkan. Ia tampak bersiap lagi memukul putra sang Yondaime Hokage, teriakannya bergema sampai keluar gedung.

Untungnya, Sasuke segera menahan tubuh gadis itu.

“Hentikan, Sakura.” Perintah Sasuke, sambil mencengkram lengan Sakura. Mungkin emosi gadis itu sekarang sedang beda di puncak, wajahnya memerah dan tampak menyeramkan. Persis seperti Kushina yang sedang marah.

“Lepaskan aku, Sasuke-kun! Si bodoh ini harus dipukul dulu agar ia mengerti.” Sakura berusaha melepas cengkraman Sasuke, tapi apa daya Sasuke jauh lebih kuat.

Naruto mengusap bibirnya yang berdarah, lalu perlahan bersandar pada dinding. Ia memandang Sakura dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan.

“Sakura-chan..” gumam Naruto pelan.

“Dengar Naruto!” Nada suara Sakura meninggi, “ Kau sudah dewasa, jangan bersikap seperti anak kecil lagi. Jangan berpura-pura kuat di depan orang lain. Jika kau membutuhkan bantuan kami, kenapa harus mengatakan hal yang bertentangan? Kau bilang kami punya masalah sendiri? Tentu saja! Aku begitu sibuk di rumah sakit sampai aku tidak punya waktu luang untuk mendengar masalahmu. Kakashi sensei pun sudah tidak punya waktu untuk mendengar ocehan konyolmu itu, mengerti? Tapi satu hal yang harus kau tau, kami akan datang jika kau membutuhkan bantuan!”

Nafas Sakura terengah-engah, teriakan dan kalimat panjang yang ia keluarkan barusan cukup menguras energinya. Ditambah lagi ia sedang melawan cengkraman Sasuke yang begitu erat melawannya.

Naruto terdiam.

“Gara-gara si dobe ini membuat masalah, keberangkatanku mungkin akan sedikit tertunda.” Kali ini Sasuke yang berbicara. Genggamannya pada Sakura melemah, sebelum akhirnya ia melepaskan gadis itu.

“Minna…” gumam Naruto lagi, tapi kali ini lebih pelan.

“Berkas-berkas ini bisa aku selesaikan nanti, bagaimana mungkin aku membiarkan anak bodoh ini menyelesaikan masalahnya sendiri? Konoha bisa berantakan kalau dia bertindak yang aneh-aneh nanti.” Kakashi menggeser tumpukan kertas itu lebih ke tepi, hingga tangannya lebih leluasa digerakkan di atas meja.

Tes.

Tes.

Jatuh juga air bening yang ditahannya dari tadi. Bertubi-tubi masalah yang ia hadapi, dan hari ini adalah puncaknya sehingga ia menyerah untuk membangun pertahanannya lagi. Naruto pun tak mengerti, kenapa ia tiba-tiba menangis.

Beginikah rasanya punya keluarga? Meskipun sibuk dengan urusan masing-masing, mereka tidak akan pernah membiarkanmu menghadapi masalah sendirian. Kedekatan batin yang amat sangat ini membuat persahabatan menjelma jadi ikatan paling kuat yang membuat kita dekat dan mengerti satu sama lain tanpa harus berkata sepatah kata pun.

Betapapun ia kesepian, tidak punya orang yang mengatakan “selamat datang” ketika ia pulang ke rumah, tapi Naruto merasa persahabatan dengan teman-temannya sudah lebih dari cukup untuk menggantikan itu semua. Ia tidak akan kesepian lagi, karena semua orang akan selalu ada untuknya. Ya, dia salah sangka selama ini. Mereka tidak pernah melupakannya. Mereka-lah keluarganya.

“Arigatou..” isak Naruto, sambil mengusap air matanya dengan lengan baju. Suaranya parau ditambah dengan sesenggukan kecil. Air matanya mengalir deras, kali ini ia tidak mencoba untuk membendungnya. Toh semua yang ada di hadapannya sekarang adalah keluarganya.

.

.

.

To be continued.

Iklan

When Music is The Reason We’re United (Chapter 4)

musicnotes

Note : Setelah beberapa lama ga update fic yang ini, saya rasa meng-updatenya dengan dua chapter sekaligus mungkin bisa membayarnya. Hoho. Happy reading ^^

Cast : BTS and EXO member

Minggu, jam 9.00

“Yeollie, cepat habiskan makananmu. Ckck, anak ini..” seorang perempuan yang tengah sibuk membersihkan peralatan makan di dapur menggerutu, sesekali menoleh pada meja makan, tempat anaknya sedang sibuk bermain handphone.

Chanyeol tidak menjawab, ia terlalu fokus terhadap benda kecil yang ada ditangannya saat itu. Sang ibu mendekatinya, lalu mengambil benda itu dengan paksa dari genggaman anaknya.

“Kau mau ibu membuang benda ini?” wajah galak sang ibu sudah tertera dengan jelas di hadapan Chanyeol, membuatnya bergidik ngeri.

“I-Iya bu. Aku akan makan, tapi kembalikan handphone-ku..” rengeknya, seperti anak kecil. Wajahnya memelas, minta dikasihani. Oh, manja sekali anak ini.

“Tidak, sebelum kau menghabiskan makananmu. Cepat.” Perintah ibunya dengan tegas. Sepertinya jurus andalan Chanyeol tidak berhasil kali ini, ibunya tidak termakan sedikitpun dengan rayuan wajah ‘minta dikasihani’-nya.

Chanyeol mengangkat sendoknya dengan tangan kanan, dan mencari-cari garpu dengan tangan kiri. Ia mulai menyantap sarapan yang disiapkan oleh ibunya tadi sambil cemberut.

Ibu Chanyeol memperhatikan anaknya makan sambil melipat tangan di dada. Sudah seringkali ia melakukan hal itu, hanya gara-gara Chanyeol yang susah disuruh makan karena terlalu tertarik dengan handphonenya.

Tiba-tiba handphone itu berdering, dengan spontan sang ibu mengangkatnya.

“Halo?” jawabnya. Chanyeol awalnya ingin merebut handphone itu dari tangan ibunya, sayang sekali ia terlalu takut.

“Chanyeol? Kenapa suaramu seperti suara perempuan?” seru seseorang dari seberang. Ia terdengar sangat terkejut.

“Aah, aku ibunya Chanyeol.” Jawab ibunya dengan sangat ramah.

Ohh, maaf bibi.” Kata orang tersebut. “Apa Chanyeol ada, bi?”

Ibu Chanyeol melirik pada anaknya dengan sinis, lalu kembali menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Chanyeol sedang di kamar mandi. Kalau kau ada pesan, biar aku yang menyampaikan.”

“Ibu jahat!” kata Chanyeol dalam hati. Ia makin cemberut melihat tingkah ibunya yang iseng. Jelas-jelas ia sedang berada dihadapan ibunya sekarang.

“Ohh baiklah. Tolong sampaikan pada Chanyeol, berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Ini keadaan darurat, tolong ya bi.”

“Baiklah, akan aku sampaikan.”

Si Ibu menutup telpon sambil memandang penuh selidik pada putranya. Chanyeol merasa hawa di dapur mulai berubah, siap-siap saja ditanyai yang macam-macam oleh sang ibu.

“Temanmu bilang berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Keadaan sedang darurat.  Apa maksudnya?”

Chanyeol mengernyitkan keningnya, menandakan ia juga tidak tahu menahu tentang pesan temannya itu.

“A-aku juga tidak tau, bu.”

“Jangan bohong, Park Chanyeol!” nada suara dari ibunya memang tidak meninggi, tapi penuh dengan penekanan. Astaga, ibu Chanyeol benar-benar menakutkan saat penasaran seperti ini.

“Aku tidak bohong, bu. Percayalah. Yang berbicara dengan temanku tadi kan ibu? Aku saja tidak tahu siapa yang menelpon barusan.”

Kegalakan di wajah sang ibu mulai mengendur. Ia baru sadar, tadi dia tidak melihat pada layar handphone untuk mengetahui siapa yang memanggil anaknya. Dengan cepat, dia membuka benda kecil itu lalu melihat history call.

“Kyungsoo..” gumam ibunya pelan, saat mendapati siapa yang menelpon Chanyeol.

“Kyungsoo? Tumben dia menelpon.” Chanyeol ikut-ikutan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.  Beberapa saat, ia menopang dagu dengan tangannya, lalu matanya membesar seketika. Sepertinya ia sadar akan sesuatu.

“Bu, maaf aku tidak menghabiskan makanannya kali ini. Aku harus cepat—“

Langkahnya terhenti saat ia berjalan melewati ibunya. Bahunya ditangkap dengan lembut oleh tangan wanita itu.

“Kali ini jangan bertindak ceroboh, Chanyeol.” Seru ibunya, lalu tanpa disangka-sangka ia memberikan handphone itu pada Chanyeol. “Hubungi ibu jika ada apa-apa. Mengerti?”

Chanyeol tersenyum tipis, sambil menerima benda itu dari ibunya.

“Tentu saja, bu. Aku pergi.” Ucapnya, melesat dari rumah sederhana itu dengan cepat.

.

.

.

Minggu, satu jam sebelum jam 09.00

Jalanan ramai karena akhir pekan, termasuk taman yang biasa dijadikan tempat berkumpul klub musik Boudan. Terlihat beberapa keluarga dan muda-mudi hilik mudik melewati taman itu. Apalagi sedang musim semi, tentu saja banyak orang yang berpikir untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang yang disayangi.

Taehyung dan Jungkook melewati taman itu sambil membawa beberapa kotak nasi. Mereka berjalan berdampingan, sambil memperhatikan keadaan sekeliling.

“Sial! Pagi-pagi begini disuruh membeli makanan. Menganggu tidurku saja.” Dari tadi Taehyung tidak berhenti mengumpat. Ia kesal sudah dibangunkan secara paksa oleh Yoongi melalui panggilan telponnya sampai 12 kali.

Jungkook diam saja. Ia malah memperhatikan orang-orang yang ada di taman sambil celingak-celinguk.

“Hei, kau dengar tidak?” Taehyung makin kesal karena diabaikan.

“Hn..” hanya itu balasan yang diterima oleh Taehyung. Oh, anak ini benar-benar seperti iblis! Pasti itu yang terlintas dipikiran Taehyung.

Taehyung memajukan bibirnya, “Kapan kau akan berubah, Jungkookie? Selalu saja mengabaikanku.”

Seketika Jungkook melirik Taehyung, lalu tersenyum tipis.

“Maaf hyung. Perhatianku terlalu fokus pada mereka.” Jungkook menunjuk menggunakan tangannya pada sebuah keluarga yang sedang duduk di bawah pohon Sakura. Seorang ayah, ibu, dan dua anak laki-laki yang yang berbeda besarnya. Mungkin mereka adalah kakak adik. Mereka terlihat sedang bermain sesuatu, sambil sesekali sang adik memukul kepala kakaknya. Ayah dan ibu mereka tertawa setiap kali sang kakak mengaduh kesakitan. Keluarga itu terlihat bahagia.

Taehyung ikut memperhatikan mereka, tapi ia segera menarik bahu Jungkook dengan spontan.

“Ayo cepat, jangan sampai Yoongi hyung mengamuk lagi.” Serunya. Jungkook yang tidak mengerti dengan tindakan Taehyung hanya menurut saja. Sekilas Jungkook bisa melihat raut wajah Taehyung yang berubah panik.

Tentu saja. Apa yang dilihat Taehyung berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Jungkook. Ia melihat orang yang beberapa hari lalu mencari masalah dengannya berdiri tidak jauh dari pohon Sakura, tempat keluarga tadi bernaung.

Mereka terus berjalan, makin lama makin cepat. Taehyung mengalihkan pegangannya dari bahu Jungkook ke lengan pemuda itu. Ia menarik lengan anak itu dengan kuat, menyebabkan suatu protes keluar dari mulut Jungkook.

“Hyung, kau kenapa?” Ia menarik lengannya dari genggaman Taehyung, lalu berhenti tiba-tiba.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Kita harus pergi.” Sekarang Taehyung benar-benar panik. Kali ini, ia tidak bisa lagi menutupi rasa cemasnya. Spontan ia menarik tangan Jungkook lagi dengan kuat, lalu berlari secepat yang ia bisa.

“Hyuung—“ Jungkook berteriak, sambil melepaskan cengkraman Taehyung dengan paksa. Raut wajahnya terlihat heran sekaligus marah. Ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Taehyung yang tiba-tiba saja seperti orang ketakutan.

Dengan cepat Taehyung menarik Jungkook ke belakang pagar yang ada disekitar mereka. Pagar kayu itu cukup besar, ditumbuhi tanaman menjalar yang rimbun sehingga bisa dipastikan mereka tidak akan kelihatan dari belakang. Taehyung melirik ke kanan dan kekiri, memastikan tidak ada orang selain mereka yang ada disana.

“Dengar baik-baik.” Taehyung berbicara dengan pelan, hampir tidak terdengar, “.. apapun yang terjadi nanti, kau harus lari. Pergi ke tempat Jin hyung, katakan padanya untuk datang kesini. Tapi jangan sampai Yoongi hyung dan Namjoon hyung tau. Kau mengerti?”

Jungkook makin tidak mengerti. Ia tidak mau menuruti begitu saja kata-kata Taehyung kali ini.

“Apa maksudmu, hyung? Apa yang terjadi sebenarnya?”

Taehyung lagi-lagi melirik ke belakang, masih aman.

“Aku melihat Jongdae dan teman-temannya tadi di taman. Mereka pasti membuntuti kita. Aku rasa kita berdua tidak akan bisa lari dari mereka.” Ia menghentikan kalimatnya, lalu menarik nafas dalam-dalam akibat gugup yang sekarang sedang melandanya “..Karena itu, salah satu diantara kita harus memanggil Jin hyung untuk membujuk mereka.  Aku akan mengalihkan perhatian mereka.  Sekarang, pergilah menjemput Jin hyung. Kau mengerti?”

“T-tapi hyung—“

“Cepat lakukan saja apa yang aku katakan, Jeon Jungkook!” Taehyung mendorong Jungkook dengan kasar, membuat Jungkook hampir terjatuh karenanya.

“Untuk kali ini saja, lakukanlah apa yang aku suruh. Aku mohon.”

.

Minggu, jam 09.30

.

BUK!

Kursi usang yang sudah lama terletak di gudang itu patah seketika saat punggung seseorang menimpanya dengan keras. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya yang pecah, ditambah dengan luka memar di pipinya. Pukulan-pukulan yang diterimanya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hampir tidak sadarkan diri. Lima orang itu masih belum puas melampiaskan emosi mereka padanya. Berkorban itu memang menyakitkan bukan? Tapi setidaknya ia tidak perlu menyesal nantinya jika membiarkan orang yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri terkena imbasnya juga.  Toh anak itu tidak ada hubungannya dengan masalah mereka, dia hanya anak baru yang masuk ke klub musik tanpa tahu apa-apa tentang masa lalu mereka.

“Yaak, Kim Taehyung! Masih belum menyerah?” teriakan Jongdae bergema diseluruh ruangan gelap itu. Bau khas kayu yang sudah lapuk menebar dimana-mana.

Bahkan untuk membalas perkataan Jongdae pun ia tidak bisa, mulutnya sakit saat digerakkan. Pipinya sudah bengkak akibat pukulan bertubi-tubi dari lima orang itu.

Jongdae mendekati Taehyung, menarik rambutnya dengan kasar sambil mendekatkan mukanya pada wajah pemuda dihadapannya.

“Ini akibatnya jika berani berurusan dengan kami.”

Lagi-lagi ia menampar pipi Taehyung, penglihatannya jadi berkunang-kunang. Digenggamnya tangan Jongdae yang sedang mencengkram rambutnya itu perlahan,

“Pukul saja sepuasmu, hyung.” Taehyung tersenyum mengejek, “Aku tidak akan terpancing..”

BRUK!

Cengkraman tangan Jongdae memang sudah lepas dari rambut Taehyung, tapi sasarannya kali ini berpindah ke perutnya. Jongdae berhasil memukul tempat organ pencernaannya itu sampai terasa ngilu.

Ia terbatuk-batuk. Air liurnya terasa asin saat itu, seakan isi perutnya mendesak ingin keluar.

“DIAM!” teriak Jongdae marah. Mukanya sudah merah padam karena emosi.

“Kau hanya iri dengan kami, bukan?”

“Cih!” Jongdae meludah, lalu ia tertawa sinis. “Iri katamu? Untuk apa aku iri pada klub musik seperti kalian? Kalian itu payah, tidak bisa apa-apa. Kemampuan kalian jauh dibawah kami. Seharusnya kau sadar, Taehyung!”

“Ya, kami memang payah. Kemampuan kami masih jauh dibandingkan dengan klub musik Tonan. Tapi satu hal yang perlu kau tau, hyung..” Taehyung kali ini melirik Jongdae dengan tajam, pandangannya saat itu penuh keyakinan dan menantang.  “…Kami selalu bertindak jujur dan sportif!” Taehyung mengangkat kepalanya, ia berdiri perlahan. Senyum sinis masih menghiasi bibirnya kala itu.

“Pemikiran yang bagus, Taehyung-ah!” teriakan seseorang dari luar gudang mengalihkan pandangan mereka semua. Pintu gudang yang tertutup tiba-tiba terbuka perlahan. Cahaya mulai masuk, menyinari ruang gelap itu secara keseluruhan.

Seorang pemuda dan kedua temannya sedang berdiri di depan pintu, ia tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih.

“Chanyeol-hyung?” gumam Taehyung terkejut. ‘Sial, datang lagi temannya.’ umpat Taehyung dalam hati. Ia yakin, Chanyeol hanya akan memperburuk keadaan.

Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo masuk ke dalam gudang. Pintu masih terbuka dengan lebar, tapi sepertinya tidak ada yang berniat untuk menutupnya lagi. Mereka berjalan melewati Jongdae dan suruhannya, lalu membantu Taehyung yang sudah babak belur untuk berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo, ia melilitkan tangan Taehyung ke bahunya sendiri.

Taehyung terpana. Kyungsoo yang dari dulu tidak pernah peduli dengan mereka, sekarang bertindak sok pahlawan? Ia masih ingat saat Jongdae dan kawan-kawannya memukuli klub Boudan, Kyungsoo hanya melihat mereka dari kejauhan. Ia tidak melakukan apapun, bahkan tidak berusaha untuk menghentikan apa yang terjadi saat itu.

“Mana mungkin dia tidak apa-apa, Kyungsoo-ah. Mukanya sudah hancur dipukuli Jongdae.” Chanyeol berbalik, melemparkan pandangan menusuk pada orang yang tadi menganiaya Taehyung.

Jongdae berdesis, “Pikirkan kau sedang berada dipihak siapa, Chanyeol! Kau tau persis, mereka adalah lawan kita. Kenapa kau membantunya?” Suaranya meninggi lagi, tidak berbeda dengan cara bicaranya pada Taehyung barusan.

Raut wajah Chanyeol berubah. Tergurat emosi yang ditahan, namun ia masih sanggup mengendalikannya.

“Mereka memang lawan kita, Jongdae. Tapi kau juga tau persis, mereka lawan kita dibidang musik, bukan fisik!”

Ekspresi wajah Jongdae kali ini sulit ditebak. Ia terdiam seketika.

“Kami sudah membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau, Jongdae-ah. Tapi yang ini sudah keterlaluan.” Kali ini Baekhyun yang berbicara. Nada suaranya datar, tapi jelas sekali penekanan yang dilakukannya di kata ‘keterlaluan’ itu.

“Jadi sekarang kalian menyalahkanku, begitu? Cih! Jangan sok suci, Chanyeol. Kau juga ikut berkelahi waktu itu bukan?”

Deg! Pukulan keras bagai menghantam hatinya saat itu. Chanyeol terhenyuk. Kata-kata Jongdae tepat sasaran, ia kalah telak.

Mereka semua terdiam. Bahkan Baekhyun yang biasanya pintar berbicara pun tidak bisa membalas kata-kata Jongdae barusan.

“Kenapa kalian diam? Baru sadar kalau kalian sama saja denganku, hah? JAWAB!” Sebuah kursi jadi korban lagi, patah tak berbentuk setelah kena tendangan kuat dari Jongdae. Ia mengambil kaki kursi yang patah itu.

Ia melewati Chanyeol, lalu berhenti tepat dihadapan Taehyung dan Kyungsoo. Tangannya melambai, sebentar lagi muka Taehyung akan kena sasaran kemarahan Jongdae lagi.

PLAK!

Tepat! Pukulan keras akibat emosi yang meluap dari Jongdae pas mengenai sasaran. Bahunya bertemu dengan kaki kursi itu, meninggalkan bekas yang cukup kentara karena kotoran kayu itu menempel di bajunya.

“Chanyeol!” Kyungsoo dan Baekhyun berteriak secara bersamaan.

Benar. Chanyeol sekarang berdiri memunggungi Taehyung dan Kyungsoo, bahunya jadi korban. Ia merasakan sakit yang amat sangat mulai menjalar di sekitar bahunya.

“Hyung?” Taehyung sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Apakah ini pengaruh pukulan Jongdae yang membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik?

Chanyeol melindunginya?

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!” Kyungsoo sekali lagi berteriak. Kali ini penuh dengan kekesalan.

Chanyeol tersenyum miris.

“Jika dengan begini, aku bisa memperbaiki kesalahan yang dulu, aku rela dipukul berapa kalipun.” Ia menoleh pada Taehyung yang sedang menatapnya heran. Ia tersenyum lagi, lalu mengalihkan pandangan pada Jongdae.

Baekhyun mengigit bibirnya, menahan emosi. Apa-apaan sahabatnya ini? Berlagak sok keren seperti itu. Ia tau persis, Chanyeol adalah orang yang baik. Terlalu baik malah. Mungkin Chanyeol akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang tidak pernah ia perbuat dua tahun yang lalu. Tapi kenapa harus melakukannya sampai sejauh itu? Bukan Chanyeol yang seharusnya menanggung hal ini, tapi ‘orang itu’!

PLAK!

Sekali lagi, pukulan itu sekarang mengenai bahu Chanyeol yang sebelahnya. Sudah terlambat, Jongdae mengamuk bak harimau liar. Ia sudah muak dengan tingkah Chanyeol yang berlagak jagoan. Ia mengayunkan kayu itu kesana kemari. Chanyeol meringis kesakitan sambil memegangi bahunya. Namun sepertinya Jongdae tidak akan puas, ia pasti akan melakukannya lagi. Mereka semua panik.

Chanyeol mendorong tubuh Jongdae ke arah dinding. Mereka berdua terpental, Jongdae tertimpa tubuh Chanyeol yang jauh lebih besar darinya.

“Kalian pergi dari sini!” teriaknya masih berusaha menahan Jongdae.

Empat orang teman Jongdae yang lain sepertinya tidak ingin ikut campur lebih jauh, mereka hanya disuruh untuk membuntuti Taehyung. Mereka segera keluar, tanpa mempedulikan Jongdae yang kesakitan karena tubuh Chanyeol.

“Kau bawa dia keluar. Aku akan membantu Chanyeol.” Baekhyun memberikan perintah pada Kyungsoo, dan dituruti oleh pemuda itu. Sementara dia berlari ke arah Chanyeol dan Jongdae yang sedang bergulat.

Baekhyun merebut kayu yang ada di tangan Jongdae dengan paksa. Saat itu gerakan Jongdae berhasil dikunci oleh Chanyeol menggunakan kaki dan tangannya. Meskipun sedang terluka,  Chanyeol tetap lebih unggul dibidang fisik dibanding Jongdae.

“Jangan pernah mendekati mereka lagi, mengerti?!” suara berat Chanyeol bergema di ruangan itu. Jongdae yang tertelungkup dengan tangan terkunci oleh tangan Chanyeol ke belakang punggungnya hanya bergumam tidak jelas.

“Jika kau melakukannya lagi, kubunuh kau!”

BRUK! Tubuh Chanyeol jatuh mencapai tanah.

Pandangannya perlahan-lahan mengabur. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang tidak karuan. Semuanya menjadi gelap.

.

.

.

“Taehyung-ah!” Yoongi sudah meledak, ia sudah kehilangan kendali emosinya saat berlari mendekati Taehyung yang duduk sendiri di di tengah lapangan sekolah Tonan. Melihat wajah babak belur sahabatnya itu, Yoongi mendadak berteriak.

“Apa yang ada di otak tumpulmu itu, Kim Taehyung? Kau mau cari mati hah?!” amarah Yoongi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia benar-benar marah saat mengetahui Taehyung dibuntuti oleh Jongdae, dan bertindak ceroboh dengan mengorbankan dirinya sendiri. Ketika itu Jin, Hoseok, Jimin, Namjoon, dan Jungkook tertinggal dibelakang Yoongi karena pemuda itu sudah berlari duluan mendekati Taehyung.

Jin mengejar Yoongi, ia menepuk pundak pemuda itu pelan.

“Sudahlah Yoongi, kendalikan emosimu.” ucapnya lembut. Ia memperhatikan Taehyung, kondisinya sangat memprihatinkan.

“Bagaimana tidak emosi, hyung! Anak bodoh ini sudah berani bertindak ceroboh. Kalau terjadi apa-apa terhadapnya, bagaimana?” Suara Yoongi masih bernada tinggi, ia terlanjur dibakar oleh amarah meledak-ledak.

Namjoon memandang sekilas pada Taehyung, kemudian mulai menyusuri sekolah. Ia berlari-lari kecil disekitar daerah itu. Entah apa yang ia cari.

Sementara itu Jungkook, Hoseok dan Jimin ikut mendekati Taehyung, jelas sekali tergurat rasa khawatir di wajah mereka masing-masing.

Jin duduk disamping Taehyung yang tidak berani mengucapkan apa-apa. Ia terlalu takut menghadapi kemarahan Yoongi. Ia diam saja.

“Kau baik-baik saja, Taehyung-ah?” Jin memandangi wajah Taehyung. Mulai dari sisi kanan, sampai sisi kiri.

Taehyung mengangguk.

“Katakan, apa Jongdae yang melakukan hal ini padamu?” nada suara Yoongi memang sudah tidak setinggi tadi, tapi masih tersirat amarah dari cara bicaranya. Ia sudah tau siapa pelakunya, hanya saja ia ingin memastikan lagi dari mulut Taehyung.

“Yoongi, tenanglah. Bukan saatnya mempermasalahkan hal itu. Lebih baik sekarang kita bawa Taehyung ke tempat yang lebih aman. Aku khawatir kedatangan kita kesini malah memicu permasalahan yang lebih besar. Kau sadar kan, ini wilayah sekolah Tonan.”

“Benar, hyung. Dari tadi mereka memandangi kita, aku rasa sebentar lagi kita akan diusir dari sini.” Jimin menyetujui saran Jin. Walaupun hari minggu, sekolah masih saja ramai oleh murid-murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Semua sekolah sepertinya begitu, bahkan di Boudan Shounen sekalipun.

“Aku tidak peduli. Kali ini Jongdae benar-benar minta dihajar. Persetan dengan hukuman itu. Perbuatannya sudah keterlaluan!” Yoongi dengan cepat berlari dari hadapan mereka, ia tidak mengindahkan lagi saran dari Jin yang terkenal bijaksana.

Jin berdiri seketika, ia menendang tanah bekas ia duduki tadi. Sepertinya perbuatan Yoongi ini telah memicu emosinya pula.

“Sial! Anak itu benar-benar susah diatur.” Jin mengumpat kesal. Baru kali ini ia termakan emosinya sendiri.

“Jungkook dan Jimin, kalian jaga Taehyung disini. Aku dan Hoseok akan menyusul Yoongi. Dan kau Namjoon—“ kata-kata Jin terhenti saat ia sadar Namjoon sudah tidak ada disekitar mereka.

“Kemana Namjoon?” ia melanjutkan kalimatnya. Ia memandang ke sekitar, melirik ke sana dan kemari, namun orang yang dicari tidak ditemukan juga.

“Hyung, sepertinya kita harus cepat-cepat bertindak sebelum mereka berdua mengacaukan keaadaan..” Hoseok yang pintar membaca situasi, segera memberi saran.

“Mereka berdua membuatku geram!” Jin menggemertakkan giginya, tinjunya dikepal kuat-kuat, berusaha menghilangkan rasa marah yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Ia segera berlari ke jalan yang dilalui Yoongi tadi, diikuti oleh Hoseok.

Sementara itu, Jungkook dan Jimin berjaga-jaga di samping Taehyung. Belum ada yang berani membuka suara.

“Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan, Jungkookie?” perlahan Taehyung membuka mulutnya. Rasa sakit kembali menjalar di sekitar pipi saat ia menggerakkannya untuk bersuara.

Jungkook menunduk, tidak berani memandang Taehyung. “Aku sudah melakukan apa yang kau suruh hyung. Aku sudah lari, bukan?” gumamnya pelan.

“Bukan yang itu maksudku, anak bodoh! Aku menyuruhmu memanggil Jin hyung SAJA. Lalu kenapa mereka juga ada disini?”

“Apa boleh buat hyung. Jin hyung sedang bersama mereka saat aku datang.”

“Karena itu pakai otakmu, anak muda. Kau bisa mengakalinya, bukan? Lihat apa yang terjadi sekarang. Kita semua pasti tamat.” Taehyung melepaskan nafasnya dengan berat. Mukanya frustasi.

“Maaf, hyung..” terlihat rasa sesal tergambar di wajah Jungkook saat ini. Ia tahu, semua orang sangat mencemaskan Taehyung, karena itu keadaanya menjadi sangat panas. Bahkan Jin yang sulit terpancing sekalipun, telah termakan emosi pula. Mereka semua sedang kehilangan kendali.

“Sudah, jangan memarahi Jungkook. Ini semua bukan salahnya, Taehyung. Ia sudah berusaha menyembunyikan dari kami, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat itu. Akulah yang memberi tahu pada yang lain.” Jimin menghentikan adu mulut itu, ia tidak mau suasana menjadi semakin keruh.

Taehyung memandang sekilas pada Jimin, lalu menunduk. Ia sudah tidak ada tenaga untuk bertengkar.

“Aku hanya tidak habis pikir, kenapa orang itu melindungiku.” Taehyung bergumam, hampir tidak terdengar.

“Orang itu?” Jungkook yang duduk lebih dekat dengan Taehyung sepertinya mendengar gumaman itu dengan jelas.

Taehyung mengangguk.

“Kakakmu, Jungkookie. Park Chanyeol.”

‘PARK?’

Jungkook terkesiap tidak percaya. Dua kenyataan yang diterimanya saat ini. Dua kenyataan yang bisa memberikan respon bertentangan terhadapnya..

Bagaimana mungkin, orang yang paling dibencinya rela melindungi Taehyung yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri? Sebodoh itukah Chanyeol mengorbankan diri untuk lawannya sendiri?

Kemudian, yang lebih mengejutkannya adalah nama keluarga yang digunakannya.

Park? Sejak kapan Chanyeol merubah nama depannya jadi nama depan yang sama seperti ibunya? Apakah Chanyeol benar-benar ingin menghapus semua yang berhubungan dengan dirinya dan ayah mereka?

Rasa dendam dan benci sepertinya lebih kuat menguasai perasaan anak itu sekarang, menelan semua pengorbanan yang telah dilakukan Chanyeol terhadap Taehyung…