The Final Chapter is The First Love (Chapter 2)

Cast : Naruto, Hinata, Sasuke, Sakura, and the others. 

Note : Terinspirasi dari movie Naruto yang The Last, tapi bukan canon ya 😀 Happy reading!

1459098_813902552004475_7777360568233276144_n

.

.

“B-bagaimana k-kau b-bisa tauu?! Teme sialan, kau membuntutiku ya?” Naruto menunjuk-nunjuk pada Sasuke, dia sudah berdiri dari kursinya. Merasa tidak terima dengan segala pengetahuan Sasuke tentang dirinya, Naruto jadi emosi.

.

.

Dibawah batang pohon cemara yang berdiri kokoh, untuk bertahun-tahun lamanya meneduhkan udara di sekitar rumah tradisional itu, duduk seorang perempuan berambut indigo dengan mata amethystnya menerawang ke atas langit biru. Cuaca memang sangat cerah saat itu, sinar matahari membentuk tombak-tombak halus menembus dahan-dahan yang di laluinya. Keringat bercucuran, mengalir deras dari dahi hingga lehernya. Rasa lelah karena berlatih dari subuh sudah terasa sejak beberapa waktu yang lalu, tapi keinginannya untuk menguasai jurus itu jauh lebih kuat. Yang lebih ditakutkannya lagi adalah mempermalukan anggota keluarganya di depan klan otsutsuki. Bebannya terasa lebih berat gara-gara Neji yang sudah meninggalkannya lebih dahulu.

Tamu mereka akan datang beberapa jam lagi, semua anggota baik golongan Souke maupun Bunke, sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut klan otsutsuki. Inilah resiko menjadi klan paling terhormat di Konoha, mereka dibebankan untuk selalu mewakili desa jika ada tamu yang ingin bersilaturahmi. Pengajaran tata krama yang diajarkan oleh tetua klan Hyuuga sudah dikuasainya sejak kecil. Berbagai macam tradisi dan adat di klannya pun sudah disuguhkan sejak ia masih bocah. Bagaimanapun, ia adalah putri dari kepala Klan Hyuuga yang menjunjung tinggi tradisi secara turun menurun. Ia telah mahir dengan itu semua.

Sekarang bagaimana dengan upacara yang biasanya diwakili oleh Neji itu? Neji satu-satunya orang yang mampu menguasai jurus terkuat klan Hyuuga saat umurnya masih muda. Setelah invasi Pain, Neji diangkat oleh Hiashi sebagai perwakilan klan Hyuuga untuk menunjukkan jutsu tertinggi mereka. Lalu setelah Neji pergi, siapa lagi yang akan menggantikannya kalau bukan Hinata? Hanabi belum bisa, karena dia masih terlalu muda. Hinata-lah kandidat yang paling tepat untuk menggantikan Neji. Tapi apa yang harus diperbuat jika waktu yang diberikan tidak cukup untuk menguasai jutsu yang pernah ia pelajari itu? Untuk sekedar menstabilkan chakranya saja, Hinata sudah kewalahan. Ia masih butuh banyak waktu.

“Nee-sama?” seorang gadis tanggung yang memiliki mata mirip dengannya memanggil dari arah belakang, lantas ia menoleh pada gadis itu.

“Ya?” jawab Hinata singkat.

“Tidak perlu dipaksakan, lebih baik sekarang nee-sama bersiap-siap.” Hanabi terlihat sedang membawakan setumpuk kimono dengan segala macam hiasan di tangannya.

Hinata berdiri, lalu mendekat pada adiknya. Ia memperhatikan kimono berwarna lavender itu dengan sesama, kimono kesayangannya.

“Hanabi, apa aku akan memakai kimono ini nanti?” tanyanya heran. Wajahnya berkerut, tanda kebingungan.

Hanabi mengangguk membenarkan.

“T-tapi bukankah aku akan memperlihatkan jurus itu pada klan otsutsuki? Aku rasa kostum ini tidak terlalu pas..”

Hanabi menatap nanar pada kakaknya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya sangat berat untuk sekedar mengeluarkan suara. Semua kata-kata yang hendak ia lontarkan seperti tertahan ditenggorokan.

Hinata tentu saja mengerti, ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya.

“Apakah terjadi sesuatu, Hanabi?” Hinata berusaha membujuk adiknya, ia menepuk bahu Hanabi dengan lembut.

Hanabi masih diam tak berkutik, lidahnya terasa kelu untuk sekedar membalas kata-kata Hinata.

Bukan Hinata namanya jika tidak sabar menunggu, ia tetap menanti kata-kata yang akan keluar selanjutnya dari Hanabi.

“Nee-sama…” akhirnya Hanabi membuka mulut, walaupun suaranya sangat pelan hampir tidak terdengar. Pandangannya pada Hinata berubah total, rasa sedih terpancar jelas dari matanya.

Hinata tersenyum, “Jika ada masalah, ceritakanlah. Jangan dipendam sendiri, Hanabi.”

Lantas Hanabi tiba-tiba memeluk Hinata, begitu eratnya hingga Hinata hampir kehilangan keseimbangannya. Gadis itu agak terkejut gara-gara gerakan Hanabi yang begitu tiba-tiba, tapi ia segera menguasai diri dan membalas pelukan sang adik.

“M-maafkan aku nee-sama. Hiks..” meledaklah tangis Hanabi, ia sudah tidak kuasa mengendalikan emosi yang dari tadi pagi ditahannya. Ia merasa begitu bersalah.

“Hei Hanabi, ada apa Hanabi? Kenapa kau minta maaf?”

Pelukan Hanabi makin erat, ia membenamkan kepalanya di pundak Hinata. Ia tidak mau siapapun yang ada disana melihatnya menangis seperti anak kecil.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, nee-sama. Aku sangat menyesal, hiks..”

“Hanabi, kenapa kau tiba-tiba jadi aneh begini? Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku tidak sengaja mendengarkan percakapan antara ayah dan tetua klan. Tadi pagi mereka didatangi seorang anbu dari Rokudaime Hokage, dia mengantarkan pesan dari klan Otsutsuki. Mereka bilang, untuk mempererat hubungan silaturahmi antara kedua desa, mereka…mereka.. hiks..” Hanabi tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia tersedak karena terlalu keras menahan air mata. Ia terbatuk kecil, lalu sesenggukan lagi.

Hinata yang tidak mengerti apapun, hanya bisa mengusap punggung Hanabi untuk sekedar menyamankannya. Ada firasat aneh yang juga memasuki ruang hatinya saat ini, setelah melihat Hanabi bersikap tidak seperti biasanya. Ia segera memejamkan mata,

“Tenangkan dulu dirimu, Hanabi..”

Hanya itu yang bisa dikatakannya, karena ia sama sekali tidak memiliki satu petunjuk pun terhadap situasi yang membuat adiknya histeris.

“…mereka ingin menikahkan putra pewaris klan otsutsuki dengan putri dari klan hyuuga, Nee-sama..” Hanabi mau tidak mau melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. Apapun itu, Hinata harus mengetahui apa yang terjadi. Ia tidak mau Hinata shock tiba-tiba karena tujuan kedatangan klan otsutsuki sebenarnya adalah untuk melamarnya, bukan sekedar bersilaturahmi.

DEG!

Bagai ada godam super besar yang menghantamnya saat ini, begitu sakitnya sehingga ia tidak dapat bergerak sedikitpun. Berita yang baru saja didengarnya begitu mengejutkan, sampai-sampai gadis itu diam tanpa kata.

Ia terhuyung sedikit ke belakang, keseimbangannya sudah hilang entah kemana, tapi ia ditahan dengan cepat oleh Hanabi yang saat itu masih memeluknya.

“N-nee-sama?” panggil Hanabi panik, diperhatikannya Hinata yang saat itu menunduk membiarkan surai indigonya menutupi sebagian wajah putihnya. Hanabi menggemertakkan gigi, menahan segala rasa emosi yang membuncah dengan deras.

“A-aku baik-baik saja Hanabi..” gumam Hinata pelan, tangannya yang saat itu sedang menggenggam lengan Hanabi terasa gemetaran.

.

.

.

Beberapa anggota Souke yang memiliki jabatan penting di klan Hyuuga sudah berkumpul di ruangan utama, mereka duduk di atas sebuah tatami berwarna hijau dengan sangat rapi. Tradisi dan tata cara yang terhormat dari klan Hyuuga sepertinya sangat kental terasa di ruangan besar itu. Hiashi duduk paling depan, di tengah-tengah dengan tangan diletakkan di atas pahanya. Raut wajahnya sulit diartikan, seperti biasa ia tetap tenang. Ia memandang pada anggota keluarga yang lain, memastikan apakan ada lagi yang akan berbicara setelah perundingan lamaran ini.

Disamping kiri adalah klan Hyuuga, dan disamping kanan diisi oleh klan otsutsuki. Klan otsutsuki diwakili oleh dua orang tetua klan, lima orang jounin, lima orang anbu, dan satu orang perempuan yang diketahui sebagai pelayan sang pewaris klan Otsutsuki. Pemuda itu sendiri duduk paling dekat dengan Hiashi, tepat di samping kanannnya dan berhadap-hadapan dengan Hinata yang duduk di sebelah kini sang ayah. Ia tidak henti-hentinya memandang pada sang gadis, meskipun sulit untuk menerjemahkan apa maksud pandangan itu.

Hinata terdiam menunduk, balutan kimono lavender yang menjadi kesayangannya itu adalah saksi bisu betapa sakitnya hati sang gadis saat ini, karena tangannya mencengkram kimono itu dengan kuat. Hanabi yang duduk di belakang Hinata tak bisa berbuat apa-apa, ingin sekali rasanya ia memeluk Hinata saat itu. Tapi ia masih bisa menahan, dan ia harus!

“Jadi, bagaimana pendapat Hiashi-sama tentang lamaran dari kami?” salah satu tetua klan Otsutsuki yang diketahui bernama Daisuki itu mengusap jenggotnya yang mulai memutih, matanya besar seperti terbelalk tapi terkesan sangat sendu dan ramah.

Hiashi menatap Daisuke lekat-lekat, lalu mengalihkan pandangannya pada pewaris klan Otsutsuki.

Ia menarik nafas panjang, “Toneri-san, apakah kau yakin dengan permintaan ini? Sekali lagi aku ingin memastikannya, supaya tidak ada kesalahpahaman yang terjadi nantinya.”

Nama pemuda tampan berambut putih itu ternyata adalah Toneri. Jika dibandingkan dengan Sasuke, dia jauh lebih manis dan beretika. Mungkin karena dia juga berasal dari klan terhormat di negara seberang. Jika melihat dari wajahnya, susah untuk menebak berapa umurnya yang asli karena dia memiki postur wajah yang awet muda. Andai saja dibagian perkenalan tadi, Daisuke tidak menyebutkan profil lengkap  Toneri, mungkin mereka tidak akan percaya kalau pemuda itu sudah 23 tahun. Empat tahun lebih tua dibanding Hinata.

Toneri yang dari tadi memperhatikan Hinata, tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Hiashi. Alih-alih menghilangkan gugupnya, ia tersenyum membalas pertanyaan ayah Hinata.

“T-tentu saja aku yakin, Hiashi-san. Ini adalah wasiat terakhir dari kakekku untuk mempererat silaturahmi dengan desa Konoha. Memang tidak masuk akal, tapi aku berpikir jika kita menyatukan klan terbesar dari dua negara maka akan mudah untuk mencapai kerjasama. Klan Otsutsuki sangat berpengaruh di desa kami, begitu pula dengan klan Hyuuga..”

Lagi-lagi Hanabi menggemertakkan giginya menahan amarah. Apa-apaan orang ini? Melakukan pernikahan untuk mencapai kerjasama antar dua negara? Tidak punya hati kah? Dia pikir pernikahan itu main-main! Hanabi memandang tajam pada sosok tampan itu, ingin sekali dia memukul pemuda asing yang tiba-tiba ingin melamar kakak tersayangnya.

Sementara itu, Hinata masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Kepalanya tetap menunduk memandangi tangannya, rambu indigo yang disanggul ke atas kepala membuatnya terlihat lebih anggun. Sangat cantik, jika saja ia menambahkan sedikit senyuman.

Hiashi diam sejenak, memikirkan hal ini dalam waktu yang singkat tentu tidak mudah. Sebagai kepala keluarga, ia punya tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini. Ia harus mengambil keputusan yang bisa membuat kedua belah pihak merasa diuntungkan, atau setidaknya tidak ada yang dirugikan. Jika saja ia bukan ayah Hinata, pasti ia akan segera menerima lamaran tersebut. Benar kata Toneri, jika saja pernikahan ini dilaksanakan maka kemungkinan terbentuknya kerjasama baru antara desanya dengan desa anak muda itu akan semakin besar. Ini suatu keuntungan untuk Konoha, karena desa seberang memiliki banyak sumber daya alam yang mereka butuhkan.

Tapi instingnya sebagai seorang ayah tentu saja tidak bisa diabaikan begitu saja. Memang, dulu ia begitu meremehkan gadis yang duduk disampingnya sekarang. Itu tidak lain karena ia merasa sangat bersalah atas kematian adik kembarnya yang mengorbankan diri untuk menggantikannya. Semua kesalahan itu ia lampiaskan pada anaknya, mengingat peristiwa itu terjadi karena ia menyelamatkan Hinata dari penculikan dan tidak sengaja membunuh salah satu anggota merea. Yah, rasa egoisme dan takut dipersalahkan itu telah membuatnya buta, hingga akhirnya ia mengkambinghitamkan Hinata.

Sekarang bagaimana? Meskipun ia tidak berbicara secara terus terang, tapi ia sangat tahu kalau jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat menyayangi Hinata. Warisan sang istri yang paling berharga yang pernah ia miliki. Bahan wajah gadis itu sangat mirip dengan istrinya. Betapa bodohnya ia dulu, sempat membiarkan Hinata bersedih dan menganggapnya sebuah kegagalan. Betapa menyesalnya ia sekarang!

“Maaf, apa aku boleh memberikan pendapat?” Tiba-tiba Hanabi memecah kesunyian yang sempat terjadi di ruangan besar itu. Ia yakin telah melihat suatu kebingungan di wajah Hiashi, wajahnya berkerut lebih banyak daripada sebelumnya.

Semua mata tertuu pada gadis tanggung yang mirip sekali dengan Hiashi itu. Hanabi berdiri agar wajahnya terlihat oleh seluruh penghuni ruangan. Kimono kuning bercorak bunga dahlia merah yang ia kenakan cukup membuatnya sulit untuk berdiri, tapi ia segera berhasil menguasainya.

“ya, silahkan Hanabi-san..” kali ini Toneri sendiri yang berbicara. Biasanya juru bicara yang akan mengendalikan acara sakral, tapi tidak untuk saat ini.

“Pendapatku mungkin belum bisa diperhitungkan di acara keluarga ini, karena aku masih belum cukup umur untuk mengeluarkan pendapat, sementara acara ini adalah acara yang sangat besar dan menyangkut kepentingan desa. Tapi jika saja aku boleh berbicara, aku ingin mengatakan bahwa klan Otsutsuki terlalu tergesa-gesa merencanakan sesuatu, apalagi rencana itu adalah tentang pernikahan. Beberapa hari yang lalu kami baru menerima kabar bahwa kedatangan klan Otsutsuki dipercepat dan hal itu cukup membuat kami kaget, lalu tadi pagi kami menerima informasi lagi bahwa kedatangan kalian bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga ingin melamar putri klan Hyuuga. Jujur saja, Hinata nee-sama baru tau beberapa jam yang lalu tentang lamaran ini..” Hanabi berdiri dengan tegas, sorot matanya menyapu seluruh ruangan dengan sinar mata berapi-api. Suaranya memang terdengar kekanakan, tapi sangat tegas. Ia mungkin bisa menyamai sang ayah jika diberikan tugas berdiplomasi.

Hinata menegakkan kepalanya, menoleh pada sang adik yang berdiri tepat dibelakangnya. Saat itu juga Hanabi menyadari mata sang kakak sudah penuh dengan cairan bening yang tinggal menunggu untuk menetes. Tuhan, ternyata ini yang membuat Hinata menunduk dari tadi.

“Nee-sama..” gumam Hanabi pelan, Hinata membalasnya dengan mengggelengkan kepala, pertanda agar Hanabi jangan mengatakan apa-apa lagi. Bisa gawat kalau kata-kata Hanabi malah menyinggung klan Otsutsuki.

Toneri tersenyum pada gadis tanggung itu, entah apa artinya, yang jelas dia terlihat sangat menyebalkan saat itu, menurut Hanabi.

“Hanabi, duduk.” Sang ayah memberikan perintah dengan nada suara yang agak ditinggikan, ia melotot pada Hanabi. Anak itu pun meminta maaf lalu duduk kembali.

“Tidak apa-apa Hiashi-san. Aku justru senang Hanabi-san bisa mengutarakan pendapatnya dengan sangat diplomatis.” Kata Toneri. “Aku rasa pendapat Hanabi memang benar, kami terlalu tergera-gesa. Sebelumnya aku mewakili klan Otsutsuki meminta maaf atas kejadian ini.” Toneri menunduk dalam, beberapa detik ia melakukannnya, lalu mengangkat kepala lagi.

“Tapi kami melakukan hal ini tentu ada alasannya. Sebenarnya kakekku beberapa hari yang lalu meninggal dunia, dia yang notabenenya adalah ketua klan memberikan wasiat untukku agar meneruskan tanggung jawabnya sebagai pemimpin klan. Seharusnya jabatan ini diturunkan pada ayah, tapi dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Karena itu lah kakek mewariskan semua peninggalannya padaku. Sebelum meninggal, dia mengatakan bahwa aku harus bisa menjalin kerjasama dengan desa Konoha karena desa ini memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Tentu saja kami tidak akan egois untuk mengambil keuntungan saja karena desa kami juga memiliki sumber daya alam yang banyak sehingga bisa dimanfaatkan oleh desa Konoha..” Toneri berhenti sebentar, ia sedang berusaha berbicara terus terang pada semua orang yang ada di ruangan itu. Bukankah kejujuran Toneri saat itu patut dipertimbangkan?

“… lalu salah satu cara untuk membuat kerjasama ini tetap kuat adalah melalui pernikahan antara orang yang berpengaruh dari masing-masing desa..”

“Mungkin pendapatmu memang benar, Toneri-san. Tapi seperti yang kau katakan, pernikahan hanya salah satu caranya bukan? Masih ada cara lain yang bisa kita gunakan untuk memperkuat kerjasama antar dua negara..”Hiashi menjawab tenang, walaupun terkesan sedikit menuntut.

Sekarang tetua klan otsutsuki yang angkat bicara,

“Hiashi-sama, walaupun ada cara lain tapi tidak akan ada yang seefektif jalinan pernikahan. Apalagi pernikahan yang melibatkan klan terbesar di masing-masing negara. Kakek Toneri-sama sudah berwasiat agar cucunya dinikahkan dengan putri klan Hyuuga segera setelah ia meninggal dunia. Mungkin ini bukan sekedar masalah hubungan diplomatik antar desa, tapi suatu urusan pribadi dari keluarga inti yang menyebabkan ketua terdahulu ingin menjodohkan cucunya dengan putri anda.” Daisuke yang secara gamblang memadang sosok Hiashi, sesekali mengalihkan perhatiannya pada Hinata.

“Urusan pribadi? Maksud Daisuke-san hal ini memang keinginan pribadi dari ketua klan Otsutsuki sendiri?” Hiashi makin bingung mendengar pernyataan Daisuke. Sungguh ia tidak mengerti.

“Sebenarnya kakek sudah mengenal Hinata-san beberapa tahun yang lalu, ketika dia menjalankan misi untuk mengawal para penduduk desa Kumogakure yang terjebak tanah longsor ke daerah yang lebih aman. Disana kakekku ikut membantu karena desa kami sudah bekerja sama dengan Kumogakure sejak lama..” Toneri mengalihkan pandangannya dari Hiashi, pada Hinata yang kini masih menunduk.

“Mungkin Hinata-san masih ingat, seorang lelaki tua yang punya janggut sangat panjang dengan tanda bulan di leher kanannya..”

Hinata berusaha mengendalikan diri, sekuat tenaga ia menenangkan hatinya untuk sekedar mengangkat kepala. Ia sudah tidak menangis lagi, dan memberanikan diri membalas pandangan Toneri. Sejenak kemudian ia mengangguk.

“Hai’..” jawabnya pelan.

Toneri yang akhirnya berhasil melihat wajah Hinata secara keseluruhan, makin tersenyum lebar. ‘kakek memang pintar..’ pikirnya dalam hati.

“Kakek sangat berterima kasih pada Hinata-san karena dia sudah menyelamatkannya waktu longsor yang kedua kalinya terjadi. Saat itu kakek sedang terluka, untungnya ada Hinata-san yang melindunginya.”

Semuanya terdiam sejenak. Jadi itulah penyebab sebenarnya, alasan mengapa kakek Toneri ingin menjodohkan cucunya dengan Hinata. Tapi bukankah itu alasan yang terlalu dangkal? Toneri bisa saja menolak permintaan sang kakek, toh dia sudah dewasa untuk mengambil keputusan sendiri.

“Maaf sebelumnya, tapi apakah Toneri-san sendiri memang menginginkan pernikahan ini? Seperti yang kita tahu, ini adalah kali pertama Toneri-san bertemu dengan Hinata-sama.” Tetua klan Hyuuga angkat mulut.

Diam lagi, tapi segera dipecahkan oleh jawaban Toneri.

“Tentu saja aku menginginkanya..” jawabnya, lagi-lagi tersenyum.

.

.

.

Masih sangat pagi ketika Naruto terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Ia duduk sebentar di kasur, menggosok mata yang belum terbuka dengan sempurna. Badannya terasa segar, meskipun hanya tidur beberapa jam. Ia berdiri, lalu masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Oh iya, hari ini ia akan pergi mengunjungi makam ibu Hinata seperti yang sudah dijanjikannya kemarin pada gadis ber-byakugan itu.

Diliriknya jam dinding berbentuk kodok yang terpasang sejajar dengan poster mie ramen bertuliskan “No ramen no life” itu, ternyata masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tidak ada misi di hari-hari sibuk seperti ini memang sangat membosankan. Tidak seperti Kakashi yang tersita waktunya karena urusan negara, Sakura yang sibuk dengan pasien di rumah sakit Konoha, dan Sasuke yang sebentar lagi akan pergi keluar desa. Bahkan Shikamaru dan Kiba sekarang sedang menjalankan misi ke negara Suna bersama Temari. Sudah beberapa hari ini ia tidak mengerjakan apapun, hanya tidur seharian di kamar atau berjalan keliling desa. Pengangkatan hokage kemarin mungkin adalah pertama kalinya ia bertemu dengan teman-temannya dalam dua minggu ini. Setiap orang sudah memiliki kesibukan masing-masing, kecuali dirinya yang sedang fokus meregenerasi tangan kanannya yang sempat putus karena bertarung dengan Sasuke. Tsunade yang bertindak sebagai dokternya, melarang Naruto melakukan misi berat untuk sementara waktu karena regenerasi tangannya masih belum sempurna. Pengobatan tingkat tinggi ini memang agak lama, padahal sudah dua tahun sejak pertempuran terakhirnya dengan Sasuke. Tapi apa daya, Tsunade adalah wanita paling menakutkan yang ada di Konoha. Ia tidak akan bisa melawan kehendak mantan Hokage ke-lima itu.

Setelah bersiap-siap, ia bermaksud pergi ke toko bunga Yamanaka untuk membelikan bunga yang juga sudah ia janjikan pada Hinata. Tidak butuh waktu lama untuk sampai disana, dan seketika ia disambut oleh Ino.

“N-naruto?” seru Ino keheranan. Tentu saja, Naruto bukan orang yang suka pada bunga.

“Yo, Ino!” balas Naruto penuh semangat, seperti biasanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Ino bertanya penuh selidik, masih dengan tanda tanya besar di kepalanya.

Naruto mengernyitkan keningnya, “Tentu saja aku ingin membeli bunga. Aku tidak salah masuk kan?”

Ino menggeleng pelan, “Ya, tapi bukan itu maksudku. Sebelumnya kau tidak pernah datang kemari. Bunga untuk siapa?” Ino langsung mendekati Naruto, ia memberikan pandangan menggoda pada pemuda yang tingginya sekarang jauh melebihi dirinya itu.

Naruto spontan menjauh, didekati sambil digoda seperti itu membuatnya salah tingkah.

“H-hei, ini bukan urusanmu..” jawabnya gugup. Ia membuang muka, berusaha mengalihkan pandangan dari Ino.

“Heee, sejak kapan kau jadi tertutup begini Naruto?” lagi-lagi suara mengejek dari Ino keluar. Matanya makin berbinar, sepertinya menggoda pemuda polos adalah perbuatan yang menyenangkan untuknya.

“Sudahlah, lebih baik kau carikan aku bunga yang sesuai. Aku benar-benar buta soal bunga..” Naruto mengalihkan topik pembicaraan. Jika diperpanjang lagi, Ino akan terus menanyainya.

“Baiklah, tapi katakan dulu untuk siapa.”

“Ino!”

“Mau tidak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, aku tidak akan memilihkan untukmu.”

“Aaarrggghh, baiklah. Aku menyerah..”

“Jadi, untuk siapa?”

“……..”

“Oi, Naruto!”

“….ibu Hinata..” wajah Naruto memerah. Sulit sekali berkata jujur kali ini.

Ino terdiam seketika. Matanya yang tadi berbinar, sekarang meredup.

“Kenapa kau diam saja?” Naruto heran dengan perubahan sikap Ino yang tiba-tiba.

Ino tidak menjawab, ia segera berjalan mendekati rak-rak bunga di sudut ruangan.

“Aku rasa lili putih adalah pilihan yang tepat, Naruto..” nada suara Ino pun berubah menjadi lesu. Ia mengambil bunga lili di rak paling atas sambil berjinjit, tapi tidak mau menoleh pada lawan bicaranya. Apa yang terjadi dengannnya?

Naruto mengangguk saja. Ia akan mengikuti semua kata-kata Ino karena dia memang tidak tau sama sekali tentang bunga. Setelah selesai merangkainya menjadi buket bunga yang bagus, ia menyerahkannya pada Naruto.

“Naruto, apa kau baik-baik saja?”

Ino melontarkan pertanyaan aneh. Tapi tersirat rasa simpati yang dalam di matanya. Ia memandang Naruto penuh arti, tapi tidak akan bisa ditangkap oleh otak bodoh Naruto.

“Heh? Tentu aku baik-baik saja. Apa aku terlihat tidak sehat?”

Benar, kan? Naruto tidak akan mengerti apa-apa jika tidak dijelaskan secara langsung.

Ino menghembuskan nafas berat. Ada hal yang menganggunya saat ini, ingin sekali ia bertanya pada Naruto tapi rasanya belum tepat waktu. Apa dia harus mendiamkannya dulu? Ohh andaikan Sai ada disini, pasti ia bisa menjelaskan tanpa harus memikirkan perasaan Naruto. Orang blak-blakan seperti Sai lah yang dibutuhkannya saat ini.

Mungkin saat ini baru dia dan Sai yang mengetahui tentang kedatangan klan Otsutsuki ke Konoha. Sai yang menjadi kaki tangan Rokudaime Hokage adalah orang pertama yang mengetahui tentang hal itu. Lalu tadi pagi ada seorang klan Hyuuga yang datang ke tokonya, membeli buket bunga yang sangat banyak. Saat ia bertanya bunga itu untuk apa, ketika itulah ia mengetahui tentang perjodohan Hinata dan Toneri.

“Kalau begitu, aku pergi. Terima kasih sudah memilihkan bunga ini untukku, Ino. Jaa..” belum selesai Ino berpikir, Naruto sudah melesat pergi. Ditinggalkannya uang di atas meja dengan sembrono, hingga uang itu berserakan.

“N-Naruto!!” Ino berteriak, tapi tidak diindahkan oleh Naruto. Mungkin Naruto takut ditanyai lagi, karena itu ia pergi tergesa-gesa.

Moou, aku belum selesai bicara bodoh!” umpat Ino dalam hati. Ia membereskan uang itu dengan kesal.

.

.

.

Seakan tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menghindari pertanyaan yang ia rasa terlalu memojokkan dirinya, Naruto berlari sekencang mungkin agar bisa menjauh dari Toko Yamanaka. Menurutnya, Ino kali ini terlalu ingin tau. Bukankah ada hal yang tidak perlu di umbar-umbar ke orang lain? Privasi itu penting! Yah, walaupun sebelum ini dia tidak pernah punya privasi.

Sesekali ia melirik ke belakang, berharap Ino tidak mengikutinya. Kalau orang normal pasti tidak akan membuang-buang tenaga untuk sekedar mengejarnya, tapi tidak untuk wanita dengan rasa ingin tahu tinggi seperti Ino. Dia memang tidak secerdas Shikamaru, tapi nilainya di akademi selalu bagus. Mungkin karena itu pulalah ia punya rasa penasaran yang tinggi. Bahkan terhadap urusan orang lain.

Karena terlalu panik, Naruto kehilangan fokus terhadap jalan di depannya. Ia tidak sadar seseorang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, hingga akhirnya..

BUUUK!!

Jatuhlah buket bunga yang sudah terpasang dengan cantik itu ke atas tanah. Tali pengikatnya memang tidak putus, tapi sebagian bunganya jadi kotor karena terciprat lumpur di sekitarnya. Kebetulan Konoha sedang musim hujan, jadi tanahnya agak becek.

Melihat bunganya jadi kotor, Naruto berteriak sekuat mungkin.

“Aaaaaaa, bunganya!!!” Ia segera mengambil bunga itu, lalu meniupnya agar kotoran itu hilang. Pekerjaan yang sia-sia, ya?

“Naruto?” Seseorang dengan suara familiar, memanggilnya dengan wajah sangar.

“S-sakura-chan?!”

“Apa yang sudah kau lakukan, BAKA? Lihat bajuku jadi kotor begini!” Sakura mengepalkan tinjunya, ia uring-uringan setelah melihat baju putih khas dokter rumah sakit Konoha jadi kotor terciprat lumpur.

“A-aku tidak sengaja, Sakura-chan. Kau lihat bunga ku juga jadi kotor..” Naruto menjawab dengan wajah ketakutan. Sakura yang sedang marah tidak ada bedanya dengan Tsunade. Seram.

“Hah??” raut wajah seperti akuma tadi berubah seketika saat Naruto menunjukkan bunga lili itu padanya. Matanya membesar, tanda keheranan.

Naruto memonyongkan bibirnya, tangannya masih berusaha membersihkan kotoran di bunga itu.

“Kali ini kau mau membawakan bunga untuk ibumu?” ceplos Sakura sok tau. Yah, tentu saja ia berpikiran begitu karena baru kemarin Sasuke mengatakan kalau Naruto sering terlihat menaiki bukit tempat makam orang tuanya berada.

Seakan tertangkap basah, Naruto membelalakkan matanya. Kata ‘kali ini” menyiratkan kalau Sakura tau Naruto sering mengunjungi makam orang tuanya. Bukan itu sebenarnya yang ia takutkan, tapi kenyataan bahwa apa yang dilakukannya di makam Kushina-lah yang dikhawatirkannya diketahui orang lain.

Sakura salah tingkah, ia segera membetulkan kalimatnya. “K-kemarin Sasuke-kun bilang kau sering terlihat naik bukit itu..” Sasuke menunjuk pada bukit di belakang desa Konoha, “..Disana ada makam orang tuamu, bukan? Jadi aku berpikiran kau akan kesana lagi.”

“Sasuke teme sialan!” umpatnya dalam hati. Untuk apa Sasuke repot-repot menceritakan hal itu pada Sakura? Jika Sakura bertanya lebih lanjut, dia harus jawab apa? Masa dia harus mengatakan kalau dia mengunjungi makam sang ibu untuk bercerita tentang privasinya. Kekanakan sekali.

“Bukan. I-Ini untuk..”

“Sakura!”

Kalimat Naruto terhenti oleh panggilan seseorang dari belakang. Spontan mereka berdua menoleh pada pemilik suara.

“Sasuke-kun?” wajah Sakura langsung berbunga, ada angin apa pagi-pagi begini ia didatangi oleh Sasuke.

Naruto menghembuskan nafas lega. Untung rivalnya itu datang tepat waktu, kalau dia terlanjur mengatakan yang sebenarnya, mungkin dia akan dikuliti habis-habisan oleh pertanyaan Sakura. Dalam hal keingintahuan, Sakura tidak ada bedanya dengan Ino.

“Kebetulan kau ada disini juga, Baka Dobe. Kalian berdua ikut aku sekarang..” tanpa basa basi Sasuke berjalan melewati mereka berdua.

Mau tidak mau, Naruto dan Sakura mengikuti pemuda tampan itu dari belakang.

Sampai ditempat tujuan, Sasuke berhenti. Naruto dan Sakura yang dari tadi diam akhirnya mengerti. Ternyata Sasuke mengajak mereka makan di Ichiraku.

Mereka masuk, lalu memesan ramen.

“Kau mau mentraktir kami, Sasuke?” Naruto yang duduk paling ujung tersenyum ceria. Sepertinya bunga yang tadi kotor sudah dilupakannya, ramen cukup untuk mengalihkan pikirannya sementara waktu.

“Hn..” jawab Sasuke singkat. Entah kemana pandangannnya tertuju, tapi dia tidak melihat pada Naruto maupun Sakura.

“Makan ramen pagi-pagi begini? Kau yakin, Sasuke-kun?” Sakura tampak ragu.

“Apa kau tidak punya waktu?” kali ini Sasuke menoleh pada Sakura yang sedang melirik jam tangannya.

“O-oh bukan begitu. Kebetulan hari ini tidak banyak pasien, jadi aku bisa meluangkan waktu sebentar. Hanya saja, aneh sekali kau mengajak kami makan di waktu yang kurang tepat.”

Sasuke diam saja. Dia tidak menanggapi kata-kata Sakura.

Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya bertanya pada Sasuke sekarang, mungkin nanti dia akan bercerita dengan sendirinya. Akhirnya mereka menyantap ramen spesial yang baru disuguhkan.

Setelah menghabiskan isi mangkuk masing-masing, Sasuke memulai pembicaraan.

“Naruto, ada sesuatu yang menganggu pikiranku.” Katanya. Serius.

Naruto menoleh, tapi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat alis, tanda kalau ia sedang bertanya ‘apa?’

“Apa yang kau lakukan di makam ibumu?”

JLEB!

Bagai keluar dari kandang singa, dan masuk ke lubang buaya. Itulah istilah yang paling tepat untuk Naruto saat ini. Tiga kali, totalnya. Sudah tiga orang yang bertanya tentang privasinya pagi ini. Oh Tuhan, kenapa orang-orang di dunia ini selalu ingin ikut campur? Dia sudah berusaha menutup-nutupinya, sudah bersusah payah bersembunyi tiap kali datang ke makam ibunya, tapi kenapa masih saja ada yang bisa mengetahui gelagatnya. Ia tidak mengerti apakah Sasuke ini manusia atau makhluk jadi-jadian yang tau apa saja tentangnya. Semua gerak geriknya selalu diketahui oleh pemuda itu.

“Aku hanya ingin berkunjung. Itu saja.” Jawabnya membuang muka. Ia tidak mau memandang Sasuke, takut kebohongannya terbaca oleh otak jenius sang Uchiha terakhir.

“Mungkin pertanyaanku kurang tepat. Bagaimana kalau aku bertanya, apa yang kau lakukan dengan Hinata kemarin?”

“HEEEEEEEEEEEEH!” Naruto berteriak sejadi-jadinya. Bukan, Sasuke bukan makhluk jadi-jadian. Dia adalah Raja Setan!

“Naruto, berisik!” Sakura menutup telinganya, suara keras dari Naruto membuat gendang telinganya berguncang.

“B-bagaimana k-kau b-bisa tauu?! Teme sialan, kau membuntutiku ya?” Naruto menunjuk-nunjuk pada Sasuke, dia sudah berdiri dari kursinya. Merasa tidak terima dengan segala pengetahuan Sasuke tentang dirinya, Naruto jadi emosi.

“Huh, apa manfaatnya aku membuntutimu? Apa kau lupa, semalam kau lewat di depan rumahku?”

Naruto menarik nafas panjang. Sudahlah, mungkin ia harus mengaku. Ia kembali duduk di kursinya.

“Oke, aku akui aku memang bertemu dengan Hinata kemarin. Tapi apa hubungannya dengan pikiranmu yang terganggu?”

“Aduhh.. jadi itulah alasanmu membeli bunga ini? Untuk Hinata?” Sakura ikut menimpali.

Lagi-lagi, hampir tepat sasaran.

Sasuke sepertinya tidak sadar dengan bunga yang dibawa Naruto. Ia melirik ke samping, dan matanya bertemu dengan sebuah buket bunga lili yang kotor tergelak di atas meja.

“Hmm, begitu..” gumam Sasuke perlahan. Tapi masih terdengar oleh Sakura yang duduk disampingnya.

“Naruto, aku rasa apa yang aku dan Sasuke-kun pikirkan sama. Mungkin yang membuatnya terganggu adalah sikapmu yang terlalu menutup-nutupi sesuatu dari kami. Kau jadi aneh, tidak seperti biasanya.”

Hening sejenak. Naruto berpikir sebentar, lalu berkata,

“Aku tidak menutupi apapun dari kalian, hanya saja aku tidak mengerti bagaimana cara menjelaskannya. Aku sendiri masih bingung..” suara Naruto merendah.

“Pasti tentang gadis Hyuuga itu.”

Ceplosan Sasuke selalu tepat, ya?

Naruto mendelik, ia melemparkan pandangan kesal pada Sasuke.

“Apa Hinata sudah mengetahuinya, Naruto?” Sakura bertanya.

“T-tau apa Sakura-chan?”

Sakura memijit keningnya, bahkan disaat seperti ini pun Naruto masih tetap menyebalkan.

“Tentu saja tentang perasaanmu padanya..”

“P-perasaan apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti..” gagap Naruto muncul lagi.

“Oh ayolah Naruto. Tidak ada gunanya menutup-nutupi hal yang sebenarnya. Lebih baik kau jujur, kau menyukai Hinata kan?”

Pemuda berambut kuning yang persis seperti ayahnya itu tidak segera menjawab. Ia memandang Sakura sejenak, lalu berpindah pada Sasuke. Seakan ia bisa menemukan jawaban yang kedua sahabatnya itu mau darinya jika memandang mereka dengan seksama.

Naruto menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan.

“Bagaimana kau bisa menyimpullkan seperti itu Sakura-chan?” Naruto malah balik bertanya.

Sakura tersenyum bangga, “Insting wanita..” jawabnya, “..Apa lagi yang bisa disimpulkan dari seorang pemuda yang selalu menghindar dari seorang gadis, tapi pandangannya tidak pernah lepas dari gadis itu?”

Naruto dan Sasuke saling bertatapan mendengar pernyataan Sakura.

“Benarkan, Naruto?” Sakura mengulangi pertanyaannya, karena Naruto tak kunjung menjawab.

“A-aku tidak tau ini apa, tapi setiap kali bertemu dengan Hinata, dadaku terasa sesak. Karena itu aku menghindarinya…”

Sakura tersenyum, lalu memandang pada Sasuke.

Sasuke tidak memberikan ekspresi apa-apa, tapi sesaat kemudian dia mengangguk.

.

.

.

Iklan

When Music is The Reason We’re United (Chapter 4)

musicnotes

Note : Setelah beberapa lama ga update fic yang ini, saya rasa meng-updatenya dengan dua chapter sekaligus mungkin bisa membayarnya. Hoho. Happy reading ^^

Cast : BTS and EXO member

Minggu, jam 9.00

“Yeollie, cepat habiskan makananmu. Ckck, anak ini..” seorang perempuan yang tengah sibuk membersihkan peralatan makan di dapur menggerutu, sesekali menoleh pada meja makan, tempat anaknya sedang sibuk bermain handphone.

Chanyeol tidak menjawab, ia terlalu fokus terhadap benda kecil yang ada ditangannya saat itu. Sang ibu mendekatinya, lalu mengambil benda itu dengan paksa dari genggaman anaknya.

“Kau mau ibu membuang benda ini?” wajah galak sang ibu sudah tertera dengan jelas di hadapan Chanyeol, membuatnya bergidik ngeri.

“I-Iya bu. Aku akan makan, tapi kembalikan handphone-ku..” rengeknya, seperti anak kecil. Wajahnya memelas, minta dikasihani. Oh, manja sekali anak ini.

“Tidak, sebelum kau menghabiskan makananmu. Cepat.” Perintah ibunya dengan tegas. Sepertinya jurus andalan Chanyeol tidak berhasil kali ini, ibunya tidak termakan sedikitpun dengan rayuan wajah ‘minta dikasihani’-nya.

Chanyeol mengangkat sendoknya dengan tangan kanan, dan mencari-cari garpu dengan tangan kiri. Ia mulai menyantap sarapan yang disiapkan oleh ibunya tadi sambil cemberut.

Ibu Chanyeol memperhatikan anaknya makan sambil melipat tangan di dada. Sudah seringkali ia melakukan hal itu, hanya gara-gara Chanyeol yang susah disuruh makan karena terlalu tertarik dengan handphonenya.

Tiba-tiba handphone itu berdering, dengan spontan sang ibu mengangkatnya.

“Halo?” jawabnya. Chanyeol awalnya ingin merebut handphone itu dari tangan ibunya, sayang sekali ia terlalu takut.

“Chanyeol? Kenapa suaramu seperti suara perempuan?” seru seseorang dari seberang. Ia terdengar sangat terkejut.

“Aah, aku ibunya Chanyeol.” Jawab ibunya dengan sangat ramah.

Ohh, maaf bibi.” Kata orang tersebut. “Apa Chanyeol ada, bi?”

Ibu Chanyeol melirik pada anaknya dengan sinis, lalu kembali menjawab dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Chanyeol sedang di kamar mandi. Kalau kau ada pesan, biar aku yang menyampaikan.”

“Ibu jahat!” kata Chanyeol dalam hati. Ia makin cemberut melihat tingkah ibunya yang iseng. Jelas-jelas ia sedang berada dihadapan ibunya sekarang.

“Ohh baiklah. Tolong sampaikan pada Chanyeol, berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Ini keadaan darurat, tolong ya bi.”

“Baiklah, akan aku sampaikan.”

Si Ibu menutup telpon sambil memandang penuh selidik pada putranya. Chanyeol merasa hawa di dapur mulai berubah, siap-siap saja ditanyai yang macam-macam oleh sang ibu.

“Temanmu bilang berkumpul di lapangan sekolah sekarang. Keadaan sedang darurat.  Apa maksudnya?”

Chanyeol mengernyitkan keningnya, menandakan ia juga tidak tahu menahu tentang pesan temannya itu.

“A-aku juga tidak tau, bu.”

“Jangan bohong, Park Chanyeol!” nada suara dari ibunya memang tidak meninggi, tapi penuh dengan penekanan. Astaga, ibu Chanyeol benar-benar menakutkan saat penasaran seperti ini.

“Aku tidak bohong, bu. Percayalah. Yang berbicara dengan temanku tadi kan ibu? Aku saja tidak tahu siapa yang menelpon barusan.”

Kegalakan di wajah sang ibu mulai mengendur. Ia baru sadar, tadi dia tidak melihat pada layar handphone untuk mengetahui siapa yang memanggil anaknya. Dengan cepat, dia membuka benda kecil itu lalu melihat history call.

“Kyungsoo..” gumam ibunya pelan, saat mendapati siapa yang menelpon Chanyeol.

“Kyungsoo? Tumben dia menelpon.” Chanyeol ikut-ikutan bergumam, lebih kepada dirinya sendiri.  Beberapa saat, ia menopang dagu dengan tangannya, lalu matanya membesar seketika. Sepertinya ia sadar akan sesuatu.

“Bu, maaf aku tidak menghabiskan makanannya kali ini. Aku harus cepat—“

Langkahnya terhenti saat ia berjalan melewati ibunya. Bahunya ditangkap dengan lembut oleh tangan wanita itu.

“Kali ini jangan bertindak ceroboh, Chanyeol.” Seru ibunya, lalu tanpa disangka-sangka ia memberikan handphone itu pada Chanyeol. “Hubungi ibu jika ada apa-apa. Mengerti?”

Chanyeol tersenyum tipis, sambil menerima benda itu dari ibunya.

“Tentu saja, bu. Aku pergi.” Ucapnya, melesat dari rumah sederhana itu dengan cepat.

.

.

.

Minggu, satu jam sebelum jam 09.00

Jalanan ramai karena akhir pekan, termasuk taman yang biasa dijadikan tempat berkumpul klub musik Boudan. Terlihat beberapa keluarga dan muda-mudi hilik mudik melewati taman itu. Apalagi sedang musim semi, tentu saja banyak orang yang berpikir untuk menghabiskan akhir pekan bersama orang-orang yang disayangi.

Taehyung dan Jungkook melewati taman itu sambil membawa beberapa kotak nasi. Mereka berjalan berdampingan, sambil memperhatikan keadaan sekeliling.

“Sial! Pagi-pagi begini disuruh membeli makanan. Menganggu tidurku saja.” Dari tadi Taehyung tidak berhenti mengumpat. Ia kesal sudah dibangunkan secara paksa oleh Yoongi melalui panggilan telponnya sampai 12 kali.

Jungkook diam saja. Ia malah memperhatikan orang-orang yang ada di taman sambil celingak-celinguk.

“Hei, kau dengar tidak?” Taehyung makin kesal karena diabaikan.

“Hn..” hanya itu balasan yang diterima oleh Taehyung. Oh, anak ini benar-benar seperti iblis! Pasti itu yang terlintas dipikiran Taehyung.

Taehyung memajukan bibirnya, “Kapan kau akan berubah, Jungkookie? Selalu saja mengabaikanku.”

Seketika Jungkook melirik Taehyung, lalu tersenyum tipis.

“Maaf hyung. Perhatianku terlalu fokus pada mereka.” Jungkook menunjuk menggunakan tangannya pada sebuah keluarga yang sedang duduk di bawah pohon Sakura. Seorang ayah, ibu, dan dua anak laki-laki yang yang berbeda besarnya. Mungkin mereka adalah kakak adik. Mereka terlihat sedang bermain sesuatu, sambil sesekali sang adik memukul kepala kakaknya. Ayah dan ibu mereka tertawa setiap kali sang kakak mengaduh kesakitan. Keluarga itu terlihat bahagia.

Taehyung ikut memperhatikan mereka, tapi ia segera menarik bahu Jungkook dengan spontan.

“Ayo cepat, jangan sampai Yoongi hyung mengamuk lagi.” Serunya. Jungkook yang tidak mengerti dengan tindakan Taehyung hanya menurut saja. Sekilas Jungkook bisa melihat raut wajah Taehyung yang berubah panik.

Tentu saja. Apa yang dilihat Taehyung berbeda dengan apa yang ditunjukkan oleh Jungkook. Ia melihat orang yang beberapa hari lalu mencari masalah dengannya berdiri tidak jauh dari pohon Sakura, tempat keluarga tadi bernaung.

Mereka terus berjalan, makin lama makin cepat. Taehyung mengalihkan pegangannya dari bahu Jungkook ke lengan pemuda itu. Ia menarik lengan anak itu dengan kuat, menyebabkan suatu protes keluar dari mulut Jungkook.

“Hyung, kau kenapa?” Ia menarik lengannya dari genggaman Taehyung, lalu berhenti tiba-tiba.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Kita harus pergi.” Sekarang Taehyung benar-benar panik. Kali ini, ia tidak bisa lagi menutupi rasa cemasnya. Spontan ia menarik tangan Jungkook lagi dengan kuat, lalu berlari secepat yang ia bisa.

“Hyuung—“ Jungkook berteriak, sambil melepaskan cengkraman Taehyung dengan paksa. Raut wajahnya terlihat heran sekaligus marah. Ia tidak mengerti dengan perubahan sikap Taehyung yang tiba-tiba saja seperti orang ketakutan.

Dengan cepat Taehyung menarik Jungkook ke belakang pagar yang ada disekitar mereka. Pagar kayu itu cukup besar, ditumbuhi tanaman menjalar yang rimbun sehingga bisa dipastikan mereka tidak akan kelihatan dari belakang. Taehyung melirik ke kanan dan kekiri, memastikan tidak ada orang selain mereka yang ada disana.

“Dengar baik-baik.” Taehyung berbicara dengan pelan, hampir tidak terdengar, “.. apapun yang terjadi nanti, kau harus lari. Pergi ke tempat Jin hyung, katakan padanya untuk datang kesini. Tapi jangan sampai Yoongi hyung dan Namjoon hyung tau. Kau mengerti?”

Jungkook makin tidak mengerti. Ia tidak mau menuruti begitu saja kata-kata Taehyung kali ini.

“Apa maksudmu, hyung? Apa yang terjadi sebenarnya?”

Taehyung lagi-lagi melirik ke belakang, masih aman.

“Aku melihat Jongdae dan teman-temannya tadi di taman. Mereka pasti membuntuti kita. Aku rasa kita berdua tidak akan bisa lari dari mereka.” Ia menghentikan kalimatnya, lalu menarik nafas dalam-dalam akibat gugup yang sekarang sedang melandanya “..Karena itu, salah satu diantara kita harus memanggil Jin hyung untuk membujuk mereka.  Aku akan mengalihkan perhatian mereka.  Sekarang, pergilah menjemput Jin hyung. Kau mengerti?”

“T-tapi hyung—“

“Cepat lakukan saja apa yang aku katakan, Jeon Jungkook!” Taehyung mendorong Jungkook dengan kasar, membuat Jungkook hampir terjatuh karenanya.

“Untuk kali ini saja, lakukanlah apa yang aku suruh. Aku mohon.”

.

Minggu, jam 09.30

.

BUK!

Kursi usang yang sudah lama terletak di gudang itu patah seketika saat punggung seseorang menimpanya dengan keras. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya yang pecah, ditambah dengan luka memar di pipinya. Pukulan-pukulan yang diterimanya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya hampir tidak sadarkan diri. Lima orang itu masih belum puas melampiaskan emosi mereka padanya. Berkorban itu memang menyakitkan bukan? Tapi setidaknya ia tidak perlu menyesal nantinya jika membiarkan orang yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri terkena imbasnya juga.  Toh anak itu tidak ada hubungannya dengan masalah mereka, dia hanya anak baru yang masuk ke klub musik tanpa tahu apa-apa tentang masa lalu mereka.

“Yaak, Kim Taehyung! Masih belum menyerah?” teriakan Jongdae bergema diseluruh ruangan gelap itu. Bau khas kayu yang sudah lapuk menebar dimana-mana.

Bahkan untuk membalas perkataan Jongdae pun ia tidak bisa, mulutnya sakit saat digerakkan. Pipinya sudah bengkak akibat pukulan bertubi-tubi dari lima orang itu.

Jongdae mendekati Taehyung, menarik rambutnya dengan kasar sambil mendekatkan mukanya pada wajah pemuda dihadapannya.

“Ini akibatnya jika berani berurusan dengan kami.”

Lagi-lagi ia menampar pipi Taehyung, penglihatannya jadi berkunang-kunang. Digenggamnya tangan Jongdae yang sedang mencengkram rambutnya itu perlahan,

“Pukul saja sepuasmu, hyung.” Taehyung tersenyum mengejek, “Aku tidak akan terpancing..”

BRUK!

Cengkraman tangan Jongdae memang sudah lepas dari rambut Taehyung, tapi sasarannya kali ini berpindah ke perutnya. Jongdae berhasil memukul tempat organ pencernaannya itu sampai terasa ngilu.

Ia terbatuk-batuk. Air liurnya terasa asin saat itu, seakan isi perutnya mendesak ingin keluar.

“DIAM!” teriak Jongdae marah. Mukanya sudah merah padam karena emosi.

“Kau hanya iri dengan kami, bukan?”

“Cih!” Jongdae meludah, lalu ia tertawa sinis. “Iri katamu? Untuk apa aku iri pada klub musik seperti kalian? Kalian itu payah, tidak bisa apa-apa. Kemampuan kalian jauh dibawah kami. Seharusnya kau sadar, Taehyung!”

“Ya, kami memang payah. Kemampuan kami masih jauh dibandingkan dengan klub musik Tonan. Tapi satu hal yang perlu kau tau, hyung..” Taehyung kali ini melirik Jongdae dengan tajam, pandangannya saat itu penuh keyakinan dan menantang.  “…Kami selalu bertindak jujur dan sportif!” Taehyung mengangkat kepalanya, ia berdiri perlahan. Senyum sinis masih menghiasi bibirnya kala itu.

“Pemikiran yang bagus, Taehyung-ah!” teriakan seseorang dari luar gudang mengalihkan pandangan mereka semua. Pintu gudang yang tertutup tiba-tiba terbuka perlahan. Cahaya mulai masuk, menyinari ruang gelap itu secara keseluruhan.

Seorang pemuda dan kedua temannya sedang berdiri di depan pintu, ia tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya yang putih.

“Chanyeol-hyung?” gumam Taehyung terkejut. ‘Sial, datang lagi temannya.’ umpat Taehyung dalam hati. Ia yakin, Chanyeol hanya akan memperburuk keadaan.

Chanyeol, Baekhyun, dan Kyungsoo masuk ke dalam gudang. Pintu masih terbuka dengan lebar, tapi sepertinya tidak ada yang berniat untuk menutupnya lagi. Mereka berjalan melewati Jongdae dan suruhannya, lalu membantu Taehyung yang sudah babak belur untuk berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo, ia melilitkan tangan Taehyung ke bahunya sendiri.

Taehyung terpana. Kyungsoo yang dari dulu tidak pernah peduli dengan mereka, sekarang bertindak sok pahlawan? Ia masih ingat saat Jongdae dan kawan-kawannya memukuli klub Boudan, Kyungsoo hanya melihat mereka dari kejauhan. Ia tidak melakukan apapun, bahkan tidak berusaha untuk menghentikan apa yang terjadi saat itu.

“Mana mungkin dia tidak apa-apa, Kyungsoo-ah. Mukanya sudah hancur dipukuli Jongdae.” Chanyeol berbalik, melemparkan pandangan menusuk pada orang yang tadi menganiaya Taehyung.

Jongdae berdesis, “Pikirkan kau sedang berada dipihak siapa, Chanyeol! Kau tau persis, mereka adalah lawan kita. Kenapa kau membantunya?” Suaranya meninggi lagi, tidak berbeda dengan cara bicaranya pada Taehyung barusan.

Raut wajah Chanyeol berubah. Tergurat emosi yang ditahan, namun ia masih sanggup mengendalikannya.

“Mereka memang lawan kita, Jongdae. Tapi kau juga tau persis, mereka lawan kita dibidang musik, bukan fisik!”

Ekspresi wajah Jongdae kali ini sulit ditebak. Ia terdiam seketika.

“Kami sudah membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau, Jongdae-ah. Tapi yang ini sudah keterlaluan.” Kali ini Baekhyun yang berbicara. Nada suaranya datar, tapi jelas sekali penekanan yang dilakukannya di kata ‘keterlaluan’ itu.

“Jadi sekarang kalian menyalahkanku, begitu? Cih! Jangan sok suci, Chanyeol. Kau juga ikut berkelahi waktu itu bukan?”

Deg! Pukulan keras bagai menghantam hatinya saat itu. Chanyeol terhenyuk. Kata-kata Jongdae tepat sasaran, ia kalah telak.

Mereka semua terdiam. Bahkan Baekhyun yang biasanya pintar berbicara pun tidak bisa membalas kata-kata Jongdae barusan.

“Kenapa kalian diam? Baru sadar kalau kalian sama saja denganku, hah? JAWAB!” Sebuah kursi jadi korban lagi, patah tak berbentuk setelah kena tendangan kuat dari Jongdae. Ia mengambil kaki kursi yang patah itu.

Ia melewati Chanyeol, lalu berhenti tepat dihadapan Taehyung dan Kyungsoo. Tangannya melambai, sebentar lagi muka Taehyung akan kena sasaran kemarahan Jongdae lagi.

PLAK!

Tepat! Pukulan keras akibat emosi yang meluap dari Jongdae pas mengenai sasaran. Bahunya bertemu dengan kaki kursi itu, meninggalkan bekas yang cukup kentara karena kotoran kayu itu menempel di bajunya.

“Chanyeol!” Kyungsoo dan Baekhyun berteriak secara bersamaan.

Benar. Chanyeol sekarang berdiri memunggungi Taehyung dan Kyungsoo, bahunya jadi korban. Ia merasakan sakit yang amat sangat mulai menjalar di sekitar bahunya.

“Hyung?” Taehyung sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini. Apakah ini pengaruh pukulan Jongdae yang membuat otaknya tidak berfungsi dengan baik?

Chanyeol melindunginya?

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!” Kyungsoo sekali lagi berteriak. Kali ini penuh dengan kekesalan.

Chanyeol tersenyum miris.

“Jika dengan begini, aku bisa memperbaiki kesalahan yang dulu, aku rela dipukul berapa kalipun.” Ia menoleh pada Taehyung yang sedang menatapnya heran. Ia tersenyum lagi, lalu mengalihkan pandangan pada Jongdae.

Baekhyun mengigit bibirnya, menahan emosi. Apa-apaan sahabatnya ini? Berlagak sok keren seperti itu. Ia tau persis, Chanyeol adalah orang yang baik. Terlalu baik malah. Mungkin Chanyeol akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang tidak pernah ia perbuat dua tahun yang lalu. Tapi kenapa harus melakukannya sampai sejauh itu? Bukan Chanyeol yang seharusnya menanggung hal ini, tapi ‘orang itu’!

PLAK!

Sekali lagi, pukulan itu sekarang mengenai bahu Chanyeol yang sebelahnya. Sudah terlambat, Jongdae mengamuk bak harimau liar. Ia sudah muak dengan tingkah Chanyeol yang berlagak jagoan. Ia mengayunkan kayu itu kesana kemari. Chanyeol meringis kesakitan sambil memegangi bahunya. Namun sepertinya Jongdae tidak akan puas, ia pasti akan melakukannya lagi. Mereka semua panik.

Chanyeol mendorong tubuh Jongdae ke arah dinding. Mereka berdua terpental, Jongdae tertimpa tubuh Chanyeol yang jauh lebih besar darinya.

“Kalian pergi dari sini!” teriaknya masih berusaha menahan Jongdae.

Empat orang teman Jongdae yang lain sepertinya tidak ingin ikut campur lebih jauh, mereka hanya disuruh untuk membuntuti Taehyung. Mereka segera keluar, tanpa mempedulikan Jongdae yang kesakitan karena tubuh Chanyeol.

“Kau bawa dia keluar. Aku akan membantu Chanyeol.” Baekhyun memberikan perintah pada Kyungsoo, dan dituruti oleh pemuda itu. Sementara dia berlari ke arah Chanyeol dan Jongdae yang sedang bergulat.

Baekhyun merebut kayu yang ada di tangan Jongdae dengan paksa. Saat itu gerakan Jongdae berhasil dikunci oleh Chanyeol menggunakan kaki dan tangannya. Meskipun sedang terluka,  Chanyeol tetap lebih unggul dibidang fisik dibanding Jongdae.

“Jangan pernah mendekati mereka lagi, mengerti?!” suara berat Chanyeol bergema di ruangan itu. Jongdae yang tertelungkup dengan tangan terkunci oleh tangan Chanyeol ke belakang punggungnya hanya bergumam tidak jelas.

“Jika kau melakukannya lagi, kubunuh kau!”

BRUK! Tubuh Chanyeol jatuh mencapai tanah.

Pandangannya perlahan-lahan mengabur. Kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang tidak karuan. Semuanya menjadi gelap.

.

.

.

“Taehyung-ah!” Yoongi sudah meledak, ia sudah kehilangan kendali emosinya saat berlari mendekati Taehyung yang duduk sendiri di di tengah lapangan sekolah Tonan. Melihat wajah babak belur sahabatnya itu, Yoongi mendadak berteriak.

“Apa yang ada di otak tumpulmu itu, Kim Taehyung? Kau mau cari mati hah?!” amarah Yoongi sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia benar-benar marah saat mengetahui Taehyung dibuntuti oleh Jongdae, dan bertindak ceroboh dengan mengorbankan dirinya sendiri. Ketika itu Jin, Hoseok, Jimin, Namjoon, dan Jungkook tertinggal dibelakang Yoongi karena pemuda itu sudah berlari duluan mendekati Taehyung.

Jin mengejar Yoongi, ia menepuk pundak pemuda itu pelan.

“Sudahlah Yoongi, kendalikan emosimu.” ucapnya lembut. Ia memperhatikan Taehyung, kondisinya sangat memprihatinkan.

“Bagaimana tidak emosi, hyung! Anak bodoh ini sudah berani bertindak ceroboh. Kalau terjadi apa-apa terhadapnya, bagaimana?” Suara Yoongi masih bernada tinggi, ia terlanjur dibakar oleh amarah meledak-ledak.

Namjoon memandang sekilas pada Taehyung, kemudian mulai menyusuri sekolah. Ia berlari-lari kecil disekitar daerah itu. Entah apa yang ia cari.

Sementara itu Jungkook, Hoseok dan Jimin ikut mendekati Taehyung, jelas sekali tergurat rasa khawatir di wajah mereka masing-masing.

Jin duduk disamping Taehyung yang tidak berani mengucapkan apa-apa. Ia terlalu takut menghadapi kemarahan Yoongi. Ia diam saja.

“Kau baik-baik saja, Taehyung-ah?” Jin memandangi wajah Taehyung. Mulai dari sisi kanan, sampai sisi kiri.

Taehyung mengangguk.

“Katakan, apa Jongdae yang melakukan hal ini padamu?” nada suara Yoongi memang sudah tidak setinggi tadi, tapi masih tersirat amarah dari cara bicaranya. Ia sudah tau siapa pelakunya, hanya saja ia ingin memastikan lagi dari mulut Taehyung.

“Yoongi, tenanglah. Bukan saatnya mempermasalahkan hal itu. Lebih baik sekarang kita bawa Taehyung ke tempat yang lebih aman. Aku khawatir kedatangan kita kesini malah memicu permasalahan yang lebih besar. Kau sadar kan, ini wilayah sekolah Tonan.”

“Benar, hyung. Dari tadi mereka memandangi kita, aku rasa sebentar lagi kita akan diusir dari sini.” Jimin menyetujui saran Jin. Walaupun hari minggu, sekolah masih saja ramai oleh murid-murid yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Semua sekolah sepertinya begitu, bahkan di Boudan Shounen sekalipun.

“Aku tidak peduli. Kali ini Jongdae benar-benar minta dihajar. Persetan dengan hukuman itu. Perbuatannya sudah keterlaluan!” Yoongi dengan cepat berlari dari hadapan mereka, ia tidak mengindahkan lagi saran dari Jin yang terkenal bijaksana.

Jin berdiri seketika, ia menendang tanah bekas ia duduki tadi. Sepertinya perbuatan Yoongi ini telah memicu emosinya pula.

“Sial! Anak itu benar-benar susah diatur.” Jin mengumpat kesal. Baru kali ini ia termakan emosinya sendiri.

“Jungkook dan Jimin, kalian jaga Taehyung disini. Aku dan Hoseok akan menyusul Yoongi. Dan kau Namjoon—“ kata-kata Jin terhenti saat ia sadar Namjoon sudah tidak ada disekitar mereka.

“Kemana Namjoon?” ia melanjutkan kalimatnya. Ia memandang ke sekitar, melirik ke sana dan kemari, namun orang yang dicari tidak ditemukan juga.

“Hyung, sepertinya kita harus cepat-cepat bertindak sebelum mereka berdua mengacaukan keaadaan..” Hoseok yang pintar membaca situasi, segera memberi saran.

“Mereka berdua membuatku geram!” Jin menggemertakkan giginya, tinjunya dikepal kuat-kuat, berusaha menghilangkan rasa marah yang sudah mencapai ubun-ubunnya. Ia segera berlari ke jalan yang dilalui Yoongi tadi, diikuti oleh Hoseok.

Sementara itu, Jungkook dan Jimin berjaga-jaga di samping Taehyung. Belum ada yang berani membuka suara.

“Apa kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan, Jungkookie?” perlahan Taehyung membuka mulutnya. Rasa sakit kembali menjalar di sekitar pipi saat ia menggerakkannya untuk bersuara.

Jungkook menunduk, tidak berani memandang Taehyung. “Aku sudah melakukan apa yang kau suruh hyung. Aku sudah lari, bukan?” gumamnya pelan.

“Bukan yang itu maksudku, anak bodoh! Aku menyuruhmu memanggil Jin hyung SAJA. Lalu kenapa mereka juga ada disini?”

“Apa boleh buat hyung. Jin hyung sedang bersama mereka saat aku datang.”

“Karena itu pakai otakmu, anak muda. Kau bisa mengakalinya, bukan? Lihat apa yang terjadi sekarang. Kita semua pasti tamat.” Taehyung melepaskan nafasnya dengan berat. Mukanya frustasi.

“Maaf, hyung..” terlihat rasa sesal tergambar di wajah Jungkook saat ini. Ia tahu, semua orang sangat mencemaskan Taehyung, karena itu keadaanya menjadi sangat panas. Bahkan Jin yang sulit terpancing sekalipun, telah termakan emosi pula. Mereka semua sedang kehilangan kendali.

“Sudah, jangan memarahi Jungkook. Ini semua bukan salahnya, Taehyung. Ia sudah berusaha menyembunyikan dari kami, tapi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat itu. Akulah yang memberi tahu pada yang lain.” Jimin menghentikan adu mulut itu, ia tidak mau suasana menjadi semakin keruh.

Taehyung memandang sekilas pada Jimin, lalu menunduk. Ia sudah tidak ada tenaga untuk bertengkar.

“Aku hanya tidak habis pikir, kenapa orang itu melindungiku.” Taehyung bergumam, hampir tidak terdengar.

“Orang itu?” Jungkook yang duduk lebih dekat dengan Taehyung sepertinya mendengar gumaman itu dengan jelas.

Taehyung mengangguk.

“Kakakmu, Jungkookie. Park Chanyeol.”

‘PARK?’

Jungkook terkesiap tidak percaya. Dua kenyataan yang diterimanya saat ini. Dua kenyataan yang bisa memberikan respon bertentangan terhadapnya..

Bagaimana mungkin, orang yang paling dibencinya rela melindungi Taehyung yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri? Sebodoh itukah Chanyeol mengorbankan diri untuk lawannya sendiri?

Kemudian, yang lebih mengejutkannya adalah nama keluarga yang digunakannya.

Park? Sejak kapan Chanyeol merubah nama depannya jadi nama depan yang sama seperti ibunya? Apakah Chanyeol benar-benar ingin menghapus semua yang berhubungan dengan dirinya dan ayah mereka?

Rasa dendam dan benci sepertinya lebih kuat menguasai perasaan anak itu sekarang, menelan semua pengorbanan yang telah dilakukan Chanyeol terhadap Taehyung…